
Suasana kampus terasa sepi bagi Rika, karna ia tak melihat wajah manis pujaan hatinya. Jeni sudah menunggu Rika di ruang kelas, ia sudah dulu sampai ke kampus. Jeni memang disiplin soal waktu tapi soal pelajaran, dia mengaku kalah.
"Wah, rajinnya." Rika lalu duduk sembari melepaskan tas selempangnya.
"Iya, dong." jawab Jeni singkat.
"Baguslah."
"Tapi... Bantuin aku ngerjain tugas dari pak Ilham, ya." ucap Jeni lalu memegang tangan sahabatnya itu.
"Rajin masuk aja kamu, Jen." ucap Rika mengerutkan dahinya.
Pak Ilhampun masuk mengajar mereka, seperti biasa diakhir pelajaran, Pak Ilham memberikan tugas pada anak-anak muridnya.
Rika berencana mengerjakan tugas itu selesai dari menjenguk kak Aditnya.
"Pulang duluan ya Rik, biasa." ucap Jeni mengedipkan mata kirinya pada Rika, ia bahkan sudah lupa apa yang di ucapkan Pak Ilham di kelasnya tadi. Rika hanya menggelangkan kepalanya. Heran dengan tingkah laku sahabatnya itu.
***
Rika segera melajukan motornya, ia hendak pulang sebentar mengambil nasi gemuk untuk Adit yang sudah di siapkan Ibunya. Semenjak bersama Rika, Adit menjadi sangat suka makan nasi gemuk. Berbeda dengan dulu, ia tak pernah memakan makanan porsi kecil itu.
"Salam buat Nak Adit ya, Rika."
"Iya Bu, Rika pergi dulu ya." jawab Rika tersenyum lalu menyalami Ibunya.
Sesampainya dirumah Adit, Rika langsung di sambut oleh Bik Eli, Mama dan Papanya Adit sudah tidak ada lagi di rumah, mereka sudah ke bandara pagi-pagi sekali, Adit sedang istirahat di kamarnya.
"Kak Adit..."
"Masuklah." ucap Adit sembari meletakkan gitarnya.
"Sudah baikan, Kak?" tanya Rika, ia melihat Adit sedang duduk dan bermain gitar.
"Yah begitulah, bosan di rumah terus." ucap Adit tersenyum.
"Mau makan?"
"Kakak harus banyak-banyak istirahat." ucap Rika lalu membuka nasi yang ia bawa tadi.
"Mau." ucap Adit lalu memejamkan matanya, manis sekali, hingga Rika salah fokus.
Rika meletakkan nasinya di meja, ada yang terjatuh dari saku celananya, tepat di depan Adit. Rika mengambil kunci itu, saat berdiri tiba-tiba ia hilang kendali, kepalanya terasa sakit sekali, ia terjatuh tepat menimpa tubuh Adit. Betapa terkejutnya Adit, ia hanya diam.
"Rika, kamu kenapa?"
"Nggak...nggak apa-apa Kak, maaf." Rika langsung mengangkat tubuhnya lalu menjauhi Adit.
"Aku darah rendah." ucap Rika, ia masih memegangi kepalanya.
"Duduklah." ucap Adit sembari mengambil nasi gemuk yang sudah di siapkan Rika.
"Nasinya kamu saja yang makan, biarku suapi." ucap Adit, ia terlihat sangat cemas dengan gadis lugunya itu.
"Nggak usah Kak, masak Kakak yang sakit aku yang disuapi." Rika berusaha menolak, ia hanya pusing sedikit, kalau tiba-tiba berdiri seperti tadi.
"Jangan ngeyel, aku tidak mau melihat gadis luguku sakit." ucap Adit lalu menyuruh Rika membuka mulutnya. Kalau Adit sudah memaksa seperti ini, ia tak bisa menolak lagi. Tapi dalam hatinya sangat menerima perintah Adit, ini adalah hal paling indah baginya.
Semoga suapan ini bukan yang terakhir Kak Adit.
Mereka memakan nasi gemuk itu bersama, ibarat sepiring berdua, romantis sekali. Rika hanya menunduk, ia tak berani melihat wajah menawan itu, takut tersedak dengan nasinya.
"Besok aku akan kuliah, aku jemput ya." ucap Adit lalu meletakkan piring kosong di meja.
"Memangnya Kakak sudah sembuh?" tanya Rika.
"Sudahlah, kan sudah di jenguk kamu." Adit menggoda gadis lugunya itu, matanya menatap Rika, yang membuat Rika terperanjat dan langsung menepis pelan wajah Adit.
