Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 63



Adit menarik tangan Rika masuk kedalam kantor, ia mendekati meja resepsionis. Ia memanggil wanita yang ada di balik meja itu.


"Ada apa, Pak?" tanya Winni.


"Kalau gadis ini datang ke kantor kita..."


"Oh baik baik, Pak. Saya akan mengusirnya, maafkan saya, tadi saya dengan mudahnya menyuruh gadis ini masuk keruangan Pak Adit." Winni menunduk.


"Saya belum selesai bicara." Adit memasang wajah marah. "Dia pacar saya, jadi kalau Rika kesini lagi jangan diinterogasi seperti tadi. Paham?"


"Baik, Pak. Maafkan saya, saya sungguh tidak tau." Winni berkali-kali menunduk, berharap tidak terjadi sesuatu padanya saat ini. Kenapa dia begitu bodoh, tak menghiraukan ucapan Adit. Semoga saja ia tak kehilangan pekerjaannya.


"Maafkan saya, Mbak. Saya tidak tau kalu Mbak pacarnya Pak Adit. Sekali lagi saya mohon maaf." Winni menoleh Rika.


Rika hanya membalasnya dengan senyuman. Ia tak tau harus bicara apa, semua orang dikantor Adit berpikir dia cuma tukang katering yang masuk sembarangan. Adit masih menggenggam tangannya hingga kembali masuk keruangannya.


"Temani aku kerja ya, hari ini tidak ada lembur. Nanti biar kuantar pulang." ucap Adit menoleh Rika yang dari tak membuka mulutnya.


"Rika...." Adit mengelus bahu gadis lugunya itu.


"Eh, iya, Kak."


"Kenapa diam saja, masih memikirkan omongan Winni tadi?" tanya Adit yang merasa tidak enak.


"Ti...tidak kok, Kak." ucap Rika berusaha tersenyum.


Mereka masuk ke ruang kerja Adit. Rika hanya duduk di sofa, memainkan ponselnya. Ia tak mau banyak tanya, takutnya Adit jadi terganggu. Matanya terasa berat sekali, sementara jam baru menunjukkan pukul tiga sore. Ia sesekali melihat Adit yang masih sibuk dengan layar laptopnya.


Bosan sekali. Tapi, melihat wajah tampan itu tak pernah bosan. Apalagi dengan setelan jas hitamnya. Adit terlihat begitu mempesona. Rika tak henti-hentinya memandangi pria beralis tebal itu.


"Hari ini banyak sekali yang harus dikerjakan. Badanku terasa remuk." ucap Adit tak mengalihkan pandangannya.


"Mau kupijat?" tawar Rika.


"Boleh."


Rika lalu berdiri, memegang bahu tegap itu dengan hati-hati. Ia harus bisa berkompromi dengan tangannya, agar jangan gemetar. Saat hendak memijat, Adit menarik tangan Rika hingga Rika terlihat seperti memeluknya dari belakang.


"Kamu bukan tukang pijat. Tangan ini tidak boleh capek juga." Adit mengelus telapak tangan Rika yang dari tadi mungkin sudah mengeluarkan keringat dingin.


"Ti...tidak apa-apa kok, Kak. Lagipula aku bosan kalau cuma duduk saja." elak Rika.


"Kalau bosan duduk, seperti ini saja terus." ucap Adit meminta Rika untuk tetap memeluknya seperti ini. Jantung Rika sudah terasa mau copot. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, Erni sudah ada dibalik pintu. Mengantar beberapa berkas yang harus ditandatangani. Ia sudah melihat kemesraan sepasang kekasih itu dari balik pintu.


Rika buru-buru melepaskan pelukannya, tapi tangannya ditahan oleh Adit. Sungguh saat ini ia merasa malu sekali. Entah bagaimana caranya keluar nanti.


"Maaf, Pak. Ini ada beberapa berkas yang harus Bapak tandatangani." ucap Erni sembari memberikan map berwarna merah itu.


Adit mengambil berkas itu lalu menandatanganinya, Ia mempersilahkan Erni keluar sembari tersenyum ramah.


"Kak Adit, aku capek berdiri seperti ini." Rika mencoba menghindari Adit. Tapi Adit malah menarik tubuh Rika hingga kepangkuannya.


Rika yakin jantungnya saat ini berhenti berdetak untuk beberapa detik. Kini tatapan Adit sangat dekat, aroma vanila ini sudah masuk kedalam tubuhnya.


