Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 62



Bukan kali ini saja Adit sama sekali tak mengabari Rika. Sampai Rika terlelap pun, Adit tak juga menghubunginya, WA yang dikirim Rikapun tidak dibacanya. Sesibuk itukah orang kantoran?


Pagi-pagi sekali, Rika sudah bersiap untuk pergi ke kampus. Sesekali ia melirik ponselnya, tiba-tiba ada WA dari Adit. Rika senang bukan kepalang. Tapi saat membuka WA itu, ia tertunduk lemas.


Maaf, seharian kemarin aku sibuk sekali. Hari ini aku juga belum bisa mengantarmu.


Lagi? Rika langsung melajukan motornya. Hari ini masih ada ujian dengan bu Risma, untungnya hari ini ujian terkhir. Besok ia akan libur satu minggu. Baguslah, ia punya banyak waktu untuk istirahat. Tapi malah Adit yang tidak ada waktu untuknya.


Sesampainya di kampus, ia dipanggil seseorang.


"Rika!"


"Eh, Kak Ferdi. Ada apa?"


"Gini, foto yang kemarin kirim saja ke e-mailku ya. Biar aku review. Kamu bisa lihat di bolg kita, hasil foto siapa yang akan dipakai."


"Baik, Kak. Terima kasih infonya." Rika menunduk.


"Iya. Kalau bisa, nanti siang langsung dikirim ya." ucap Ferdi.


"Oke." ucap Rika tersenyum.


Aneh, kenapa Ferdi harus menemuinya langsung. Padahal mereka punya grup WA. Semenjak masuk klub fotografer, Rika jadi mudah punya teman. Ternyata dibangku kuliah, tidak semenyeramkan dibangku SMP dulu. Buktinya, Ferdi bersikap sangat baik padanya.


Rika duduk di kursi taman, kali ini ia bersama Jeni. Rika sedang mengirim foto-foto yang kemarin.


"Calon fotografer, kayaknya sibuk banget."


"Apaan sih, Jen. Ini kak Ferdi, nyuruh ngirim ke e-mailnya."


"Kalau dilihat-lihat, kak Ferdi tuh ganteng juga ya, kumisnya ituloh yang menggoda, kayak vokalisnya Sheila On 7." ucap Jeni.


Rika hanya menggeleng, ia masih menyimpan ucapan Jeni yang bilang kalau cuma dokter Verza yang ganteng dimatanya saat ini.


"Gantengan mana sama dokter Verza?"


"Jelas, dokter Verza dong. Aku sih lebih suka cowok berlesung pipi." ucap Jeni.


"Penggila Afgan." Rika meledek sahabatnya itu.


"Beberapa hari ini, aku lihat kamu selalu berangkat sendiri. Kak Adit mana?" tanya Jeni penasaran.


"Akhir-akhir ini, dia sangat sibuk, Jen. Kamipun sudah jarang komunikasi. Apa orang kantoran sesibuk itu ya, Jen. Sampai lupa sama pacar."


"Gak juga sih, Rik." ucap Jeni.


"Mana sekretarisnya Fina lagi." ucap Rika menunduk, ia merasa tidak baik-baik saja saat ini.


"Serius? Kalau gitu, kamu harus sering main ke kantor Adit, Rik." usul Jeni. Ucapan Jeni ada benarnya juga. Mumpung besok libur, tidak ada salahnya ke kantor Adit, sekalian membawakan makan siang.


***


Hari ini Rika agak sedikit lega, karna sementara terlepas dari tugas kampus. Ia bisa membantu ibunya diwarung. Siang ini, ia berniat untuk membawakan Adit nasi gemuk kesukaannya.


Sementara Jeni sudah berlayar ke pulau Berhala bersama sang kekasih. Mereka pergi untuk tiga hari. Ia sempat mengajak Rika, tapi Rika menolak. Karna ia harus kerja.


"Bu, Rika nanti mau ke kantor kak Adit ya." ucap Rika saat mengambi lap untuk meja.


"Iya. Tapi ingat, pulangnya jangan kesorean." ucap Bu Nur sembari mencuci piring kotor.


"Siap, Bu."


Rika sudah berdiri didepan cermin kamarnya, mempercantik diri sedikit tak ada salahnya. Maklum, mau bertemu sang kekasih. Ia sudah menyiapkan rantang mini berwarna biru muda, berisi nasi gemuk kesukaan Adit.


