Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 15



Rika terbangun dari tidurnya, ia melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, ia segera ke kamar mandi. Hari ini Rika agak kesiangan, karna kemarin ia sangat sibuk di supermarket. Didapur, Bu Nur sudah menyiapkan nasi goreng untuk sarapan Rika.


"Kamu kesiangan ya, Nak? Tadi Ibu Bangunin kamu, tapi kamunya bilang nanti dulu, mungkin masih mimpiin Adit ya?" ucap Bu Nur meledek anaknya.


"Ah, Ibu mengejek saja." ucap Rika lalu masuk kamar untuk bersiap-siap, setelah itu ia menuju dapur lagi untuk memakan nasi gorengnya.


Rika agak terburu-buru, karna kelasnya sebentar lagi dimulai, ia langsung berpamitan pada Ibunya.


Setelah sampai di kampus, Rika langsung masuk ke kelasnya, ia melihat Jeni sudah duduk santai di sana.


"Jen, Pak Ilham sudah datang ya?" tanya Rika


"Belum, kok, Rik. Santai dong." ucap Jeni, ia melihat Rika sangat cemas.


"syukurlah, Jen." ucap Rika lega.


"Eh Rik, kemarin Kak Adit minta nomor ponselmu, memangnya ada apa sih? cerita dong." ucap Jeni penasaran.


"Oh jadi kamu yang kasih, Jen." ucap Rika mengangguk.


"Enggak kok, semalam dia jemput aku, Jen." tambah Rika.


"Wiiihhhh... Enak dong, terus kalian kemana?" tanya Jeni lagi.


"Cuma makan nasi goreng aja, terus pulang." ucap Jeni lalu tersenyum malu.


"So sweet, sekali sih kalian." ucap Jeni.


"Apaan sih Jen, aku jadi malu... Tapi jangan bilang siapa-siapa ya Jen, kumohon. Kamu tau kan semua orang tidak suka padaku." ucap Rika memohon pada Jeni, ia takut sekali kalau Jeni keceplosan.


Kelas merekapun selesai, Rika dan Jeni pergi ke kantin untuk mengisi perutnya. Sesampainya di kantin, mereka memesan mie instan dan teh manis.


"Baru semester satu, tugasnya sudah numpuk ya Rik, apalagi semester akhir." ucap Jeni mengeluh.


"Harus semangat dong Jen, aku aja yang sambil kerja semangay terus kok." ucap Rika menyemangati Jeni.


"Iya juga sih Rik. Eh... Kamu gak mau ketemu sama Kak Adit?" tanya Jeni.


"Ngapain? Tpi aku memang belum melihat dia hari ini, kira-kira kemana ya dia?" ucap Rika, matanya celiangak-celinguk melihat di sekelilingnya.


"Ciee... Ada yang rindu nih. Gak tau lah Rik, kita kan dari tadi sama-sama, coba kamu telpon saja Rik." usul Jeni.


"Gila kamu, aku malu ah." ucap Rika, tapi ia sangat khawatir dengan Adit, karna tadi malam mereka pulang saat hujan deras, walaupun mereka menggunakan mobil tapi tetap saja Rika takut terjadi apa-apa dengan Adit.


"Daripada kamu penasaran, mending telpon atau gak WA saja, video call lebih bagus." usul Jeni lagi.


"Gila! WA aja kall ya."


Rika pun menerima usulan Jeni, ia mencoba menelpon Adit tapi tidak di angkat oleh Adit, akhirnya ia mencoba mengirim pesan singkat kepada Adit.


Kak Adit gak masuk kuliah ya? Aapa Kakak baik-baik saja? Tulisnya. Lama sekali Adit membalas pesannya. Jeni sudah pamit pulang, karna kelasnya sudah tidak ada lagi.


Rika berencana kerumah Adit, ia takut kalau Adit sakit karna tadi malam, lagi pula ia juga tidak bekerja hari ini. Tiba-tiba ponselnya berdering.


Maaf Rika aku baru membalas pesanmu, iya aku gak kuliah hari ini, karna kurang enak badan. Balas Adit.


Rika yang melihat pesan dari Adit, langsung pergi menuju rumah Adit, ia merasa bersalah pada Adit, gara-gara semalam Adit jadi sakit.


Rika membeli buah-buahan untuk Adit. Sesampainya dirumah Adit, Rika mengetuk pintu dan dibuka oleh perempuan paruh baya.


