
"Aku keluar dari grup ini, Kak. Terima kasih atas bimbingannya selama ini." Rika menundukkan kepalanya pada Ferdi, sang ketua Street Photograph.
"Sebenarnya keputusanmu ini sangat disayangkan, Rik. Tapi aku juga tidak bisa memaksa." ucap Ferdi.
"Maafkan aku, Kak."
"Tidak apa-apa." Ferdi menepuk bahu gadis berambut hitam lurus itu.
Rika mendudukkan dirinya dikursi taman kampus. Ia tak sanggup lagi rasanya memegang kamera pemberian Adit itu. Kenangan manis selalu tersimpan dimemori kamera itu.
Aku perlu bicara denganmu. Kita ketemu di kafe Mersi.
Notifikasi WA dari Fina membuat Rika bingung, untuk apa Fina ingin menemuinya. Mereka bertemu di kafe Mersi.
"Ada apa, Kak?"
"Duduklah."
"Aku cuma mau tanya, apa hubunganmu dengan Sandi?" Fina ingin memastikan kalau tidak ada apa-apa diantara mereka.
"Kami cuma teman, kok. Dulu waktu kecil, ibu selalu menitipkan aku pada kak Sandi. jelas Rika.
"Baguslah."
"Kak Fina tak perlu khawatir denganku, aku tau Kakak menyukai kak Sandi, kan."
Ucapan Rika membuat Fina jadi salah tingkah sendiri.
"Jangan menyiksanya terus, Kak. Kak Sandi memang orang yang sabar. Tapi kalau lama-lama disakiti, ia juga tak tahan."
Fina terdiam, ia sadar selama ini Sandi sangat tersiksa bekerja dengannya. Keegoisannya membuat orang lain sengsara. Ia berjanji tidak akan menyakiti pria yang ia cintai itu.
***
Fina membongkar lemari besar dikamarnya. Entah kenapa, hari ini ia sangat bingung me-mix and match baju. Semua terasa tidak cocok, baru kali ini ia merasa gugup. Akhirnya ia memilih memakai dress biru yang dipadukan dengan jaket levis senada. Ia juga menata rambut lurus pirang itu dengan sangat rapih.
Sandi yang menunggu diluar, iaq juga merasakan apa yang dirasakan Fina. Tidak seperti biasanya, hanya ada rasa mengeluh saat bertemu Fina, takut jika Fina menyuruhnya melakukan hal yang tak masuk akal. Tapi kali ini rasanya beda, ia merasa bersalah sudah lancang menarik Fina kepelukannya kemarin.
"Ayo jalan."
"Eh, iya, Non."
Kenapa wanita ini menjadi sangat cantik.
"Non Fina... Saya minta maaf atas kejadian kemarin." ucap Sandi saat menghentikan mobilnya tepat diparkiran kantor.
"Sudahlah, lupakan."
"Jadi apa keputusanmu, mau mengundurkan diri jadi supirku?" tanya Fina.
Tapi Sandi tak menjawab pertanyaan Fina. Ia juga bingung, keputusan ini sangat berat baginya.
"Kalau mau resain, dari sekarang aja."
"Yang benar, Non?" tanya Sandi.
Dasar gak peka! Fina membuka seat belt-nya dengan kasar. Sandi memang cowok yang tak bisa menelisik perasaan seorang wanita.
"Ini kenapa keras sekali, kamu gak servis mobil ini, ya?" Fina menatap Sandi tajam.
"Biar saya bantu buka, Non." Sandi mencoba membuka seat belt Fina. Mereka saling menatap. Tak bisa dipungkiri, Sandi sudah jatuh hati pada majikannya ini.
Pukul dua siang, Sandi berjalan menuju warteg yang ada didepan kantor Adit. Makan siangpun tak selera. Hatinya sudah mengalahkan logika kalau ia sangat tak pantas untuk Fina. Tak terasa setelah pusing memikirkan keputusan yang berat itu, Fina sudah keluar kantor.
"Non, Saya..."
"Sudahlah, Sandi. Aku tau apa yang ingin kamu katakan. Pergilah jika kamu memilih bekerja di pabrik es krim itu. Mungkin ini jadi hari terakhir kita bertemu."
