
Adit sedang duduk diruangan Pak Darma. Ia tampak mempesona dengan balutan kemeja putih polos dan jeans hitam, saat seperti ini pun wajah ganteng itu selalu menghipnotis. Jantungnya deg-deg ser, menunggu dosen pembimbingnya datang. Ia sesekali menundukkan kepalanya, mengingat apa-apa saja yang ia hapal semalam.
Pak Darma memasuki ruangan. Ia sudah siap memberikan peluru-peluru tajamnya pada Adit. Sebelumnya, Pak Darma mempersilahkan Adit untuk menjelaskan skripsinya terlebih dahulu. Adit bisa bernapas lega, akhirnya setelah dua jam di ruangan itu, dengan segudang pertanyaan yang lumayan memusingkan kepala. Walaupun gugup, Adit selalu lancar menjawab pertanyan-pertanyaan itu.
"Skripsimu tidak diragukan lagi." Pak Darma menyalami Adit. Ia tampak sangat bangga dengan Mahasiswanya yang satu ini.
"Terima kasih, Pak." Adit menunduk hormat.
Adit keluar dari ruangan Pak Darma dengan senyum lega, akhirnya perjungannya selama ini telah terbayarkan sempurna. Terlebih saat ia menemukan gadis yang mengubah hidupnya saat ini.
***
Rika duduk di taman, tempat ia dan Adit duduk biasanya. Rika membuka laptopnya, sebenarnya ia tak tau harus membuat apa di laptopnya. Padahal tugas dari Pak Ilham sudah menantinya. Sampai seseorang mengejutkannya.
"Woi, Rik!"
Rika menoleh ke arah yang memanggilnya, ia menghela napasnya. Sahabatnya itu selalu mengejutkannya, ia melihat Jeni membawa dua botol minuman jeruk ditangannya, dan mengulurkan satu botol pada Rika.
"Lagi ngerjain tugas dari Pak Ilham ya? Sekalian lah, bantu aku." ucap Jeni lalu duduk di samping Rika.
"Belum kukerjakan." ucap Rika lalu meminum air jeruk itu.
"Jadi ngapain dari tadi di sini?"
"Tidak ada." jawab Rika lalu menutup laptopnya. Membuat Jeni heran, ternyata dari tadi sahabatnya itu hanya memandangai layar walpaper laptop.
"Hari ini Kak Adit lagi sidang skripsi."
"Terus?"
"Ya... Tidak ada sih, cuma ikut deg-degan aja." ucap Rika lalu menoleh Jeni tersenyum.
"Ih dasar bucin." Jeni menatap Rika. Geli.
"Dokter Verza gimana?" Rika melirik sahabatnya itu.
"Lancar dong." Jeni memejamkan matanya, ia membayangkan wajah ganteng Dokter Verza saat video call tadi malam. Hubungannya dengan dokter Verza kini semakin dekat. Sepertinya sahabat barbar-nya itu sudah menetapkan hatinya, setelah berkelana mencari cinta. Rika hanya menggeleng, Jeni lebih bucin darinya.
***
"Gimana tadi Kak?" Rika menoleh Adit yang sedang fokus menyetir.
"Alhamdulillah, lancar." ucap Adit tersenyum.
Rika membalas senyum sang pujaan hatinya itu, ia juga ikut senang mendengarnya. Sesampainya di supermarket, Rika tidak langsung turun, ia menyuruh Adit menunggunya sebentar. Rika dengan cepat masuk kedalam supermarket, ia membeli keripik kentang dan keluar menuju mobil Adit lagi. Rika menyodorkan keripik kentang pada Adit.
"Apa ini?" tanya Adit heran.
"Ini hadiah, untuk Kakak." ucap Rika tersenyum. "Ini keripik kentang kesukaan Kakak, sebagai tanda selamat dariku." senyumnya makin melebar.
"Terima kasih." Adit mengambil keripik kentang itu. Mungkin ia tidak akan memakannya, melainkan akan di pajang didinding kamarnya. Agar bisa dinikmati setiap hendak tidur. "Ini hadiah paling istimewa." Adit mengukir senyumnya.
Adit melajukan mobilnya meninggalkan supermarket, bibirnya tak henti tersenyum. Keripik kentang yang di berikan Rika, tak lepas dari pangkuannya. Hadiah sederhana ini terasa sangat berharga.
***
Pak Arsan dan Bu Niken sedang duduk di ruang tengah, mereka sedang menunggu kedatangan anak semata wayangnya. Sepasang suami istri itu memang sengaja tak mengabari Adit, kalau mereka pulang hari ini.
