Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 27



Rika menginjak-injak tempat sampah yang penuh dengan api itu, ia berharap apinya segera padam.


"Tega sekali mereka padaku, ini semua gara-gara Kak Adit!" ucap Rika dengan nada agak tinggi, ia melihat apinya sudah padam, yang terlihat hanyalah pakaian yang telah hangus terbakar, air matanya mengalir deras lagi.


"Ayah..." Rika melihat langit yang cerah itu, ia lalu berjalan menuju ke parkiran dengan sesegukan, dengan cepat ia mengambil motornya, di kejauhan Adit melihat Rika yang sedang menangis lalu menghampirinya.


"Ada apa Rika?" tanya Adit lalu memegang tangan Rika.


"Lepaskan aku! Kamu membuat hidupku susah saja. Aku mohon, jangan berbicara denganku lagi!" ucap Rika yang tak mempedulikan Adit.


"Kamu kenapa bicara seperti itu padaku?" tanya Adit yang terkejut dengan perkataan Rika.


"Aku selalu dimusuhi sama Fina dan teman-temannya aku tak masalah, tapi mereka membakar baju Ayahku!" ucap Rika menangis lagi.


"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Adit bertubi-tubi.


"Semua gara-gara kamu! Mereka melihat kamu memberikan baju Ayahku tadi pagi." ucap Rika lalu memukul dada Adit. Adit langsung terdiam, ia merasa bersalah pada Rika, karna Rika sangat menyayangi baju itu. Adit lalu memegang tangan Rika secara paksa, ia mencoba menahan emosi Rika.


"Maaf...maaf, aku salah." ucap Adit berusaha menenangkan Rika.


"Kamu jahat Adit!" Rika menatap Adit dalam, ia langsung menutup mulutnya, ia tak sengaja berkata kasar pada Adit, mulutnya terasa kebas, ingin ia menarik kata-katanya tadi. Adit hanya diam, ternyata Rika sangat marah padanya sampai hanya menyebut namanya.


"Aku akan mengantarmu pulang." ucap Adit.


"Tidak! Aku tak mau berurusan dengan fansmu lagi, hidupku sudah cukup menderita selama ini." ucap Rika lalu hendak mengambil kunci motor didalam tasnya, tapi Adit mengambil paksa kunci motor itu dari tangan Rika lalu mengambil motor Rika.


"Ayo naik." ucap Adit lalu menghidupkan motor Rika. Adit tak ingin Rika celaka, dulu Rika pernah jatuh dari motor karna emosinya tak terkendali. Rika melihat sekitar ia tak melihat Fina atau siapapun, ia terpaksa menaiki motornya sendiri. Mereka pun pergi meninggalkan kampus.


Di perjalanan Rika tiba-tiba menangis lagi, ia teringat ucapannya pada Adit tadi. Adit jadi bingung dengan Rika, ia langsung menghentikan motornya. Ia melihat Rika yang sedang menangis dan turun dari motor.


"Kamu kenapa lagi? Tolong maafkan aku." ucap Adit, ia tidak tau harus bagaimana lagi.


"Kak Adit... Maafkan aku, aku tak sengaja berkata seperti tadi, aku terbawa emosi, Kak Adit pasti marah padaku." ucap Rika air matanya mengalir deras. Adit tersenyum mendengar ucapan Rika, ia sangat gemas dengan kelakuan gadis lugunya itu, ia mendekati Rika lalu memeluknya dengan sangat erat.


"Aku memakluminya Rika, sudah jangan nangis lagi." ucap Adit sembari mengelus rambut Rika.


"Aku tak bisa menjauhimu, Rika." ucap Adit.


"Aku menyayangimu gadis luguku." tambah Adit lalu mencium kening Rika. Rika langsung terkejut dengan perlakuan Adit.


"Kak Adit... Apa yang Kakak katakan tadi, apa aku tidak salah dengar?" tanya Rika lalu melepaskan pelukan Adit. Adit juga tidak tau mengapa ia bisa jatuh cinta dengan Rika, yang awalnya ia hanya kasian pada Rika.


