
"Selamat ulang tahun!" Jeni menyodorkan sebuah kotak kecil pada Rika
"Terima kasih, sahabatku." Rika tersenyum lalu mengambil kotak kecil itu.
Ia membuka kotak kecil itu, sebuah gelang coklat bertuliskan namanya. Ia lalu menoleh Jeni dan memeluk hangat sahabatnya itu.
Rika memakai gelang itu, ini pertama kalinya ia mendapat hadiah dari orang lain, dari dulu hanya ayah dan ibunya yang memberi hadiah, walaupun sederhana tapi sangat bermakna bagi Rika. Dulu ayahnya selalu membuatkan pondok kecil di samping rumah setiap ulang tahunnya. Lucu sekali, walau tak bisa di abadikan dengan ponsel canggih, tapi memori itu selalu tersimpan di hati kecil Rika.
Selama dia sekolah dulu, dia tak pernah dapat ucapan dari teman-temannya. Yah, bisa dibilang hanya sekedar teman sekolah, karna selama ini tak ada yang benar-benar tulus berteman dengannya, hingga di kampus ini ia mendapatkan sahabat yang menerima dia apa adanya.
"Sekali lagi terima kasih, Jen." Rika memakai gelang itu.
"Sama-sama, jangan di lepas ya."
"Pasti." jawab Rika, ia mengacungkan tangannya.
***
Sudah sekitar satu jam Rika duduk di kursi taman, ia sedang menunggu Adit. Adit bilang dia masih ada kelas, tapi sekarang sudah pukul satu siang Adit belum juga memunculkan dirinya di hadapan Rika. Rika sudah gelisah, kemana Adit sebenarnya.
Adit mempercepat langkah kakinya, dosennya sangat lama sekali keluar, karna memberikan tugas akhir pada mereka. Fina tiba-tiba datang menghampiri Adit, ia terlihat sangat panik.
"Adit tolongin Aku, aku mohon!" Fina memegang tangan Adit, sepertinya ia tidak berbohong kali ini.
"Ada apa?"
"Mamaku Dit, tadi aku dikabari sama tetanggaku, mamaku pingsan di rumah dan tidak ada siapa-siapa disana, temani aku pulang Dit, aku mohon." ucap Fina lalu menangis.
"Hmm... Ya sudah, ayo." jawab Adit, ia sangat bingung dengan situasi ini. Disisi lain, Mamanya Fina juga teman baik Bu Niken.
Sementara Rika masih duduk di tempat yang sama, ia sesekali melirik jam tangannya. Ia juga sudah menelpon Adit, tapi tak di angkat oleh Adit. Jelas saja Adit tak mengangkat telponnya, ia sedang sibuk mengurusi Mamanya Fina yang sudah dilarikan ke rumah sakit.
"Nunggu siapa, Rik?" tanya Jeni yang membuat Rika terkejut.
"Nunggu Kak Adit, sudah hampir dua jam aku disini tapi Kak Adit belum muncul juga, di telpon juga tidak diangkat."
"Coba kita tanya temannya saja, Rik." Jeni mencoba memberi masukan.
"Jangan Jen, aku malu. Kita pulang saja."
"Yakin?"
"Iya, sebelum pulang aku mau traktir kamu bakso aci. Mau tidak?" ucap Rika mengajak Jeni.
"Ih mau dong, kuy lah!" jawab Jeni.
Rika memesan dua mangkok bakso aci. Mereka makan di taman tak jauh dari kampus. Rika hanya mengaduk-ngaduk bakso acinya, tidak seperti biasanya. Padahal bakso aci adalah salah satu makanan kesukaannya.
"Kamu kenapa, Rik?"
"Tidak apa-apa, Jen." jawab Rika.
"Pasti masalah Kak Adit ya, tidak usah dipikirkan, Rik. Mungkin dia sibuk, sebentar lagi kan dia mau wisuda." ucap Jeni menyabarkan sahabatnya itu.
Apa harus sampai melupakan hari istimewaku? Mungkin aku memang tidak penting baginya, batin Rika.
"Jangan sedih dong Rik, aku juga jadi ikut sedih." ucap Jeni lalu meletakkan mangkuk baksonya.
"Nggak kok Jen, ayo dimakan lagi baksonya. Makasih ya Jen hadiahnya, ini pertama kalinya hadiah ulang tahun dari seorang teman." ucap Rika, tak terasa air matanya menetes.