"Ya...ya sudah, kalau gitu aku pulang dulu Kak, mau ngerjain tugas dari pak Ilham." ucap Rika lalu mengambil tas selempangnya.
"Tidak usah Kak, aku mau ngerjain bareng Jeni saja." ucap Rika menolak, ia tidak mau menerima bantuan dari Adit soal tugas, dia bisa mengerjakannya sendiri, apalagi sekarang dia sudah punya laptop sendiri.
Adit mengantar Rika sampai ke pintu depan, Rika juga sudah berpamitan dengan Bik Eli, agar Bik Eli tau kalau dia sudah pulang. Sebenarnya Adit masih rindu dengan gadis lugunya itu, tapi ia juga tak bisa melarang Rika, karna ia berpikir itu bukan hak nya.
"Hati-hati di jalan." ucap Adit lalu melambaikan tangannya. Rika hanya mengangguk, ia tak akan melupakan senyum manis Adit siang ini.
***
"Assalamualaikum..." Rika mengetuk pintu rumah yang lumayan besar itu.
"Waalaikumsalam, eh Nak Rika." ucap wanita paruh baya yang membukakan pintu.
"Bu Dena, apa kabar?" Rika menyalami Ibu sahabatnya itu.
"Baik Nak, ayo masuk Jeni ada di taman belakang." ucap Bu Dena.
"Iya Bu, terima kasih. Rika kebelakang dulu Bu mau ngerjain tugas sama Jeni"
"Iya Sayang, Ibu juga mau bikinin cemilan untuk kalian." ucap Bu Dena. Bu Dena memang selalu ramah dengan Rika, ia menganggap Rika seperti anaknya sendiri, Rika sangat beruntung mempunyai teman sebaik Jeni.
"Hay, Jen. . . sudah sampai mana?" tanya Rika.
"Emmm..." Jeni menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Dari tadi ia tidak mengerjakan tugasnya sedikitpun, ia terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Pasti belum sama sekali, dasar kamu ini." ucap Rika lalu membuka laptopnya.
"Aku lagi liatin baju-baju di online shop sama liat instagram story nya idolaku, Rik." ucap Jeni lalu memeluk ponselnya itu.
"Memangnya siapa idolamu?" tanya Rika penasaran.
"Itu loh penyanyi ganteng berlesung pipi."
"Afgansyah Reza?" tanya Rika lagi
"Betul." ucap Jeni lalu mengacungkan ibu jarinya.
"Kalau aku ketemu dia, aku gak bakal minta foto atau tanda tangan." ucap Jeni.
"Jadi?"
"Minta dinikahin."
"Hahahaha...halu." ucap Rika yang terbelalak mendengar ucapan sahabatnya itu. Jeni pun juga ikut tertawa
"Pantas saja kamu sering mencari cowok berlesung pipi di kampus." tambah Rika.
"Haha iya dong! Gak dapat yang asli yang kw pun jadi." Mereka tertawa lepas seperti tak ada beban, seperti itulah kalau Rika sedang bersama sahabatnya itu, Jeni tak pernah memandang Rika dengan status sosial yang berbeda. Ia tak pernah merendahkan sahabatnya itu.
"Iya juga, ya." jawab Rika yang seperti berpikir keras.
Mereka mulai mengerjakan tugas dari Pak Ilham, Rika sangat serius mengerjakan tugasnya begitupun dengan Jeni, Bu Dena menghampiri mereka dengan sepiring cemilan yang ia buat tadi. Bu Dena memang sangat pintar membuat kue dan cemilan.
"Enak sekali, Bu." ucap Rika lalu melahap cemilan itu.
"Habiskan ya, Ibu mau kedepan dulu." ucap Bu Dena lalu meninggalkan mereka.
Tugas mereka pun sudah selesai, tinggal menikmati cemilan dari Bu Dena saja.
"Gimana kabar Kak Adit, Rik?"
"Sudah baikan, besok dia jemput aku." ucap Rika, tanpa ia sadari ia sudah menarik ujung bibirnya.
"Hem dasar bucin." ledek Jeni.
"Sebenarnya aku malu dekat seperti ini dengan Adit, aku malu dengan diriku sendiri, aku merasa tidak pantas saja, Jen." ucap Rika menunduk.
"Jangan gitu dong Rik, jangan salahkan diri sendiri seperti itu." ucap Jeni lalu mengelus pundak sahabatnya itu. Rika hanya tersenyum. Ia sangat bersyukur bisa punya teman seperti Jeni.