"Cari siapa ya Dek?" tanya perempuan paruh baya itu.


"Emm... Kak Adit nya ada Buk?" tanya Rika.


"Ada, Dek. Masuk saja kedalam nanti saya panggilkan, ya." ucap perempuan itu.


Rika menunggu di ruang tamu, perempuan itu pun menghampirinya.


"Saya gak enak Buk." ucap Rika.


"Tidak apa-apa Dek, kan ada Bibik juga di rumah ini, Bibik pembantu di rumah ini." ucap Perempuan itu.


"Baiklah Buk, saya ke atas dulu." ucap Rika lalu menuju ke kamar Adit. Terlihat Adit terbaring lesu di kasurnya. Pelan-pelan Rika masuk ke kamar Adit.


"Kak Adit? Apa Kakak sudah baikan?" tanya Rika mendekati Adit.


"Sudah agak membaik Rika, terima kasih sudah menjengukku." ucap Adit memegang tangan Rika


"Badan Kakak panas sekali, biar aku kompres saja ya Kak. Lagian ini semua salahku, kenapa Kakak menjemputku malam itu, padahal aku tau cuacanya kurang bagus." ucap Rika menunduk. Adit tersenyum melihat Rika, ia sangat senang Rika khawatir padanya.


"Kamu gak salah kok, ini semua karna trauma ku saja." ucap Adit.


Rika langsung mengambil air dan handuk kecil lalu ia mengompres kening Adit. Adit hanya memandangi wajah Rika, Rika tersadar dari tadi Adit memandanginya.


"Kenapa Kakak melihatku seperti itu?" tanya Rika gugup.


"Aku sepertinya..." tiba-tiba suara petir yang membuat Rika terkejut lalu tak sengaja memegang tangan Adit. Adit hanya tersenyum.


"Gak usah takut, kan ada aku." ucap Adit.


Rika langsung melepaskan pegangannya dari Adit, ia resah gelisah dan tak bisa berkata-kata.


"Sepertinya akan turun hujan lagi Kak." ucap Rika khawatir tidak bisa pulang.


"Lagi musimnya Rika, ini yang membuatku berat untuk keluar rumah." ucap Adit.


Rika penasaran apa yang nembuat Adit sangat membenci hujan, ia mencoba bertanya pada Adit.


"Maaf Kak, kalau boleh tanya kenapa Kakak sangat membenci hujan?" tanya Rika.


"Masalalu Rika, sebenarnya berat untuk diceritakan, kamu adalah orang pertama yang aku ceritakan." ucap Adit.


"Aku pernah melakukan kesalahan sewaktu duduk di bangku SMA dulu, malam itu aku baru pulang dari rumah temanku, hujan sangat deras, aku tak sengaja menabrak seseorang." ucap Adit lalu termenung.


"Ya ampun Kak, laki-laki atau perempuan?" tanya Rika penasaran.


"Aku gak tau Rika, aku langsung melarikan diri, tapi aku tanggung jawab kok, mama sama papaku mengurus semuanya." ucap Adit menceritakan semuanya pada Rika.


"Ya sudah Kak, jangan dipikirkan lagi itu semua hanya masalalu." ucap Rika tersenyum.


"Oh iya tadi aku bawa buah untuk Kakak, aku letakkan di dapur saja." ucap Rika.


"Kenapa tidak di bawa kesini, aku kan mau makan disuapi kamu." goda Adit.


"Apaan sih Kak, ya sudah aku pulang dulu ya Kak." ucap Rika berpamitan.


"Aku antar kamu kebawah ya." ucap Adit hendak mengantar Rika.


"Jangan Kak, Kakak kan masih sakit." ucap Rika menolak.


"Aku kuat kok, ayo kuantar." ucap Adit lalu berdiri.


"Baiklah Kak." ucap Rika.


Mereka keluar dari kamar Adit, Rika yang masih saja gugup di dekat Adit hampir terjatuh dari tangga, untung saja Adit sigap menangkapnya.


"Hati-hati Rika." ucap Adit masih memeluk Rika.


"I...iya Kak, tolong lepaskan." ucap Rika yang masih dalam pelukan Adit.


Adit pun melepaskan Rika. Sesampainya di depan pintu, Rika berpamitan pada Adit. Untung saja hujan sudah reda, ia pun melaju dengan motornya meninggalkan rumah Adit.