
Tokk...tokk...
Rika mengetuk pintu rumah Adit, ia berniat memberikan nasi gemuk pada Adit dan orangtuanya, ia berharap weekend seperti ini orangtua Adit pulang untuk melepas rindu dengan anak semata wayangnya itu.
"Eh... Ada Nak Rika, pasti mau menemui Adit ya?" Bik Eli melirik Rika dengan senyum meledek.
"Iya Bik, mama sama papanya Kak Adit ada Bik? Mau ngasih ini. " tanya Rika dengan penuh harap, entah kenapa ia ingin sekali bertemu dengan orangtua Adit.
"Masuk dulu Nak, mereka jarang pulang Nak Rika, meskipun libur begini mereka juga sangat sibuk, biasanya dua minggu sekali mereka pulang untuk melihat kondisi Nak Adit." ucap Bik Eli sembari berjalan menuju ruang tamu bersama Rika. Rika hanya mengangguk lalu duduk di sofa yang nyaman itu.
"Nak Adit nampaknya sedang mandi, dia habis lari pagi." ucap Bik Eli.
"Bibik buatkan minum dulu ya untuk, Nak Rika." tambah Bik Eli.
"Ah. Tidak usah repot-repot, Bik." Ucap Rika merasa sungkan, ia selalu di perlakukan sangat baik di rumah ini.
"Hanya minum saja kok, sebentar ya." ucap Bik Eli berlalu meninggalkan Rika di ruang tamu.
Bik Eli membawakan teh panas ke ruang tamu dan juga pisang goreng yang baru saja matang.
"Hari ini memang jadwalnya bu Niken dan pak Arsan pulang sih Nak, tapi katanya ada urusan mendadak, tidak jadi deh." ucap Bik Eli sembari meletakkan makanan di meja.
Rika terbelalak mendengar nama pasangan itu.
"Si...siapa, Bik?" Rika seketika menjadi gagap, jelas ia mendengar ucapan Bik Eli barusan, tapi ia sangat terkejut mendengar nama itu.
"Itu papa-mamanya Nak Adit." ucap Bik Eli santai. Sontak saja Rika berdiri dan hendak keluar dari rumah mewah itu.
"Loh... Kenapa, Nak Rika?" tanya Bik Eli bingung. Adit turun dari tangga dengan memakai jeans biru cerah dan kaos bertuliskan the bettles band kesukaannya itu, ia melihat Rika berdiri di ruang tamu.
"Sudah datang, mana pesananku?" tanya Adit yang sedang memegangi perutnya, ia memang menunggu kedatangan Rika dengan nasi gemuk pesanannya. Padahal di rumah itu sudah tersedia begitu banyak makanan yang bisa ia santap. Rika hanya terdiam tak menggubris omongan Adit. Ia menggenggam erat nasi yang di pegangnya sejak tadi.
"Hey?" Adit melambaikan tangannya di depan wajah Rika.
"Rika, kamu kenapa?" Adit sangat kebingungan.
"Nak Adit, Bibik kedapur dulu ya."
"Iya, Bik." jawab Adit singkat.
"Kak Adit... Boleh aku bertanya sesuatu?" Rika menahan emosinya.
"Ada apa?" tanya Adit yang semakin bingung.
"Siapa nama orangtua Kakak?" tanya Rika, ia tak berhenti menatap wajah Adit.
Mendengar pertanyaan itu, Adit langsung tersentak, apa Rika sudah mengetahui semuanya? Adit tak menjawab pertanyaan Rika.
"Jawab Kak Adit!" ucap Rika dengan nada tinggi.
"Rika... Aku minta maaf." Adit menundukkan kepalanya.
"Jadi benar... Kakak yang menabrak Ayahku? Dan waktu ditaman Kakak sudah tau bahwa aku adalah anak dari orang yang sudah Kakak hilangkan nyawanya!" emosi Rika tak tertahan lagi, air matanya tak terasa sudah mengalir deras.
"Maafkan aku Rika, waktu itu aku... aku salah, Rika" ucap Adit mengusap wajahnya.
"Maafkan aku, Rika..." Adit menahan air matanya, baru saja ia mendapatkan hidup baru dan penuh warna bersama Rika, kini ia merasakan sakit untuk kedua kalinya setelah kecelakaan di masalalu.
