Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 77



"Aku mau berhenti kuliah aja deh, Rik."


"Dasar bocah sengklek. Kenapa tiba-tiba ngomong gitu?" tanya Rika sembari mengetik tugas dari pak Ilham.


"My honey bunny Verza mau ngelamar aku." Jeni seperti terpekik saking senangnya.


"Serius?!"


Jeni mengangguk sembari menunjukkan cincin emas dijari manisnya.


"Semalam dia ngajak aku makan ditempat romantis banget, terus dia ngasih ini deh." Sekali lagi ia mengangkat tangan kirinya.


"Baguslah, Jen. Itu berarti dokter Verza memang serius sama kamu. Tapi, jangan putus kuliah lah, rugi tau." Rika menepuk bahu sahabatnya itu.


"Iya, Rikaaaa... Aku juga mau kali punya titel dibelakang nama."


"Oh ya, gimana kabar kak Adit di Vietnam?" tambahnya.


Rika hanya menghela napas. Ia tak tau harus bercerita dari mana. Sikap Adit yang akhir-akhir ini berubah.


"Kenapa?" tanya Jeni.


"Minggu pertama dia disana, komunikasi kami masih lancar. Tapi minggu terakhir ini, ia sudah jarang menghubungiku. Apa mungkin dia melupakanku?" Rika menunduk.


"Mungkin dia sibuk kali disana."


Rika hanya tersenyum palsu, mengangguk membenarkan ucapan sahabatnya itu. Saat ini ia enggan membahas tentang Adit. Ia tak tau apa yang sedang Adit lakukan disana.


"Jadi kapan?"


"Apa?"


"Lamaran kalian."


"Belum, kok, Rik. Untuk resminya kami belum menentukan tanggal." ucap Jeni.


***


Entah kena angin apa dan kemasukan jin mana, Fina sudah bangun pagi-pagi sekali. Ia sudah berada didapur dengan celemek berwarna merah, menuangkan semangkuk nasi putih ke wajan. Rasa ingin memberikan sarapan pagi untuk Sandi tiba-tiba saja ada dibenaknya. Pelan-pelan ia menaruh dua potong tomat dan timun didalam kotak nasi berwarna kuning cerah itu. Ia juga menaruh telur dadar dengan sangat rapih. Ini adalah hal yang belum pernah ia lakukan untuk siapapun sebelumnya. Sandi yang pertama.


Fina memang hobi memasak dari kecil. Ia sangat menyukai eksperimen membuat menu baru. Tapi ia tak meneruskan bakatnya, karna tidak ada satupun keluarga yang mendukung ataupun menyemangati apapun yang ia lakukan. Terutama sang papa. Walaupun ia mempunyai sifat yang keras kepala dan bandel. Ia selalu menyimpan rasa sakit hati terhadap papanya, ia selalu menangis saat hendak tidur. Selama ini ia tak pernah mendapat perlakuan baik dari papanya. Ia pikir Adit adalah pria yang bisa menggantikan posisi papanya, tapi ternyata ia salah. Entah kenapa harapan muncul saat Sandi datang ke kehidupannya.


Fina sudah rapih dengan dress maroon selutut. Tak lupa ia juga menenteng kotak nasi berwarna kuning cerah yang berisi nasi gorang rasa cinta buatannya. Sandi yang sudah menunggunya di gerbangpun setengah menganga melihat kecatikan majikannnya itu.


Kenapa pagi ini dia keluar dengan senyum cerah seperti itu? Aneh.


Sandi segera membukakan pintu mobil untuk Fina. Tapi Fina menolak, ia ingin duduk didepan, disamping Sandi.


"Kenapa duduk disini, Non?" tanya Sandi pelan, ia juga sudah menyiapkan mental jika disembur oleh Fina.


"Kenapa? Terserah, dong, aku mau duduk dimana."


"Iya, Non, maaf. Biasanya Non Fina paling anti duduk didepan."


"Berisik, ah, ayo jalan!" Sebenarnya Fina menyimpan rasa gemetar dan bingung bagaiman caranya memberikan nasi goreng itu. Selama perjalan ia hanya memikirkan kata-kata yang pas untuk diucapkan pada Sandi.


Setelah sampai dikantor, Fina masih diam didalam mobil, ia sengaja datang lebih pagi. Biar bisa menemani Sandi sarapan nasi goreng buatannya.


