Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 76



Sandi sudah membawa buah-buahan yang ia beli dipinggir jalan tadi. Hari ini ia akan menepati janjinya pada Rika. Ia juga sangat merindukan nasi gemuk buatan Bu Nur.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..." Bu Nur sangat terkejut saat melihat pria berpostur tubuh tinggi didepannya. Pria ini sangat tak asing baginya, pria yang dulu selalu menjaga anaknya.


"Nak Sandi! Ayo masuk. Ya ampun... Kamu apa kabarnya?" Bu Nur menepuk pundak cowok manis itu.


"Alhamdulillah baik, Bik. Sandi kangen banget sama nasi gemuk buatan Bibik." Sandi menyalami wanita paruh baya itu.


"Oh jadi cuma kangen sama nasi gemuknya aja, ya?" goda Bu Nur.


"Kangen sama Bibik juga dong." ucap Sandi tersenyum.


Setelah lima belas menit mereka berbincang, Bu Nur pun membuatkan dua piring nasi gemuk untuk Sandi dan Rika.


"Gimana kabar ibumu dikampung, San?" tanya Bu Nur sembari meletakkan dua piring nasi gemuk.


"Begitulah, Bik. Ibu udah gak kuat lagi ke sawah, kadang asam uratnya kambuh. Jadi sekarang ibu cuma nanam sayur disamping rumah." jelas Sandi.


"Oh gitu... Samalah, San. Bibik juga kalau disuruh bersawah udah gak kuat lagi. Makanya mau fokus jualan nasi gemuk aja. Sasa sama Sirli gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah baik juga, Bik. Cuma ya gitulah, anak ABG jaman sekarang banyak maunya. Masih SMA udah minta ini itu."


Bu Nur hanya terkekeh mendengar curhatan Sandi. Ia sangat kagum dengan jiwa pekerja keras Sandi yang sekarang menjadi tulang punggung keluarga, membiayai dua orang adik yang masih sekolah. Ayahnya sudah meninggal saat ia kelas tiga SMA dulu.


"Oh ya, Bik. Dimana si gembul?" tanya Sandi, ia memang selalu mengejek Rika dengan panggilan si gembul. Karna dulu waktu SD, Rika sangat gemuk sekali.


"Lagi mandi, pasti dia terkejut sekali melihat kedatangan kamu."


"Kita sudah ketemu beberapa waktu lalu, Bik. Makanya Sandi tau alamat rumah Bibik." Sandi terkekeh.


"Wah... Si jangkung udah datang ya." saut Rika yang baru saja keluar dari kamarnya. Ia memang selalu menjuluki Sandi si jangkung.


Mereka makan bersama, suasana seperti ini sudah lama tak dirasakan Bu Nur dan Rika saat dikampung. Dulu mereka selalu makan bersama, Bu Nur sudah menganggap Sandi seperti anak sendiri. Sandi juga sangat baik pada Rika.


Rika dan Sandi berpamitan pada Bu Nur, mereka akan pergi ke taman kota. Sandi ingin banyak bercerita dengan Rika.


"Si gembul udah punya pacar belum?" tanya Sandi sembari membuka cemilan yang sudah mereka beli di minimarket tadi.


"Emm..."


"Hmm... Aku sudah tau jawabannya." Sandi terkekeh melihat raut wajah Rika yang malu-malu.


"Apaan sih, Kak!" Rika menepuk bahu pria bermata sipit itu.


"Iyaaa... Aku sudah punya pacar. Seniorku dikampus dulu, namanya Adit. Serasa mimpi aku bisa pacaran sama dia. Soalnya, dia anak orang kaya dan ganteng pula." papar Rika.


"Mungkin dia khilaf." Sandi terkekeh lagi.


"Sejelek itu, ya?" ucap Rika cemberut.


"Ya enggak lah, kamu itu makin gede makin cantik tau." puji Sandi, kali ini ucapannya tak bohong. Saat ia bertemu Rika ditaman waktu makan bakso, ia pangling melihat gadis gembul yang imut dulu, sekarang sudah tumbuh menjadi gadis cantik dan manis.


"Sejak kapan seorang Sandi Rukmana pinter ngegombal." ledek Rika. Ia tau persis sifat Sandi. Sejak dulu Sandi tak pernah mendekati perempuan.


"Aku serius, gembul." ucap Sandi tersenyum.


"Hmm... Oh ya, Kak Sandi jadi supir siapa? Tante-tante atau aki-aki?"