"Aku tidak akan memaafkan orang yang tidak bertanggung jawab seperti kamu." ucap Rika menunujuk wajah Adit lalu pergi dengan perasaan aneh, sekarang ia sangat membenci Adit, tapi dibalik kebencian itu bercampur rasa sedih dan sayang, kenapa harus Adit orangnya, orang yang selalu menyemangatinya.
***
"Ibu..." Rika berteriak dari kejauhan, ia langsung memeluk ibunya yang sedang mencuci piring kotor di dapur.
"Ada apa Nak?" tanya Bu Nur seketika itu juga menghentikan aktifitasnya.
"Kenapa dunia ini sangat sempit, Bu." Rika tak bisa menyeka air matanya.
"Kak Adit, Bu..." tambah Rika.
"Kenapa Adit?" tanya Bu Nur yang kian penasaran.
"Kak Adit yang sudah menabrak ayah dulu, ternyata pak Arsan dan bu Niken itu adalah orangtuanya." ucap Rika lalu menghapus air matanya yang terus mengalir. Bu Nur terdiam, ternyata benar dugaannya selama ini.
"Sayang... Ibu mohon sama kamu, kamu jangan membenci Adit ya, dia seperti itu pasti ada alasannya." ucap Bu Nur lalu mengelus rambut anaknya itu.
Mana mungkin aku membencinya, aku sangat mencintainya, batin Rika.
"Tapi, Bu..."
"Nak, ayahmu dulu tidak pernah mengajarkan kamu untuk menjadi seorang pembenci, biar bagaimanapun orang memperlakukan kita, balaslah dengan kebaikan." ucap Bu Nur menasehati anaknya itu.
"Iya, Bu... Tapi aku akan menjauhi Kak Adit." ucap Rika sesegukan.
"Ibu paham, Nak." ucal Bu Nur sembari mengelus pipi mungil Rika.
"Jangan nangis lagi ya, ayah tidak suka melihat anaknya cengeng seperti ini." ucap Bu Nur tersenyum menghibur anaknya.
***
Adit mondar-mandir di balkon rumahnya, ia sangat geliasah, ia tak tau apa yang harus dilakukan saat ini, sesekali ia mengusap wajahnya dengan gusar.
"Apa aku harus kerumah Rika?" Adit bertanya pada dirinya sendiri.
Tidak mungkin disaat situasi seperti ini Adit datang kerumah Rika, yang ada malah di usir.
saat ini melihat muka Adit saja Rika serasa muak sekali.
Tepat pukul sembilan malam, Adit membaringkan tubuhnya di kasur, ia tak bisa tidur tenang malam ini karna masalah yang sangat rumit ini. Andai saja Rika mau mendengarkan penjelasan Adit tadi pagi, mungkin hatinya akan luluh walaupun tidak sepenuhnya.
Adit mencoba mengingat kejadian Lima tahun lalu, di saat hujan deras ia melajukan mobilnya dengan kecepatan agak tinggi, di kejauhan tampak seorang pria paruh baya sedang menggayuh sepeda berlawanan arah dengannya. Tiba-tiba sudah terdengar suara yang sangat mengerikan, Adit menghentikan mobilnya secara cepat tapi setirnya berbelok ke arah pohon besar di pinggir jalan itu, hingga kaca mobilnya pecah, dan kepingan itu tertancap di perut bagian kanannya, tangan kirinya pun robek, ia harus dilarikan ke rumah sakit di Singapura untuk penanganan yang lebih baik.
Adit membuyarkan lamunannya, ia lalu mengambil ponselnya dan mencoba menguhubungi gadis lugunya itu. Tapi sayang sudah lima kali ia menelpon tak ada jawaban dari Rika.
"Andai saja kamu mau mendengarkan aku dulu... Sayang." ucap Adit, matanya memerah seperti hendak mengeluarkan cairan bening.
Di kamar, Rika tidak memejamkan matanya, ia masih terbayang wajah tampan Adit, perlakuan romantis Adit padanya, tapi kenapa akhirnya jadi seperti ini, jujur Rika tak bisa membenci orang yang sangat di kaguminya itu.