"Sekarang... Aku tak punya teman lagi, sendiri seperti biasa." tambahnya.
"Non Fina... Aku tak akan mengambil pekerjaan itu, aku akan selalu berada disisi Non Fina." ucap Sandi. Ia merasa keputusan ini sudah tepat, walaupun ia tak tau akan bagaimana kedepannya nanti.
Fina langsung mendekap tubuh pria manis itu.
"Terima kasih, Sandi. Jujur, aku sangat takut kehilangan kamu, jangan pernah tinggalkan aku. Aku mohon."
Sandi mengangguk, ini seperti bukan supir dan majikan. Melainkan seperti sepasang kekasih. Mesra sekali.
Sandi berjanji akan menjaga Fina sepenuh hatinya, walaupun belum tentu Fina menjadi jodohnya nanti.
***
Rika terbaring dikasurnya. Memikirkan kisah cintanya yang begitu rumit dan menyedihkan. Ia terbayang Jeni yang sudah bahagia dengan dokted Verza. Fina juga sudah melabuhkan hatinya pada Sandi teman lamanya. Sedangkan dia mengakhiri hubungannya dengan Adit. Sepertinya ia memang harus fokus dengan kuliahnya saja.
Rika melihat foto-foto kenangannya bersama Adit dulu. Ingin sekali ia menghapus semua kenangan itu, tapi tangannya kelu. Ia masih sangat menyayangi Adit.
Setelah beberapa hari, Adit sama sekali tak ada menghubunginya. Secepat itukah Adit melupakannya? Sungguh, ini membuat Rika semakin sakit hati. Yang biasanya setiap malam seperti ini, Adit selalu memberikan ucapan yang membuatnya insomnia mendadak. Apalagi diluar sedang hujan deras, pasti Adit akan menasehati Rika supaya cepat tidur. Ah! Sekali lagi, ini sungguh menyakitkan hatinya.
Kak Adit sedang apa?
"Aku sedang memikirkanmu, Rika. Pasti kamu sedang menikmati hujan, kan dibalik jendela kamarmu. Aku juga, Rika." gumam Adit yang duduk disamping jendela kamarnya. Ia tak peduli betapa dinginnya malam ini.
Adit memegang cincin emas yang dibelinya di Vietnam itu, cincin itu hanya mengingatkannya pada Melodi yang telah menghancurkan rencana indahnya. Bukan. Bukan melodi yang menghancurkan semuanya, melainkan dirinya sendiri. Dialah yang menghancurkan rencananya sendiri.
"Maafkan aku, Rika..."
***
"Kalian gimana, sih? Kenapa barang-barang kita bisa salah kirim semua?" Adit membentak seluruh kariawan saat meeting pagi.
"Kalau begini kita bisa rugi besar!" Adit mengusap wajahnya gusar. Bagaimana ia akan menjelaskan kesalahan ini pada Pak Arsan. Kenapa ia bisa tidak becus seperti ini.
"Kalian ini bukan anak baru kemarin bekerja diperusahaan ini, kenapa bisa seceroboh ini? Kalau begini bakal repot mengurusnya." Wajah kesal tak bisa ia sembunyikannya lagi.
"Karin, susun ulang pengirimannya. Sisanya biar saya yang urus." Adit memerintah Karin, kepala bagian pemasaran.
"Baik, Pak." ucap Karin menunduk.
Ini sangat memusingkan. Ia harus mengurus semuanya dari awal. Menelpon konsumen satu per satu agar tidak pindah membeli bahan kain dari pabrik lain. Ia juga harus mengurus ganti rugi dan sebagainya.
"Kenapa bisa seperti ini, Fin?"
"Aku juga tidak tau, Dit. Kemarin aku kasih jadwal yang benar, kok sama Karin." ucap Fina.
Adit menghela napasnya, memegang kepala yang tiba-tiba merasa pusing. Mungkin butuh beberapa hari untuk menyelesaikan kesalahan ini.
"Kirim ulang semuanya padaku. Biar aku cek lagi. Seharusnya mereka lebih teliti lagi."
Fina segera mengirimkan berkas itu ke email Adit.
Adit termenung saat menyetir, ia selalu memikirkan bagaimana caranya menarik pelanggan lagi. Perusahaannya mengalami kerugian yang lumayan besar.