"Aku besungguh-sungguh Rika, sudah lama aku menyimpan perasaan ini." ucap Adit meyakinkan Rika, ia sudah bersusah payah menyiapkan kata-kata ini, karna ia sungguh tidak bisa berkata romantis. Rika hanya terdiam, ia tak menjawab ucapan Adit.


"Bagaimana Rika?" tanya Adit lagi.


"Aku tidak tau Kak Adit, jika aku bersama Kakak pasti akan bermasalah terus di kampus atau dimanapun." ucap Rika menunduk.


"Aku akan selalu menjagamu aku berjanji, tapi... Apa kamu juga mempunyai perasaan yang sama denganku?" tanya Adit menatap dalam Rika.


"Mana mungkin tidak, siapa yang tidak suka dengan idolanya sendiri." gumam Rika.


"Kamu bicara apa?" tanya Adit yang berpura-pura tidak mendengarnya. Adit tersenyum lalu memegang tangan Rika.


"Hari ini aku kerja, kita ke supermarket ya Kak." ucap Rika.


"Iya Rika..." jawab Adit.


Merekapun sampai di Enjoymart, tempat Rika bekerja. Adit menghentikan motornya dan memberikan motor itu pada Rika.


"Ini motornya, kamu semangat kerjanya ya." ucap Adit tersenyum.


"Iya Kak Adit, terus Kak Adit pulangnya naik apa?" tanya Rika.


"Aku pesan ojek online saja, nanti malam aku telpon." ucap Adit lalu melambaikan tangannya pada Rika, wajah Rika pun berubah warna, sepertinya ia harus mempersiapkan kata-kata untuk nanti malam.


***


Pukul sembilan malam Rika pulang dari supermarket, Ibunya sudah membuatkan teh hangat untuknya. Rika meminumnya dan mencoba berbicara dengan Bu Nur tentang hubungannya dengan Adit.


"Bu, Rika mau cerita." ucap Rika malu-malu.


"Hmmm, Ibu tau ini kemana arahnya. Soal perasaan ya." ucap Bu Nur.


"Bu... Rika sama Kak Adit sudah dekat sekali." ucap Rika.


"Sayang... Semua terserah kamu, tapi ingat Nak, belajar yang rajin katanya kamu mau sukses." ucap Bu Nur menasehati Rika.


"Iya Bu, coba kalau Ayah tau pasti dia sudah meledek Rika." ucap Rika yang membuat Bu Nur sedih melihat anaknya harus kehilangan Ayahnya secepat itu.


"Selalu do'akan Ayah ya, Nak." ucap Bu Nur lalu menyuruh Rika mencuci tangannya dan tidur.


Rikapun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tangan dan kakinya, ia lalu ke kamar untuk mengistirahatkan badannya, ia tak lupa dengan ucapan Adit tadi sore, ia memegangi ponselnya. Ponselnya bergetar ada panggilan masuk yang bertuliskan nama Adit, ternyata benar Adit menepati janjinya.


"Halo... " angkat Rika sangat hati-hati.


"Hai Rika, sudah sampai rumah?" tanya Adit.


"Emm... Sudah, Kak Adit." ucap Rika gugup.


Setelah lama berbincang, Rika sudah beberapa kali menguap.


"Rika..." panggil Adit di seberang telepon.


"I...iya, Kak Adit." jawab Rika.


"Sudah ngantuk ya? Ya sudah, tutup saja telponnya, selamat istirahat Rika." ucap Adit yang terdengar sangat lembut.


"Iya Kak Adit, Kak Adit juga ya." ucap Rika yang malu-malu.


Rika menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya, ia merasa sedang bermimpi, ia masih tak percaya ternyata Adit juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Sepertinya malam ini ia tak bisa tidur nyenyak karna terus memikirkan Adit, tapi ia juga mengkhawatirkan Fina dan teman-temannya, bagaimana kalau mereka tau hubungan Adit dengannya.


"Sudahlah aku pusing, lebih baik aku tidur." gumam Rika lalu mematikan lampu kamarnya.