
Bu Nur meletakkan sepiring nasi gemuk spesial di meja makan, ia sengaja membuatnya untuk Rika. Rika yang mendengar seruan Ibunya segera menyelesaikan kegiatan mandinya. Ia buru-buru mengganti baju dan bersiap-siap.
"Wahh... Wangi sekali, Bu." Rika menghirup aroma daun pandan di meja makan.
"Dimakan ya Nak, itu spesial loh. Hadiah ulang tahunmu." ucap Bu Nur tersenyum.
"Terima kasih Bu, ini lah yang aku tunggu disetiap ulang tahunku." jawab Rika lalu melahap nasi gemuk itu dengan nikmat.
Bu Nur hanya tersenyum mendengar ucapannya anaknya itu, ia sangat bangga dengan Rika yang tak pernah mengeluh dengan keadaan mereka.
"Rika berangkat kuliah dulu ya, Bu."
"Iya hati-hati, Sayang." Bu Nur lalu pergi ke dapur.
Saat Rika hendak mengeluarkan motornya tiba-tiba Adit sudah ada didepannya. Wajah tampan itu membuatnya kaku dan tak tau harus bicara apa. Adit lalu menarik tangan Rika dan memasuki mobilnya. Tiba-tiba ia mendekati Rika dan memeluknya.
"Happy birthday."
Rika hanya diam tak menggubris ucapan selamat ulang tahun dari Adit, disamping dia masih marah, ia juga terkejut dengan perlakuan Adit, ini pertama kalinya ia diberi ucapan yang begitu romantis menurutnya, ia tak perlu kado lain, ini saja sudah cukup baginya.
"Aku tau kamu pasti marah, maaf." Adit berusaha membuat Rika tersenyum hangat seperti hari-hari sebelumnya.
"Ayo jalan Kak, aku ada kelas pagi soalnya." Rika mengalihkan pembicaraan.
Adit hanya menghela napasnya lalu melajukan mobilnya sesuai perintah Rika.
Sebenarnya Rika ingin sekali membalas pelukan Adit, tapi tubuhnya kelu saat ia ingat pesan singkat dari Fina tadi malam, hatinya terasa sakit sekali membaca pesan itu, betapa tidak penting dirinya, hingga Adit lupa hari istimewanya. Ia selalu mencoba untuk bersabar tapi hatinya yang sudah sering terluka, tak bisa menahannya.
Tanpa bicara apapun, Rika langsung keluar dari mobil Adit. Adit mencoba menahannya tapi Rika sangat cepat, ia hanya bisa diam menatap Rika yang semakin jauh meninggalkannya. Ia memang salah, seharusnya ia ada dihari istimewa gadis lugunya, tapi malah ia yang membuat Rika kecewa.
"Sudah baikan, ya?" tanya Jeni menyenggol lengan sahabatnya itu.
"Apanya?"
"Adit."
"Tidak, dia tadi menjemputku lalu memaksaku untuk pergi bersama." jawab Rika.
"Apa dia benar-benar lupa hari ulang tahunmu?" tanya Jeni lagi.
"Tadi pagi di dalam mobil sebelum berangkat, dia tiba-tiba memelukku, Jen. Dia mengucapkan selamat ulang tahun, itu membuatku meleleh sektika." Papar Rika sembari memejamkan matanya untuk mengingat kejadian tiga puluh menit yang lalu.
"Dasar, bucin! Terus kenapa belum baikan?"
"Tadi malam aku di WA sama Kak Fina, dia bilang dia kemarin bersama Kak Adit seharian." ucap Rika, wajahnya kembali lesu.
"Waduh! Kok bisa?"
"Tidak tau lah, Jen. Ayo masuk. Hari ini kan kita ada mata kuliah bahasa inggris, kamu tau sendiri kan bu Risma gimana orangnya." ucap Rika lalu menuju kelas.
Bu Risma memang terkenal dosen killer di kampus Street ini. Ia tak segan-segan memberi nilai E bagi siapa saja yang melanggar aturannya, walau hanya kesalahan sedikit. Setelah sepuluh menit, Dosen berkaca mata itu datang.
***
Rika sedang berjalan menuju taman kampus, tiba-tiba tangannya di genggam dari belakang, tak lain adalah Adit.
"Ke taman." jawab Rika singkat.
"Kamu tidak kerja kan? Nanti temani aku beli buku di tempat biasa, ya." ucap Adit, ia sudah merencanakan sesuatu untuk Rika.
"Maaf Kak, aku capek." jawab Rika cuek. Tapi ia tak menolak di genggam Adit, malah merasa nyaman sekali.