"Iya sama-sama Rik, kamu jangan nangis." Jeni mengusap air mata sahabatnya itu.
***
"Temani aku dulu, Dit. Aku mohon." ucap Fina, ia tak ingin momen langka ini cepat berlalu.
"Tapi..." belum selesai Adit bicara, seseorang berjas hitam datang menghampiri mereka.
"Mama kenapa, Fin?" tanya pria paruh baya itu.
"Mama pingsan, Pa." jawab Fina.
"Kenapa kamu tidak memberi tahu Papa atau Kakakmu?" ucap Pak Bima.
"Aku panik Pa, maaf"
Adit menghela napasnya, kenapa Fina harus minta tolong dengannya, sementara Papa dan Kakaknya tidak dikabari.
"Om Bima, saya pulang dulu ya." Adit menyalami Pak Bima.
"Jangan dulu, Dit!" Fina mencoba menahan Adit lagi.
"Maaf Fin, aku masih ada urusan." Adit melepaskan tangan Fina perlahan.
"Terima kasih, Nak Adit" ucap Pak Bima.
"Kenapa kamu tidak kasih tau Papa atau Kakakmu sih?" ucap Pak Bima setelah Adit pergi.
"Maaf, Pa."
Aku mau Adit bersamaku, batin Fina.
Fina memang sengaja tak mengabari Papa dan Kakaknya. Tadi pagi di kampus ia berjalan melewati Rika dan Jeni, ia sekilas mendengar percakapan dua sahabat itu bahwa hari ini adalah ulang tahun Rika, Ia mencoba membuat Adit melupakan itu, tepat sekali ia mendapat telpon dari tetangganya. Ia tau Adit orangnya tidak tega, apalagi Mamanya Fina adalah teman dari Bu Niken.
Dengan cepat Adit menghidupkan mobilnya, ia sangat kesal dengan ulah Fina hari ini, bukan tidak mau membantu tapi sepertinya Fina hanya mencari kesempatan dalam kesempitan. Ia melihat di ponselnya ada panggilan tak terjawab sebanyak tujuh kali.
"Maafkan aku Rika." Adit mengusap wajahnya dengan gusar, ia mencoba menelpon Rika tapi tidak di angkat.
Adit menuju rumah Rika, tapi rumah Rika tampak sepi, warung Ibunya juga tutup. Beberapa kali mengucap salam, tapi tak ada sautan juga. Akhirnya Adit pulang kerumah, dengan perasaan bersalah.
***
Setelah makan bakso bersama Jeni, Rika mengajak Ibunya pergi ke restoran Pondok Bambu. Beberapa bulan lalu Ibunya sangat ingin makan di Pondok Bambu itu, di hari ulang tahunnya, Rika ingin mewujudkan itu. Ia ingin menyenangkan hati Ibunya.
"Kenapa ajak Ibu kesini Nak? Makanan di sini kan mahal-mahal."
"Ibu, hari ini kan Rika ulang tahun. Rika ingin menyenangkan hati Ibu, Rika kan baru sudah gajian." ucap Rika tersenyum.
"Selamat ulang tahun, Sayang. Maaf Ibu belum bisa membahagiakan kamu." ucap Bu Nur mebelai rambut anaknya itu.
"Apaan sih Bu, jangan ngomong gitu ah." Rika lalu memeluk Ibunya.
Pukul delapan malam, Rika dan Ibunya pulang. Rika masuk ke kamarnya, ia melihat ponselnya banyak sekali panggilan masuk dari Adit. Rika sangat kecewa dengan Adit hari ini, di saat ia berharap Adit akan memberikannya sesuatu yang istimewanya malah Adit tak ada kabar, sebenarnya kemana Adit pergi. Saat Rika hendak tidur, tiba-tiba ponselnya bergetar, ada WA dari nomor tak di kenal.
Rika, ini aku Fina. Makasih ya sudah membolehkan Adit bersamaku hari ini.
"Kemana mereka tadi?" Rika bertanya pada dirinya sendiri, ia sangat geram dengan Fina.
Ia tak membalas WA Fina, ia tak mau meladeni orang seperti Fina, besok ia akan mempertanyakan hal ini pada Adit. Sepenting itukah Fina dibanding dirinya sampai-sampai Adit memilih untuk bersamanya.