
"Mau kuantar kedalam?" tanya Adit sembari membukakan pintu mobil untuk Rika.
"Tidak usah Kak, sudah enakan kok." Rika keluar dari mobil. Pusing seperti ini sudah biasa baginya. Paling juga kelelahan ataupun telat makan tadi.
Adit pulang dengan perasaan resah dihatinya, ia mengkhawatirkan keadaan gadis lugunya. Mungkin terdengar berlebihan, tapi itulah kenyataannya. Rasa sayangnya terhadap Rika, semakin hari semakin bertambah. Ia yakin, Rika adalah perempuan terakhir yang mengisi hatinya.
Pak Arsan dan Bu Niken sudah tidur jam segini. Besok mereka sudah akan berangkat ke Palembang lagi. Cuma malam ini ia bisa makan bersama, waktu bersama keluarga memang sangat jarang dirasakan Adit. Tapi biar begitu, ia selalu mendapat support dari kedua orangtuanya.
Adit sudah membawa koper berwarna biru muda milik Mamanya, pagi ini orangtuanya akan terbang ke Palembang. Adit memeluk Pak Arsan dan Bu Niken, ia ingin merasakan hangatnya pelukan itu sekali lagi. Sorot mata Pak Arsan menancap tajam ke matanya, seolah mengisyaratkan bahwa ia patut diandalkan nantinya. Walau sikap pria paruh baya itu tegas, tapi hatinya selalu lembut pada orang yang ia sayangi. Ia tau sekali cara mendidik anak semata wayangnya itu.
"Ingat kata-kata Papa ya, Nak." Pak Arsan menepuk pundak Adit.
"Iya Pa. Adit akan berusaha, doakan Adit juga supaya semua berjalan lancar." Adit memeluk sekali lagi pria yang sangat ia sayangi itu.
"Selalu."
"Salam ya buat Rika." ucap Bu Niken tersenyum.
Adit hanya mengangguk, ia pasti akan menyampaikan salam itu pada gadis lugunya.
***
"Dapat salam dari camer." Adit menoleh Rika yang sedang duduk kaku menghadap jalanan.
"Hah?" Rika sontak saja menoleh. Siapa yang Adit maksud? Apa Bu Niken. "Memangnya Mamanya Kak Adit kapan pulang?" tanya Rika.
"Kemarin." jawab Adit.
"Kenapa tidak bilang? Kan aku bisa kerumah Kakak. Memberikan nasi gemuk buatan Ibu." ucap Rika menunduk. Agak kesal.
Adit menoleh Rika, seantusias itukah gadis lugunya ini? Ia sangat senang mendengarnya.
"Gadis luguku ternyata pintar juga mengambil hati camer nya." ucap Adit meledek.
"Apaan sih Kak Adit." Rika menunduk malu, bisa -bisanya ia berkata seperti tadi.
Rasa ingin menjalin hubungan erat dengan keluarga Adit terbesit di benak Rika. Bukan ingin mengambil hati orangtua Adit. Tapi, mungkin rasa sayangnya pada Adit lah yang membuat ia ingin melakukan itu.
***
Fina memegangi kepalanya, pusing sekali. Tugas skripsinya harus direvisi ulang. Dari kemarin ia mencari Adit, tapi tidak ketemu juga. Ia ingin meminta bantuan Adit, walau ini yang terakhir kalinya ia rela. Tiba-tiba ia tersenyum lega, melihat sosok pria tampan berkemaja hitam kotak-kotak menghampirinya.
"Ada apa, Fin?" tanya Adit lalu duduk di samping Fina.
"Dit, aku mohon sama kamu kali ini saja. Bantu aku menyelesaikan skripsiku." ucap Fina memegang tangan Adit.
"Memangnya belum selesai?" Adit menyerngit, kenapa belum selesai? Padahal teringatnya ia sudah membayar orang untuk mengerjakan skripsinya.
"Harus direvisi ulang, Dit. Aku mohon bantu aku kali ini saja." Fina hampir berlutut mengahadap Adit, tapi ditahan oleh Adit.
"Baik, aku bantu." Adit memegang pundak Fina. Biar bagaimanapun, Fina adalah teman lamanya, keluarga Fina juga kolega Papanya. Ia harus membantu Fina.
