Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 39



Adit sudah ada di depan rumah Rika, menunggu gadis lugunya itu keluar dari rumah. Rika berpamitan dengan Ibunya, ia juga sudah membantu Ibunya subuh-subuh sekali. Adit berdiri dengan Jeans hitam dan hoodie berwarna abu-abu, pas sekali dengan badan Adit yang tinggi dan tegap. Level ketampanan pria itu meningkat berkali-kali lipat di mata Rika pagi ini. Merekapun berangkat ke kampus. Di dalam mobil, Rika sedang memainkan ponselnya, ia ada janji bertemu dengan Jeni pagi ini. Mereka berencana makan cilok di depan kampus, jadwal kelasnya memang kosong pagi ini.


"Lagi WA siapa?" tanya Adit hati-hati. Sebenarnya ia sungkan untuk menanyakan ini, tapi rasa penasarannya sangat kuat.


"Jeni."


"Aku dicuekin nih." ucap Adit lalu pura-pura cemberut di depan Rika.


"Eh bukan gitu Kak Adit, aku ada janji sama Jeni pagi ini mau makan..." Rika tak melanjutkan ucapannya.


"Makan apa?" tanya Adit.


"Makan cilok." ucap Rika tersenyum, lucu sekali seperti anak kecil. Adit hanya tertawa kecil.


"Kenapa tertawa?" tanya Rika heran.


"Kamu bikin gemes." ucap Adit lalu mencubit pipi chubby gadis lugunya itu.


"Aww... Sakit Kak Adit! akan kubalas." ucap Rika.


"Balas saja."


"Tidak jadi, tidak tega." ucap Rika tersenyum.


"Sekarang sudah pintar ya." ucap Adit balas senyum, makin hari ia merasa makin menyayangi Rika, ia berjanji pada dirinya sendiri akan menjadikan Rika perempuan pendampingnya kemanapun, menjaga anak-anaknya nanti. Pulang di satu rumah yang sama. Ah betapa indahnya.


Sepertinya kali ini, ia memang serius dengan janjinya, ia akan membahagiakan wanita yang ia cintai, membahagiakannya, mencintainya dengan tulus, Rika adalah pilihan yang tepat baginya, walaupun ini akan lebih sulit dari yang ia bayangkan, begitupun Rika. Apalagi dengan mental Rika yang mudah goyah, karna sudah disakiti berkali-kali di masalalu. Ia akan meyakinkan gadis lugunya itu bahwa ia tak akan pernah meninggalkannya. Adit juga berjanji akan mengganti peran ayah Rika, karna ia yang telah merenggut kebahagian Rika yang harus kehilangan ayah disaat ia sedang sangat membutuhkan peran itu.


Adit berdo'a agar semua janji-janji yang ia ucapkan dalam hatinya bisa ia tepati.


"Nanti istirahat aku mau ketemu Fina di perpustakaan, mau nyelesain skripsi."


"Oh iya ,Kak Adit." ucap Rika santai, ia tak seditkit pun pasang wajah cemburu.


"Gitu aja?" tanya Adit heran.


"Terus."


"Kamu ikut saja nanti temani aku." ucap Adit.


"Nggak usah Kak Adit, aku percaya penuh sama Kakak, semangat ngerjain skripsinya." ucap Rik mengepalkan tangannya lalu tersenyum.


"Terima kasih, gadis luguku." ucap Adit tersenyum, itulah yang ia suka dari Rika, keluguannya.


"Nanti beliin aku cilok juga ya." ucap Adit.


"Memangnya Kakak juga suka cilok?" tanya Rika heran, apa iya Adit benar-benar suka dengan jajanan itu?.


"Suka."


Mereka pun berpisah di halaman kampus, Rika berjalan ke arah mobil bewarna kuning cerah di bawah pohon, tak lain adalah mobil sahabatnya. Jeni sudah menunggu sekitar sepuluh menit. Ia sudah tak sabar untuk makan cilok terenak seantero kampus Street. Cilok favorit anak kampus.


"Sudah lama?" tanya Rika.


"Lumayan."


"Serius?"


"Bercanda haha... Baru kok. Ayo Rik, aku sudah laper nih, kayaknya aku ngidam deh." ucap Jeni yang sembarang bicara.


"Dasar!" Rika menepuk bahu sahabatnya itu.


