Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 60



"Selamat pagi, Pak Adit." seseorang masuk keruangan Adit tanpa permisi.


Adit menoleh ke arah pintu, betapa terkejutnya ia saat melihat perempuan yang berdiri didepannya. Ia sangat mengenali siapa perempuan ini.


"Fina!"


"Kenapa kaget, tante Niken belum cerita ya?"


Adit sudah bisa menebak. Fina pasti akan menjadi sekretarisnya. Ia hanya menghela napasnya, bukan tak suka, tapi kenapa sampai sekarang Fina selalu berusaha mendekatinya.


"Duduk, Fin."


"Baiklah. Pertama, apa yang harus aku kerjakan?" tanya Fina antusias.


"Nanti kita mau ninjau pabrik." ucap Adit.


Fina mengangguk, ia tak peduli mau kemana asalkan selalu disamping Adit.


Mereka keluar dari kantor, semua pasang mata melihat mereka berjalan. Pegawai yang lain mengira mereka pacaran, melihat Fina terlihat sangat manja pada Adit.


"Mereka cocok, kok." ucap Erni terlihat kecewa.


"Sabar, mana mau bos besar sama kita-kita gini." celetuk Fera.


***


Rika sedang mengisi formulir untuk masuk ekskul fotografi. Jeni hanya duduk memainkan ponselnya, menunggu Rika selesai mendaftar.


"Mau ikut juga tidak?" tanya Rika.


"Tidak, ah."


"Banyak cowok ganteng loh disana."


"Gak ngaruh, karna dimataku cuma dokter Verza yang ganteng." Jeni memejamkan matanya membayangkan pria berdinas putih itu.


Rika tak bisa menahan tawa mendengar ucapan Jeni. Sahabatnya itu semakin hari semakin bucin saja, sepertinya Jeni sudah resmi menjadi kekasih dokter ganteng itu, melihat walpaper ponselnya sudah berubah menjadi wajahnya bersama sang dokter. Dokter Verza ternyata memang sudah terjerat cinta pada pandangan pertama. Sekali lagi, Rika tak bisa menahan tawanya, hingga di jitak oleh Jeni.


"Aku serasa jadi Mak comblang kalian deh."


"Ih apaan sih Rik, gausah ngeledek deh."


Rika memberikan formulir itu pada ketua Street Photograph, nama klub yang akan ia masuki itu. Ia sangat bersemangat sekali, waktu tak masalah baginya, karna mereka hanya berkumpul dihari sabtu saja.


Sekitar dua puluh orang yang sudah tergabung di Street Photograph, klub yang memang Rika impikan dari dulu, ia tak menyangka bisa bergabung di klub ini. Ia sangat berterima kasih pada Adit yang sudah memberikannya kamera.


"Oke, sabtu kita bisa kumpul, buat perkenalan peserta baru." ucap Ferdi sang ketua.


Semua mengangguk mengerti, Rika keluar dan langsung merangkul Jeni.


"Maaf, lama menunggu." ucapnya agak merasa bersalah pada Jeni.


"Nggakpapa, aku juga gak sendirian kok nunggunya."


Rika mengerutkan dahinya, ia masih sadar dari tadi Jeni duduk di kursi luar itu sendirian, memangnya siapa yang menemani, makhluk halus, pikirnya.


"Maksud kamu?"


"Barusan di video call dokter Verza dong." ucap Jeni memperlihatkan panggilan masuknya.


***


"Fina menjadi sekretarisku dikantor." Adit menghentikan mobilnya tepat didepan rumah Rika.


"Benarkah?"


Adit mengangguk pelan.


"Oh." Rika hanya bisa berucap seperti itu saja, ia tak tau lagi harus berkata apa, semoga saja Adit bisa menjaga perasaannya.


"Aku tidak akan macam-macam kok, tenang saja." ucap Adit menenangkan kekasihnya itu.


"Janji?" Rika memberikan jari kelingkingnya pada Adit, ia berharap ucapan Adit bisa dipercaya.


Adit memang harus tahan dengan sikap Fina yang selalu manja dikantor.


Ia tau maksud Fina bekerja dikantornya, hanya untuk bisa dekat dengannya.