Mereka pergi ke perpustakaan berdua. Kali ini, Fina tidak mencari kesempatan. Ia memang butuh bantuan Adit, tapi kebaikan pria bertubuh tinggi itu membuatnya terasa nyaman sekali. Rasa ingin memilki, kembali menyelimuti pikirannya. Wajah tampan itu, memang selalu membuatnya terpana.
"Memangnya kamu bayar siapa untuk bikin skripsi ini?" tanya adit menoleh Fina, sontak saja ia terkejut, wajah Fina dekat sekali. Fina buru-buru menjauhkan wajahnya dari Adit.
"Senior kita dulu, dia juga lulusan kampus ini."
"Berapa kamu membayarnya?" tanya Adit lagi.
"Lumayan mahal, Dit. Tapi hasilnya mengecewakan." ucap Fina menunduk. Ia menyesal suda membayar Rio.
"Kenapa tidak kasih tau aku dulu, kamu ini dari dulu memang selalu gegabah." ucap Adit lalu membuka buku-buku yang ia ambil dari rak perpustakaan.
Fina hanya senyum mendengar ucapan Adit. Ternyata, Adit masih tau persis kebiasaannya. pria disampingnya itu selalu membuat dirinya baper.
"Kamu terlalu sibuk dengan pacarmu itu, sampai-sampai kamu melupakan temanmu ini." ucap Fina, ia berlagak sedih di depan Adit. Ia berniat membuat Adit merasa bersalah padanya.
"Maafkan aku Fin, aku tidak lupa kok sama pertemanan kita. Kapanpun kamu butuh bantuanku, aku selalu siap membantumu."
"Terima kasih, Dit." Fina memeluk Adit. Menyandarkan kepalanya di bahu bidang Adit. Fina ingin hubungannya dengan Adit bisa seperti dulu, tidak ada jarak. Tapi sekarang, Rika datang ke kehidupan Adit, bahkan masuk kedalam hati Adit. Selama ini, ia selalu berusaha mengetuk pintu hati pria tampan itu. Tapi Adit tak pernah mengizinkannya masuk.
"Iya, sama-sama."ucap Adit, ingin sekali ia melepaskan pelukan itu. Tapi, ia juga mengerti perasaan Fina. Memang semenjak ada Rika, ia membatasi pertemanannya dengan Fina.
Potret mereka berpelukan sudah di abadikan Jeni di balik rak buku yang berjejer rapi. Hari ini Jeni memang terpaksa masuk perpustakaan, karna ada beberapa buku yang harus ia pinjam. Ia tak menyangka akan menemukan kejadian ini, ia bingung harus mengatakannya pada Rika atau tidak.
***
Sudah lima belas menit Rika duduk di kursi taman, ia menuggu Adit datang menghampirinya. Sudah beberapa kali hal seperti ini terjadi, Adit memang selalu lupa mengabari Rika. Rika hendak pergi dari taman itu, ia ingin pulang. Daripada menunggu tak jelas seperti ini, hanya membuang waktu saja.
"Maaf, aku terlambat." seseorang menarik tangannya dari belakang.
"Memangnya dari mana?" tanya Rika.
"Tapi janji jangan marah padaku." ucap Adit, ia harus berhati-hati mengatakan kalau ia barusan habis membantu Fina.
"Ada apa?" tanya Rika heran.
"Aku habis membantu mengerjakan skripsi Fina, kasian dia. Biar bagaimanapun dia juga temanku. Aku harap kamu ngerti ya."
Rika tertawa mendengar penjelasan Adit, kenapa ia harus marah. Lagipula itu hal yang wajar, ia juga tak berhak melarang Adit.
"Kenapa tertawa?"
"Kenapa Kakak harus menjelaskan sedemikian rupa, aku ngerti kok. Aku tidak akan cemburu buta." ucap Rika, ia masih mengeluarkan sisa-sia tawanya.
"Syukurlah."
Rika memang bukan tipe cewek yang selalu cemburu buta, apalagi dengan Adit. Sampai saat ini saja, ia masih tak menyangka bisa sedekat ini dengan Adit. Ia tak mau bertingkah lebay dengan sang pujaan hatinya.
"Mau makan apa?"
"Gimana kalau makan nasi gemuk Ibu?" Rika merekomendasikan masakan Ibunya.
"Boleh." ucap Adit lalu berjalan merangkul Rika.