Semenjak berteman dengan Rika, Jeni jadi tau arti kesederhanaan. Berbeda dengan gaya hidupnya dulu yang selalu bermewah, foya-foya dengan teman SMA nya, untuk makan cilok seperti ini saja ia merasa gengsi. Tanpa ia sadari Rika sudah membawa pengaruh baik untuknya.


"Rik, kamu tau tidak tempat jual vitamin buat jaga stamina gitu." tanya Jeni.


"Buat apa?"


"Buatku lah, biar gak lemes." ucap jeni.


"Ada di dekat rumahku, namanya dokter Verza" ucap Rika, dokter Verza memang sekaligus menjual obat-obat juga, jika warga butuh mendadak, dia bisa membantu.


"Nanti temani aku ya." ucap Jeni.


"Boleh, tapi jangan lama-lama." ucap Rika, ia harus bekerja sore ini.


"Siap boss!" Jeni tegap dengan sikap hormat layaknya upacara bendera. Rika sudah mengabari Adit, ia terpaksa tidak jadi membelikan Adit cilok karna ia harus menemani Jeni, Adit pun tak keberatan. Ia tak bisa mengekang Rika.


***


"Nah ini Jen, Rumahnya dokter Verza." ucap Rika lalu memberi salam, dokter Verza pun menjawab dengan ramah.


"Ada apa ya?" tanya Dokter Verza.


"Ini Dok, teman saya mau beli vitamin sama Dokter." ucap Rika mewakili sahabatnya itu, Jeni masih tak mengedipkan mata melihat dokter Verza yang sangat tampan menurutnya. Ia bagaikan bertemu pangerannya siang ini.


"Boleh, vitamin apa?"


"Emm itu Dok, mau....mau beli vitamin biar badan gak cepat capek." ucap Jeni gugup di tanya sang pangerannya.


"Kok gugup sih, Jen?" bisik Rika.


"Ganteng bangeett." Jeni balik membisikkan sahabatnya itu. Rika hanya menggelengkan kepalanya, sahabatnya yang satu ini memang tidak bisa lihat yang bening dikit.


"Sebentar, saya ambilkan dulu." ucap Dokter Verza tersenyum, ramah sekali. Ia lalu membuka laci obatnya dan memberikan vitaminnya kepada Jeni.


"Terima kasih, Dok. Emm Dokter kenalin aku Jeni." Jeni megulurkan tangannya tanpa malu-malu.


"Verza." Dokter Verza menyambut tangan Jeni dengan hangat.


"Namanya keren, sama seperti orangnya." Jeni berusaha menggombali Dokter Verza.


"Haha, bisa saja kamu" wajah Dokter Verza tampak merah di gombali gadis yang satu ini.


"Kalau vitaminnya habis, aku bolehkan kesini lagi?" tanya Jeni.


"Oh tentu, Jeni" ucap Dokter Verza tersenyum manis pada Jeni.


Jeni lalu mengantar Rika ke supemarket, ia harus membayar karna Rika sudah mempertemukannya dengan Dokter Verza.


"Rik, Dokter Verza ganteng banget ya." ucap Jeni yang masih membayangkan wajah Dokter Verza.


"Cie...cie, ada yang jatuh cintah nih." ledek Rika.


"Kenapa kamu gak ngenalinnya dari dulu sih, Rik." ucap Jeni sangat bersemangat.


"Jadi pilihan kamu sudah mantap sama Dokter Verza, gimana kalau dia sudah punya pacar?"


"Pokoknya maju terus pantang mundur." ucap Jeni. Mereka berdua pun tertawa bersama, Rika sangat senang kalau tertawa bersama seperti ini, ia benar-benar menemukan sahabat yang tulus, yang menerima dia apa adanya, tidak merendahkan seperti teman-temannya yang dulu. Jeni tak pernah sedikitpun menyinggung persaannya selama berteman, walau persahabatan mereka baru seumur jagung.


Setelah mengantar Rika, Jeni langsung pulang, wajah manis dokter Verza masih terngiang-ngiang di pikirannya. Sepertinya ia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan dokter muda itu. Begitupun dengan dokter Verza, ia merasa ada rasa yang berbeda dengan Jeni. Dokter Verza berharap Jeni benar-benar datang lagi ke rumahnya.