Saat sampai di kantor yang cukup megah itu, Rika di cegat oleh seorang satpam. Ia diintrogasi.


"Bukan, Pak. Mau ngantar ini, buat Kak Adit." Rika mengangkat rantang berwarna biru muda itu.


Satpam itu memperbolehkan Rika masuk, karna ia pikir, Adit memesan makanan katering siang ini. Saat Rika masuk, ia dihadapkan pertanyaan lagi di meja resepsionis.


"Mau cari siapa ya?" tanya perempuan cantik yang berdiri dibalik meja itu.


"Ruangan Kak Adit dimana? Mau ngantar ini." Rika kembali menunjuk rantang, seperti menunjukkan ke satpam tadi.


Lagi. Resepsionis itu dengan mudahnya menunjukkan ruangan Adit, karna pikirannya sama dengan pak satpam. Tukang katering, pikirnya.


Rika memasuki ruangan yang berkelas VIP itu, ia meliha dibalik pintu kaca. Fina sedang menyuapi Adit.


"Aku bisa makan sendiri, Fin."


"Biar kamu gak telat makan, Dit." ucap Fina memaksa.


Rika menggeram, ia tak mengetuk pintu lagi. Adit tersentak melihat Rika sudah berdiri di ambang pintu. Rika mendekati Adit.


"Kak Adit, aku bawakan makan siang untuk Kakak." ucap Rika, ia tak menghiraukan Fina lagi disitu.


"Kenapa tidak bilang kalau mau kesini?" tanya Adit.


"Kita makannya diluar saja ya, Kak." Rika mengalihkan pembicaraan. Ia ingin bertemu empat mata saja dengan sang pacar.


Adit menuruti Rika, ia menggenggam tangan Rika, meninggalkan Fina sendirian. Fina yang juga kesal karna diganggu oleh kedatangan Rika, lalu juga meninggalkan ruangan Adit.


Semua mata tertuju pada Rika, melihat Adit yang menggenggam tangan Rika. Sekali lagi, mereka berpikir Rika diusir Adit, karna sembarangan masuk keruangan bos besar.


Adit mengajak Rika ke taman dekat kantor. Ia melihat Rika hanya memegangi rantang itu.


"Makanannya untukku, kan?" tanya Adit pelan.


"Ternyata seperti itu kelakuan Kak Adit dibelakangku."


"Aku tidak melakukan apa-apa, Fina yang selalu bersikap begitu padaku." jelas Adit.


"Tadi aku melihat kalian suap-suapan. Aku tidak tau dibelakangku Fina melakukan yang lain." ucap Rika menatap Adit. "Kak Adit kan sudah punya aku. Aku yang hanya nyanyi dan makan sama teman kampus Kakak marah. Tapi Kakak berduaan sama Fina..." Belum selesai ia menggerutu, Adit tiba-tiba melayangkan ciuman dipipi kirinya. Membuat Rika kehilangan ucapan yang akan ia lanjutkan tadi.


"Cemburu, ya." ucap Adit tersenyum.


"Apaan sih, Kak." ucap Rika masih memegangi pipi kirinya yang baru disentuh bibir lembut pria tampannya.


"Kenapa tidak bilang kalau mau kesini?" Adit sudah bertanya itu dua kali.


"Biar apa? Biar tidak ke gep kalau lagi beruduan seperti tadi?" ucap Rika cemberut.


"Bukan gitu, pikiranmu tentangku gak ada yang positif ya." ucap Adit tersenyum.


"Aku janji, tidak akan tergoda dengan Fina." ucap Adit mengelus rambut Rika.


"Kamu bawa apa? Pasti nasi gemuk buatan camer. Ayo buka, aku lapar nih." tambahnya.


"Tadi kan sudah kenyang disuapi sama kak Fina."


"Ya sudah, aku kedalam lagi deh. Mau disuapin Fina." goda Adit. Rika buru-buru memegang tangan Adit.


"Aku pulang saja kalau gitu." Rika sangat kesal dibuat Adit hari ini. Tapi Adit memeluknya dari belakang, aroma vanila itu sungguh membuat Rika tak berkutik.


"Aku bercanda, sekarang Ayo suapi aku." Adit melepaskan pelukannya.


Rika membuka rantang biru muda itu. Setelah dua kejadian tak terduga tadi, semoga saja tangannya kuat menyuapi pria menawan ini.