Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 5



Seperti mimpi rasanya Rika bisa duduk berdampingan dengan Adit.


"Habis beli es krim?" tanya Adit.


"Iya Kak, Kakak mau? Biar kupanggilkan bapak yang tadi." ucap Rika menawarkan Adit.


"Tidak terima kasih, aku tidak suka yang dingin-dingin." ucap Adit.


"Tidak suka dingin tapi sikapmu dingin Kak." bisik Rika.


"Kamu bilang apa? lihat es krim mu meleleh, cepat habiskan." ucap Adit lagi.


"Eh... iya Kak, aku masih gak nyangka aja bisa duduk di dekat Kakak." ucap Rika sambil menghabiskan es krim nya.


"Memangnya aku artis." jawab Adit datar sambil memandangi awan.


Hari semakin mendung gelap sekali dan mulai gerimis spontan saja Rika berlari ketempat yang teduh, tapi Rika melihat Adit yang tidak beranjak dari tempat duduk itu. Rika pun berbalik.


"Kenapa masih disini Kak? Ayo kita berteduh." ucap Rika mengajak Adit, tapi dia hanya diam dan kedinginan. Rika melihat muka Adit yang mulai pucat dan bibir manis nya berubah menjadi biru.


"Kakak kenapa?" tanya Rika memegang pundak Adit.


"Aku... Aku dingin." jawabnya menggigil.


"Ayo Kak aku bantu, biar Kakak gak tambah sakit kita pergi ke tempat yang teduh. Rika membantu Adit berjalan, sesampainya di tempat itu Adit langsung memegang tangan Rika.


"Aku pinjam tanganmu." ucap Adit lemah.


jantung Rika langsung berdegup kencang, ia tak pernah membayangkan hari ini bisa bertemu Adit dan sekarang Adit memegang tangannya.


"Aku benci hujan, saat hujan aku akan menjadi lemah tak berdaya, dingin sekali seperti salju. aku sangat kedinginan." ucap Adit dan langsung memeluk Rika.


"Sekarang aku pinjam tubuhmu, hujan ini lama sekali reda." gumam Adit. Rika tak kalah gemetarnya dari Adit.


"Hmm... Lalu kapan kakak akan pulih?" tanya Rika. Masih dalam pelukan Adit.


"Setelah hujan reda, itu pun masih dingin sekali kadang merasa pusing." jawab Adit.


"Baiklah, setelah hujan reda Aku akan mengantar Kakak pulang. Setengah jam berlalu, hujanpun mulai reda, Rika mengambil sepeda motor Adit.


"Terima kasih Rika." ucap Adit senyum. merekapun melaju dengan sepeda motor Adit. Setelah memasuki komplek rumah Adit Rika bertanya pada Adit.


"Rumah Kakak yang mana? Rumah disini bagus-bagus sekali." ucap Rika kagum.


"Itu yang cat nya warna putih." tunjuk Adit.


"Tapi ini rata-rata putih Kak." ucap Rika bingung.


"Yang paling ujung Rika." jawab Adit. merekapun sampai di rumah Adit. Rika membantu Adit untuk masuk kerumahnya.


"Wah Rumah kakak besar sekali." ucap Rika kagum.


"Ini rumah orangtuaku." ucap Adit. Tiba-tiba Adit memegang tangan Rika.


"Terima kasih atas semuanya Rika." ucap Adit.


"I... iya Kak sama-sama, mau kubuatkan makanan? Biar aku buatkan Kak." Rika menawarkan diri.


"Apa tidak merepotkan? sebenarnya aku memang lapar sekali." ucap Adit.


"Tidak kok kak, dimana dapurnya? Makak mau makan apa?" tanya Rika.


"Mie instan saja Rika, itu disebelah kiri dapurnya. Kamu juga pasti lapar, biar kita sama-sama makannya disini." pinta Adit.


"Iya baik Kak." jawab Rika lalu menuju kedapur. Setelah memasak, Rika membawa dua mangkuk mie instan itu ke meja makan, Rika memberikan mie instan itu kepada Adit. Rikapun memanggil Adit.


"Kak mie instan nya udah siap, ayo makan Kak." ucap Rika mengajak Adit.


"Terima kasih Rika, kamu juga makan ya."


mereka pun memakan mie instan itu, tiba-tiba Adit memegang bibir Rika, Rika tersedak dengan perlakuan Adit padanya. Sejak tadi Rika memandangi Adit.


"Kamu makannya belepotan Rika, ini minumlah." Adit memberi air putih untuk Rika.


"Gakpapa Kak, apa Kakak tidak malu berteman denganku?" tanya Rika.


"Tidak ada alasan untuk malu atau membenci orang baik sepertimu." ucap Adit datar, Rika pun menunduk ia masih tak percaya apakah ini nyata atau sekedar mimpi indah. Setelah mereka menghabiskan mie instannya, Rika mencuci mangkuk mereka berdua. Rika pamit pulang, ia sudah memesan ojek online.