"Ma, Pa. Kapan pulang?" tanya Adit yang terkejut melihat orangtuanya sudah berada dirumah tanpa mengabarinya.
"Alhamdulillah, lancar Ma. Bulan depan Adit wisuda." ucap Adit tersenyum pada kedua orangtuanya.
"Baguslah Nak. Papa kesini ingin membicarakan sesuatu sama kamu." ucap Pak Arsan yang sedang duduk di sofa.
"Duduklah Nak. Mama mau masak untuk kita makan malam nanti." Bu Niken meninggalkan dua laki-laki jagoannya itu.
Adit mengangguk, ia memang sudah lama tak menyantap masakan Mamanya itu, sup ayam kesukaannya akan tersedia hari ini. Rasa rindunya akan terobati.
"Ada apa, Pa?" tanya Adit lalu duduk di samping Pak Arsan.
"Begini, Dit. Sebentar lagi kan kamu wisuda. Kamu sudah siap memimpin perusahaan Papa?"
"Iya, Pa. Adit akan berusaha sebaik mungkin."
"Baguslah, sekarang kamu sudah banyak berubah." Pak Arsan menepuk pundak anaknya itu.
Adit memang sudah banyak berubah, karna dulu ia tak pernah memikirkan untuk jadi pemimpin perusahaan seperti apa yang Papanya pinta. Dulu ia bersikeras ingin membuka usaha sendiri, atau bekerja di perusahaan lain. Ia berniat untuk berkarir sendiri. Tapi setelah melihat perjuangan Pak Arsan, ia menjadi paham dengan apa yang diinginkan Papanya, lagipula ia adalah anak tunggal. Kalau bukan dia, siapa lagi yang akan meneruskan perusahaan Papanya itu. Ia tak perlu belajar dengan orang lain lagi, karna Papanya juga orang hebat dimatanya.
Bu Niken dan Bik Eli sudah menyiapkan makan malam. Adit dan Pak Arsan sudah duduk di meja makan, mereka sudah tidak sabar ingin melahap masakan Bu Niken.
"Nanti Adit izin pergi sebentar ya, Ma." ucap Adit lalu menyuap nasinya.
"Kemana?" tanya Bu Niken heran.
"Mau jemput Rika di supermarket."
"Ehem. Hati-hati anak orang, jangan sampai lecet." Pak Arsan meledek Adit. Anaknya ternyata sudah menemukan tambatan hati.
"Salam ya buat calon menantu Mama."
Ucapan Bu Niken membuat Adit tersedak, orangtuanya kompak sekali meledek.
Adit mengambil kunci mobil diruang tengah, ia hendak menjemput Rika, tiba-tiba Bu Niken muncul di hadapannya.
"Hmm... Senangnya mau jemput pacar." Bu Nike meledek Adit lagi.
"Apaan sih, Ma." ucap Adit tersenyum malu.
"Ma..." Adit memegang tangan wanita di depannya itu. "Sepertinya, Adit sudah sangat yakin dengan Rika. Adit berharap, Mama sama Papa selalu mendukung Adit."
"Iya, Sayang. Pasti." Bu Niken memeluk anaknya itu. Ia sangat senang, Adit perlahan bangkit dari keterpurukan masalalunya. Adit yang dulu selalu murung, tapi sekarang ia seperti mendapatkan semangat hidup kembali.
Rika sudah menunggu di depan supermarket, ia melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, tak lama mobil Adit sampai di depan supermarket. Rika buru-buru mendekati mobil Adit. Ia segera masuk kedalam. Entah kenapa, kepalanya terasa berat, pekerjaannya di supermarket tadi sangat melelahkan.
"Kenapa?" tanya Adit.
"Tidak apa-apa Kak, kepalaku agak sedikit pusing." Rika memegangi kepalanya. Pusing sekali.
"Pasti kamu kelelahan. Apa perlu kerumah sakit?"
"Tidak usah Kak, ini pusing biasa kok. kita pulang saja." ucap Rika tersenyum. Adit begitu peduli padannya.
"Tidurlah, nanti biar kubangunkan kalau sudah sampai."
Rika pun menuruti ucapan Adit, ia menjatuhkan kepalanya ke bahu kekasihnya itu. Sepertinya, ia tak perlu minum obat lagi. Karna, senderan ternyaman ini lah menjadi obat ampuh baginya.