"Enak aja, bukanlah. Kalo aki-aki mantan majikanku yang dulu." ucap Sandi terkekeh.


"Namanya Fina, dia kerja dikantor Vareplint Tekstil. Aku ditugaskan sama Bu Elvi mamanya Fina buat jadi supir pribadinya."


"Kenapa?"


"Fina itu seniorku dikampus, Kak. Dia kerja diperusahaan pacarku."


"Oh, ya?"


Rika mengangguk dan meggigit bibir bawahnya. "Dulu... Dia selalu mengejekku dikampus, apalagi semenjak dia tau aku pacaran sama kak Adit, dia makin membenciku dan berusaha merebut kak Adit dariku."


"Ya ampun..." Sandi tak habis pikir dengan kelakuan Fina.


"Sebenarnya aku gak betah kerja disana, jadi supirnya serasa jadi tawanan. Aku seperti dipenjara. Aku bertahan karna gajinya yang lumayan besar, dan juga aku belum mendapat pekerjaan baru." terang Sandi.


"Tahan aja, Kak. Siapa tau kalian cinlok." ucap Rika diiringi tawa.


Sandi hanya tersenyum mendengar ucapan Rika, sepertinya apa yang Rika bilang memang benar. Ia memang sudah jatuh hati pada majikan mudanya itu. Tapi dia sadar siapa dirinya.


"Kamu kuliah sambil kerja, ya?"


Rika mengangguk.


"Kerja dimana?"


"Supermarket Enjoymart."


"Ada lowongan gak untukku? Terserah deh jadi apa."


"Ya ampun si jangkung, sampe segitunya buat ngehindarin Kak Fina. Entar jatuh cinta baru tau rasa." Rika tergelak.


"Aku seriussss, Cecem." Padahal dalam hati kecilnya memang sudah jatuh cinta pada Fina.


"Gak ada, Kak. Lagipula gajinya kecil, mending kerja dengan Kak Fina. Dia tuh sebenarnya baik kok."


Sandi mengangguk, sebenarnya Fina memang orang baik. Tapi karna sikap papanya lah yang membuat dia jadi seperti itu.


***


Rika termenung didalam kamarnya. Heran, beberapa hari ini Adit jarang menghubunginya. Bahkan saat Rika menelpon beberapakali, Adit tak pernah mengangkatnya. Rika selalu mengirim WA untuk Adit. Tapi kadang tak dibalas juga. Rasa curiga sudah menghampiri benaknya.


"Apa Kak Adit sudah lupa sama aku? Mungkin aku ini tidak penting baginya." gumam Rika.


Adit memang sangat sibuk dengan pekerjaannya. Tapi disela kesibukannya, beberapa hari ini ia menemani Melodi jalan-jalan sekeliling kota Hanoi. Melodi yang minta, karna sebelum Adit pulang ia ingin ada kenangan indah bersama Adit.


"Perasaanku masih sama seperti dulu, Dit."


Adit hanya tersenyum. Melodi gadis yang cantik, kenapa masih saja menunggunya. Memang dulu Melodi selalu baik padanya, sampai Adit juga merasa nyaman didekat gadis berkulit putih itu. Sepertinya rasa nyaman itu sekarang masih terasa. Saat ia bersama Melodi, seolah ia lupa segalanya. Bahkan melupakan gadia lugunya.


"Aku seneng banget bisa ketemu kamu lagi, setelah bertahun-tahun tidak melihat wajahmu."


"Aku juga, Melo." ucap Adit tersenyum.


"Kamu ingat tidak waktu kita nonton bioskop salah tempat duduk." ucap Melodi tergelak mengingat kejadian beberapa tahun lalu.


"Hahaha... Masih ingat aja kamu. Salah kamu sih, siapa suruh masuk studionya telat." Jarang sekali Adit bisa tertawa lepas seperti ini. Melodi memang selalu membuatnya tersenyum lebar.


Sudah dua minggu Adit di Vietnam, dan seminggu terakhir ini ia selalu bersama Melodi. Ia bahkan lupa mengabari sang kekasih. Minggu depan ia akan meninggalkan kota penuh sejarah ini. Entah kenapa, rasanya berat sekali untuk berpisah dengan Melodi untuk kedua kalinya.


Kak Adit, sudah tidur ya? Kenapa tidak balas WA dariku? Ya sudah, selamat malam, Kak.


"Gadis luguku..."