Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 18



Hujan sangat deras malam ini, Rika buru-buru mengenakan jas hujan, ia hendak pulang dari supermarket. Tapi tiba-tiba ia teringat dengan Adit, hatinya sangat mengahawatirkan keadaan Adit.


Apa Kak Adit baik-baik saja? Batin Rika.


"Ah kenapa aku memikirkan Kak Adit, kalau hujan pasti aku teringat dia?" gumam Rika lalu melaju dengan motornya.


***


Pukul sembilan tepat Adit menarik selimutnya hingga menutupi dadanya, biasanya saat hujan ia selalu teringat masalalunya yang kelam, tapi malam ini ia hanya teringat kata-kata Rika tadi siang.


Ingin rasanya malam ini Adit menemui Rika, tapi hujan sangat deras diluar. Adit merasa ia benar-benar sudah jatuh hati pada Rika, ia tak bisa menyembunyikan perasaannya, ia merasa sangat bersalah waktu itu tidak menegur Rika. Adit resah matanya tidak mau mengatup, ia melihat ponselnya sudah menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit.


"Aku tidak bisa seperti ini, aku harus menyusul Rika." Adit lalu mengambil kunci mobil, ia juga sudah memakai jaket yang sangat tebal, ia tau pasti Rika sedang di jalan hendak pulang, karna dulu Adit sudah pernah menjemputnya, jadi dia tau jam berapa Rika pulang dari supermarket.


Adit melihat seseorang mengendarai sepeda motor dengan memakai jas hujan, ia sudah tau pasti itu Rika, ia sudah tak asing dengan motor Rika. Adit mengencangkan laju mobilnya hingga mendekati Rika.


"Apa-apaan nih mobil mepet-mepet apa dia penjahat?" Rika bergidik ketakutan, ia tak kalah mengencangkan laju motornya, tapi mobil Adit tentu bisa mengahadangnya. Rika menghentikan motornya, ia melihat sosok pria keluar dari mobil itu, dia adalah Adit.


"Kak Adit, kenapa Kakak keluar saat hujan deras seperti ini?" tanya Rika sangat terkejut melihat Adit.


"Aku ingin menemuimu Rika, tolong jangan menjauhiku." ucap Adit lalu memegang tangan Rika.


"Kakak kan tidak bisa hujan-hujanan seperti ini, kenapa nekat sekali sih?" ucap Rika sangat khawatir dengan Adit.


"Aku rela keluar saat hujan demi kamu, aku tak peduli lagi dengan traumaku, terserah apa yang akan terjadi padaku." ucap Adit yang tampak sudah begitu lemah dan pucat.


"Tolong maafkan aku. Karna aku, kamu selalu di timpa masalah." tambah Adit.


"Kakak jangan seperti ini, aku sangat takut kalau terjadi apa-apa sama Kak Adit. Aku tak pantas dapat perlakuan seperti ini dari Kak Adit." ucapan Rika membuat Adit sedikit lega, ia merasa Rika sangat peduli padanya.


"Aku senang kamu masih peduli denganku." ucap Adit yang sudah mulai menggigil.


"Sekarang ayo kita kerumahku dulu Kak, Kakak sepertinya sangat kedinginan." ucap Rika. Adit mengangguk, mereka lalu pergi menuju rumah Rika, karna jaraknya lumayan dekat. Setelah sampai Rika langsung meletakkan sepeda motor di bagasi kecil yang di buatkan oleh ayahnya dulu. Rika lalu berjalan ke arah mobil Adit, ia membukakan pintu mobil dan membantu Adit untuk keluar dari mobil. Bu Nur membuka pintu rumah, karna ia sudah mendegar dari dalam ada suara mobil di rumahnya.


"Siapa itu Nak?" tanya Bu Nur terkejut melihat Adit menggigil.


"Kak Adit Bu, dia sakit." ucap Rika.


"Ya sudah ayo kedalam biar Ibu buatkan teh hangat." ucap Bu Nur menyuruh keduanya masuk. Rika mengajak Adit duduk diruang tamu.