***


Sabtu pertama Rika berkumpul dengan Street Photograph. Ferdi sudah berdiri tegap didepan para peserta, ia memanggil satu per satu peserta baru termasuk Rika. Rika berdiri, dan memperkenalkan dirinya.


"Besok tim basket kita mau sparing ke kampus sebelah. Kalian semua harus pergi, mengambil foto mereka. Namti hasilnya, akan kita bahas minggu depan." Ferdi memberi arahan.


Rika sangat antusias mendengar arahan dari Ferdi. Besok ia akan pergi ke kampus Real, itu berarti ia tidak akan bertemu dengan Adit minggu ini.


"Jen!" seru Rika dari kejauhan.


"Ada apa?" Jeni menghentikan gerak mulutnya yang sedang mengunyah keripik pedas ditangannya.


"Besok aku mau ke kampus Real." Rika mengambil keripik ditangan Jeni tanpa permisi. "Mau ikut tidak?"


"Ngapain, foto-foto?" ucap Jeni.


"Iya." ucap Rika tersenyum.


"Maaf ya Rik, besok aku mau jalan sama My beb Verza." Jeni melebarkan senyumnya.


***


Rika sudah membawa perlengkapan untuk memotret, iapun berpamitan dengan bu Nur.


Saat sampai di kampus Real, Rika menyapa Ferdi dengan hormat. Sesampainya disana, Rika sudah berdiri disamping lapangan basket, mencari angle yang pas dan menarik untuk diposting di blog kampus nantinya. Beberapa potret sudah diambilnya, di beberapa menit pertandingan awal. Rika juga berjalan mengelilingi lapangan, ia juga sesekali memotret barisan penonton.


Setelah pertandingan persahabatan ini selesai, para pemain berkumpul bersama para peserta dari Street Photograph. Mereka akan makan bersama direstoran Korea Oppa. Termasuk Rika. Ferdi yang mengajaknya, mau tidak mau ia harus ikut, apalagi hari ini pertama ia masuk klub, tidak enak jika menolak.


Rika merasa canggung sekali berada dekat dengan mereka, ini kali pertamanya ia berkumpul bersama orang-orang yang baru ia kenal.


"Ayo makan, Rik. Tidak usah malu." ucap Ferdi.


"Iya, Kak." Rika menunduk, menghormati ketua klubnya itu.


Selain makan bersama, mereka juga bermain gitar dan bernyanyi. Rika yang awalnya canggung, lama kelamaan menjadi terasa asik sekali.


***


Adit melirik jam tangannya, sudah pukul setengah enam sore. Tapi Rika juga tak mengabarinya.


Adit : Kamu lagi dimana?


Rika : Masih memoto anak-anak basket, Kak.


Rika menutup ponselnya, ia sengaja berbohong, agar Adit tak khawatir atau tiba-tiba menjemputnya. Ia tak mau itu terjadi.


Ia kembali bernyanyi bersama anak-anak basket kampus Street.


Adit duduk di balkon rumahnya, tentu saja tidak hanya duduk bersantai memandangi langit yang mulai berubah warna itu, tapi sibuk dengan poselnya yang bahkan setiap menitnya dipenuhi dengan e-mail dari kantor. Saat sibuk membuka e-mail itu. Tiba-tiba ada panggilan masuk dari Jeni, tak lain adalah sahabat Rika.


"Halo..."


"Halo Kak, Kak Adit tau Rika dimana?"


"Dia masih di kampus Real, memotret anak-anak basket."


"Tidak Kak, dia sudah pulang. Sekarang mereka makan bersama direstoran Korea Oppa."


"Yang benar?" Adit terperanjat mendengar informasi dari Jeni.


"Iya, aku sudah mengirim fotonya. Lihat saja."


"Iya Jen, terima kasih."


Adit buru-buru melihat WA dari Jeni, ia melihat foto yang dikirim Jeni. Ternyata benar, Rika sedang asik makan dan bernyanyi bersama dengan para pemain basket kampus Street dan klub fotografernya. Adit menggeram, ia langsung turun kebawah dan melajukan mobil sport hitamnya, menuju restoran Korea Oppa. Kenapa Rika harus berbohong padanya. Ia melirik jam tangannya, sekarang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam, pasti bu Nur akan mengkawatirkannya. Adit mempercepat laju mobilnya.