"Untukmu." Fina menyodorkan kotak nasi berwarna kuning cerah itu.


"Buat saya?" ucap Sandi heran.


"Iyalah, masak buat pak satpam."


"Makasih, Non." Sandi mengambil kotak nasi itu dari tangan Fina.


Kenapa wanita ini? Sandi tak langsung membuka kotak nasi itu.


"Kenapa tidak dimakan? Kamu takut aku kasih racun, ya?"


Sandi menyuap nasi itu pelan, merasakan masakan percobaan yang dibuat oleh gadis cantik disampingnya ini.


"Gimana? Enak? Aku sendiri loh yang masak."


"Enak, Non." ucap Sandi tersenyum. Ternyata dibalik sikap Fina yang kolokan dan egois ia punya sisi kedewasaan di dirinya.


"Kenapa Non Fina tidak masuk?" tanya Sandi.


"Aku mau nemenin kamu sarapan dulu, nanti kamu buang nasi gorengnya."


Sumpah, aku sangat curiga dengan sikap Fina pagi ini.


"Kamu risih banget ya sama keberadaan aku?"


"Sama sekali tidak, kok, Non."


Dengan cepat Sandi menghabiskan nasi goreng itu. Agar ia terhindar dari majikannya yang mungkin saat ini sedang dimasuki oleh jin baik, pikirnya.


Fina memandangi Sandi yang sedang lahap menyantap nasi goreng itu. Hingga si empunya tersedak. Makan sambil diperhatikan oleh gadis cantik seperti Fina membuat Sandi menjadi salah tingkah.


"Ini minumlah." Fina menyodorkan sebotol air mineral.


"Sandi... Nanti sore, temani aku ke taman kota, ya." Fina memegang tangan Sandi.


"I...iya, Non." Aneh, biasanya Fina tak pernah meminta selembut ini.


Sudah pukul empat sore, Fina keluar dari kantor. Ia segera mengajak Sandi ke taman kota. Setelah sampai disana, mereka duduk dikursi taman.


"Sandi, tolong belikan aku es krim yang disana, ya. Dua."


"Baik, Non."


Sandi memberikan es krim itu pada Fina. Ia sekalian membukakannya untuk Fina.


"Makasih, ya." ucap Fina tersenyum.


Tiba-tiba Fina meneteskan air matanya, mengingat kelakuan papanya selama ini. Tadi malam, ia juga tak melihat batang hidung pak Bima.


"Tadi malam... Papa tidak pulang, aku heran sama kelakuan papa, selama ini aku belum pernah merasakan hangatnya pelukan maupun perhatian dari papa."


"Entah kenapa, akhir-akhir ini aku sering kepikiran itu." tambahnya.


"Sabar, Non. Pak Bima pasti sangat sayang sama anaknya. Hanya mungkin Pak Bima sibuk dengan pekerjaannya." ucap Sandi.


"Kamu tidak mengerti, Sandi. Sebagai perempuan... Aku juga ingin bermanja dengan seorang papa. Kak Firhan juga jarang memperhatikanku."


"Non Fina jangan sedih, ya. Jangan nangis lagi. Lihat es krimnya meleleh."


"Dasar, berarti kamu cuma perhatian sama es krim ku saja, ya." Fina mengoleskan es krim itu ke pipi Sandi.


"Kenapa diolesin ke pipi saya, ntar saya jadi tambah manis, loh." ucap Sandi tersenyum.


Fina tergelak mendengar ucapan Sandi.


"Ternyata kamu orangnya kePDan juga, ya."


Baru kali ini Sandi melihat Fina tertawa lepas. Selama ini, ia hanya melihat wajah ketus Fina.


Tiba-tiba Sandi mengusap air mata Fina. Entah kenapa, ia tak tega melihat majikannya ini bersedih seperti tadi.


"Maaf, Non." Sandi buru-buru mengambil tangannya yang sudah lancang.


Fina hanya tersenyum. Ia sama sekali tidak marah, malah merasa nyaman. Ia juga mengusap wajah Sandi yang kotor oleh es krim.


"Makasih, ya sudah mau mendengar curhatanku."


Sandi mengangguk. Kapanpun, aku pasti akan siap mendengar curhatanmu.