"Tunggu sebentar Kak Adit, aku akan mengambilkan pakaian ayahku yang masih tersimpan di kamar, biar Kakak bisa ganti baju." ucap Rika lalu beranjak menuju kamar. Rika memang masih menyimpan beberapa pakaian ayahnya dulu, disaat dia rindu dengan ayahnya, ia hanya bisa memeluk baju ayahnya itu.


"Ini Kak gantilah di kamarku, biar Kakak tidak kedinginan dan bisa cepat pulang." ucap Rika sembari memberikan baju dan celana milik ayahnya.


"Kamu mengusirku? Kamu yang membuat aku begini." ucap Adit sengaja menyalahkan Rika.


"Salah sendiri, kenapa keluar saat hujan deras." Rika menggerutu.


Apa benar yang dia bilang, batin Rika. Wajahnya memerah mendengar ucapan Adit.


Adit keluar dengan memakai baju milik ayahnya. Rika terpaku melihat Adit, seketika ia sangat Rindu dengan ayahnya, ia teringat masa-masa terindah dengan ayahnya. Dulu saat mereka main ke taman, ayahnya selalu memakai baju itu.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Adit heran.


"Aku jadi rindu ayah." ucap Rika, matanya berkaca-kaca.


"Saat aku merindukan ayah, aku selalu memeluk baju itu." timpalnya lagi.


"Ya sudah peluk aku saja, aku kan sekarang memakai baju ayahmu." ucap Adit santai, ia memang berharap itu terjadi.


"Tidak usah bercanda deh, aku ini lagi sedih." ucap Rika tersenyum kecil, wajahnya memerah.


Bu Nur membawakan teh hangat untuk Adit, ia melihat Adit sudah berganti pakaian dan juga Adit sudah agak membaik.


"Minumlah Nak Adit, ini bisa menghangatkan tubuhmu." ucap Bu Nur.


"Terima kasih Bu, saya pinjam baju milik ayahnya Rika, bolehkan Bu?" tanya Adit basa-basi.


"Boleh Nak, daripada nanti kamu sakit." ucap Bu Nur tersenyum.


"Maaf merepotkan Bu, saya sebenarnya trauma degan hujan Bu." ucap Adit menjelaskan pada Bu Nur.


"Ibu sudah tau Nak, Rika sering menceritakan tentang kamu." ucap Bu Nur sembari melirik anak gadisnya itu.


"Ibu... Jangan bicara gitu, aku kan jadi malu." bisik Rika pada Ibunya.


"Oh jadi Rika sering menceritakan saya, Bu." ucap Adit lalu melirik Rika dengan senyum manisnya.


Hujan sudah mulai reda, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Adit pamit pulang dari rumah Rika, ia menyalami Bu Nur.


"Saya pamit dulu ya, Bu. Sekali lagi terima kasih." ucap Adit lalu mencium tangan Bu Nur.


"Sama-sama Nak Adit, tidak usah sungkan. Kamu hati-hati di jalan, kondisimu sepertinya belum begitu baik." ucap Bu Nur memperingati Adit.


"Iya Bu, Rika aku pamit dulu ya." Adit melambaikan tangan pada Rika. Rika hanya tersenyum. Merekapun masuk kedalam untuk beristirahat.


Rika menuju kamarnya, bibirnya tak henti-hentinya terdenyum, ia sangat bahagia malam ini. Tapi di balik semua itu ada rasa takut juga menghampiri benaknya, ia takut kalau Fina melakukan hal buruk lagi padanya. Mau bagaimana lagi, perasaannya terhadapa Adit mengalahkan semua rasa khawatirnya, seakan-akan ia tak peduli dengan apa yang akan terjadi pada dirinya nanti. Ponsel Rika berdering hingga membuyarkan lamunannya, sebuah pesan singkat masuk di layar ponselnya bertuliskan Kak Adit, buru-buru ia membukanya.


Apa kamu sudah tidur Rika? mimpi indah ya. Begitulah yang di baca Rika.


"Ada apa dengan Kak Adit? apa dia juga menyukaiku?" gumam Rika. Ia lalu membalas pesan singkat dari Adit.


Belum Kak. Balas Rika singkat. Ia lalu mematikan ponselnya.