"Ayolah, aku mohon."
Rika hanya mengangguk pelan, ia bingung dengan Adit, ia sudah melupakan kesalahanya kemarin, sampai-sampai dengan santainya mengajak Rika pergi, seperti tidak ada apa-apa.
***
Adit dan Rika berjalan menuju lantai tiga Mall Journey, Mereka memasuki toko buku favorit Adit biasanya. Adit hanya memilih-milih dan tidak ada satu pun yang diambilnya, tentu saja ia tak mengambil satu buku pun, karna tujuannya datang ke Mall ialah ingin memberikan kejutan kepada gadis lugunya.
"Kenapa tidak jadi beli?" tanya Rika heran.
"Tidak ada yang bagus, kita makan saja ya. Di lantai empat ada restoran seafood yang enak." ucap Adit.
"Terserah saja." jawab Rika kesal, untuk apa dia kemari kalau tidak ada yang ingin di belinya, hanya membuang-buang waktu saja.
Di restoran seafood itu Adit sudah mempersiapkan segalanya, ia sudah memesan kursi untuk dua orang di bagian luar, hingga terlihat pemandangan yang sangat indah. Ia juga sudah memesan satu kepiting saus asam manis yang bebentuk hati.
Betapa terkejutnya Rika melihat dekorasi indah yang di buat oleh Adit, matanya tak bisa menutup, apakah ini mimpi?
"Selamat ulang tahun, Sayang." Adit langsung memeluk Rika erat. Begitupun dengan Rika, ia membalas pelukan pria tampannya itu. Tak terasa air matanya menetes, ia sangat terharu dan tak bisa berkata apa-apa lagi.
Mereka duduk di kursi yang sudah di pesan, seorang pelayan mengantarkan pesanan Adit di sertai kue brownis kesukaan Rika. Rasanya ia ingin teriak sekencang-kencangnya. Ini sungguh istimewa.
"Maafkan aku ya Rika, aku tau aku salah. Kemarin aku bukannya lupa hari ulang tahunmu, tapi Fina meminta bantuanku, Mamanya pingsan di rumah sendirian, mau tidak mau aku harus menolongnya." jelas Adit, ia ingin meluruskan kesalahpahaman kemarin.
"Tidak apa-apa." Rika meneteskan air matanya lagi, ia merasa sakit sekali mendengar Adit menyebut nama Fina di depannya.
"Jangan nangis dong." Adit lalu menyeka air mata gadis lugunya itu, ia lalu merangkul Rika.
"Aku tau kamu pasti sangat kecewa kemarin, sekali lagi aku minta maaf." Adit lalu mengelus rambut Rika.
"Kakak tau, selama ini hanya ayah dan ibuku yang memberi ucapan padaku. Di sekolah dulu, jangankan mengucapkan selamat, orang-orang saja tidak mau berteman denganku. Hanya di kampus ini aku mendapatkan teman yang tulus seperti Jeni. Dan aku berharap, aku mendapatkan ucapan spesial di hari ulang tahunku dari Kakak, tapi apa? Kakak malah tidak ada kabar sama sekali. Semua harapan yang aku bayangkan buyar seketika."
"Maafkan aku..." Adit mengusap air mata Rika yang mengalir semakin deras. "... Aku tidak tau akan jadi seperti ini, aku tidak bermaksud Rika."
"Tadi malam Kak Fina megirim WA padaku, dia berterima kasih karna aku sudah memperbolehkan Kakak bersamanya kemarin."
Adit menggeram, ia mengepalkan tangannya. Fina benar-benar sudah keterlaluan, ia memang ingin merusak rancananya, pantas saja ia tak mengabari Papa dan Kakaknya.
"Keterlaluan sekali Fina, aku terpaksa menolongnya Rika, karna dia bilang di rumahnya tidak ada siapa-siapa, tapi ternyata dia malah tidak mengabari Papa dan Kakaknya." Adit sangat kesal.
"Sudahlah Kak, tidak usah di bahas. Aku ingin menikmati pemanadangan indah ini." ucap Rika memandang langit yang biru kekuningan itu. Adit hanya tersenyum mendengar ucapan gadis kesayangannya itu.
"Suka tidak?"
"Suka sekali, terima kasih Kak Adit." jawab Rika tersenyum.
"Sama-sama." Adit lalu memeluk Rika lagi, ia sangat menyangi gadis lugunya itu, ia berjanji tidak akan membuat gadis lugunya mengeluarkan air mata lagi.