"Kalau begini tidak capek kan?" Adit lalu melingkarkan tangannya. Gadis lugunya itu sungguh memecah konsentrasinya bekerja.


"Kak Adit, tidak enak kalau dilihat kariawan Kakak." Rika mencoba lepas dari pelukan Adit. Tapi tak bisa dipungkiri, iapun nyaman berada dalam pelukan hangat Adit.


"Aku kangen banget sama gadis luguku ini." Adit mencubit pipi Rika membuat si empunya meringis kesakitan, meski mencubit dengan lembut, tapi Rika tak bohong. Ini sungguh sakit.


Adit membalas senyum gadis lugunya itu, ia membiarkan Rika beranjak dari posisi tadi. Rika kembali ke sofa. Menunggu Adit menyelesaikan pekerjaannya. Dari tadi ia tak melihat Fina masuk keruangan Adit. Apa mungkin karna Ada dirinya.


Tak terasa sudah pukul empat sore, Adit sudah menutup laptopnya. Ia mengajak Rika pulang. Rika memang tidak memakai motor sendiri saat berangkat tadi. Entah kebetulan atau memang dia sudah rindu diantar pulang sama pria tampannya.


Semua menunduk hormat saat Adit lewat.


"Pacar pak Adit biasa aja, kalau dilihat. Aku lebih cantik, deh." ucap Erni yang berdiri didepan meja resepsionis.


"Iya. Aku kira dia orang katering yang mengantar makanan pak Adit. Mana aku kecepelosan mengatainya tadi." ucap Winni.


"Kamu sih, tidak tanya dulu. Untung pak Adit orangnya baik. Jadi, kamu masih bisa berdiri dibalik meja ini." ucap Erni sembari tertawa pelan.


"Aku kira Fina kekasih pak Adit." tambah Erni.


"Yah namanya bos, tidak apa-apalah lebih dari satu."


"Tapi sepertinya, pak Adit tipe orang yang setia." Erni memuji bos tampannya itu. Ia memang sudah terpikat dengan ketampanan Adit saat pidato perkenalan dulu.


"Kalau kamu dijadikan yang ketiga, mau?" goda Winni.


"Jelas mau lah."


***


Fina menggeram, mengingat kejadian tadi siang. Ia melihat kemesraan Rika dan Adit dibalik pintu kaca. Adit selalu menghindar jika didekati olehnya. Tapi saat bersama Rika, tubuhnya seperti diberi lem. Selalu nempel. Sungguh perempuan itu sangat susah disingkirkan. Semakin hari, Adit semakin menyayangi kesasihnya itu, seolah-olah benteng pertahanan mereka sangat kuat. Susah ditembus oleh Fina.


Harga dirinya seolah hilang, karna dikalahkan oleh gadis ingusan dan udik seperti Rika.


Ia memikirkan cara lain untuk menyingkirkan Rika dari kehidupan Adit. Tiba-tiba pikirannya dibuyarkan oleh ketukan pintu. Bu Elvi masuk ke kamarnya.


"Fin, ayo makan malam." ajak Bu Elvi.


"Iya, Ma."


Mereka hanya makan malam berdua, karna Pak Bima memang selalu pulang larut malam. Kevin juga tidak tinggal bersama mereka lagi. Ia sudah punya rumah sendiri bersama sang istri.


"Gimana kerjaanmu?" tanya Bu Elvi.


"Lancar, Ma."


"Bilang lancarnya kok cemberut gitu."


"Ma, jodohin Fina sama Adit dong." Fina membuat Mamanya seketika tersedak. Ada apa gerangan anaknya ini tiba-tiba minta dijodohkan. Semenjak tau Bu Niken punya anak laki-laki tampan, Bu Elvi memang berniat mendekatkan kedua anak mereka.


"Kenapa tiba-tiba ngomong gitu? Udah kebelet nikah, ya?" ledek Bu Elvi.


"Ih, Mama. Fina serius."


"Kalau Adit sudah punya pacar, gimana?" Bu Elvi melirik anaknya itu.


"Belum, kok, Ma."


"Yakin?" tanya Bu Elvi lagi.


Fina terdiam sesaat. Tapi kata pepatah sebelum janur kuning melengkung, itu berarti masih milik bersama. Ia kembali memaksa sang Mama biar bisa membujuk Bu Niken.


Bu Elvi bukan tipe pemaksa, tapi ia akan berusaha demi anaknya. Mencoba berbicara dengan Bu Niken. Fina memeluk Mamanya, ia sangat berterima kasih.