Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 81



Adit mendatangi ruangan Fina. Ia tau, pasti Fina juga ada dibalik semua ini. Bagaimana Rika tau soal dirinya dan Melodi. Siapa lagi kalau bukan Fina yang memberi tahu. Fina yang sedang asik dengan ponselnya terkejut melihat Adit masuk tanpa mengetuk pintu.


"Ada apa?"


"Fina, apa yang sudah kamu bilang sama Rika?"


Fina mengernyit. Apa yang dimaksud Adit?


"Darimana Rika tau masalahku dengan Melodi?"


"Adit... Jangan tiba-tiba nyalahin gitu, dong. Kamu belum cek ponselmu, kan?"


Kali ini Adit yang tak mengerti dengan ucapan Fina.


"Lihat dulu Instagrammu."


Adit buru-buru membuka ponselnya, ia melihat Melodi memasukkan beberapa foto mereka ke Instagram.


"Kalian cocok, kok." celetuk Fina.


"Jangan bilang, kamu yang mengirim ini sama Rika?"


Fina tak menjawab pertanyaan Adit.


"Kamu membuat hubunganku dengan Rika berakhir!"


"Bukan aku yang membuat hubunganmu berakhir. Tapi kamu sendiri, Dit. Lagipula Melodi memang selalu punya cara buat mendapatkan hatimu. Dulu kamu selalu dekat dengannya sampai melupakanku. Dan sekarang itu terjadi pada Rika." ucap Fina.


"Aku sangat mencintai Rika."


Fina tersentak mendengar ucapan Adit. Sepertinya memang tak ada ruang dihati Adit untuknya, usahanya selama ini sia-sia. Adit tak pernah memandangnya. Ia sudah lelah dengan semua ini. Mengejar Adit terus, juga tak ada gunanya.


Adit keluar dari ruangan Fina. Perkataan Fina tadi ada benarnya juga. Semua ini adalah salahnya sendiri.


***


Sandi menggaruk lengannya, bekas bintik merah masih ada di seluruh tangan dan wajah manisnya. Tiba-tiba Fina membanting pintu mobil keras.


"Ada apa, Non?" tanya Sandi yang menghentikan kegiatan menggaruknya.


"Aku kesal sama Adit."


Tolong jangan melampiaskannya padaku lagi.


Fina melihat wajah dan tangan Sandi. Masih ada bekas bintik merah. Kalau tau Sandi alergi sawi, Fina tak akan memaksanya memakan sawi itu kemarin. Ia tak tega melihat Sandi kesakitan seperti ini.


"Masih sakit?"


"Tidak, kok, Non."


"Antar aku pulang. Aku muak dikantor."


"Baik, Non."


Sesampainya dirumah Fina. Sandi tak langsung pulang.


"Non Fina..."


"Ada apa?"


"Senin besok, saya mau minta izin. Boleh?"


"Mau kemana?"


Sandi bingung harus menjawab apa. Apa dia harus jujur.


"Emm, saya... saya ada mau pulang kampung sebentar, Non."


"Jangan bohong." Fina melirik tajam ke arah Sandi.


Sandi memang susah sekali untuk berbohong. Wajah kakunya sangat kelihatan.


"Yasudah, terserah kamu. Aku pusing." ucap Fina lalu masuk kedalam rumah.


"Makasih, Non!" teriak Sandi dari kejauhan.


Fina membaringkan tubuhnya dikasur. Ia jadi kepikiran dengan Sandi. Mau apa dia izin senin besok?


Kenapa aku jadi takut kehilangan dia, ya?


Pak Bima sengaja pulang cepat, ada yang ingin ia bicarakan dengan Fina. Ia menyuruh Bu Elvi memanggil Fina agar menemuinya.


"Ada apa, Pa?"


"Duduk." ucap Pak Bima singkat.


Fina duduk disamping Pak Bima yang sedang menghisap rokoknya.


"Mendingan kamu berhenti saja dari kantornya Adit."


Fina membulatkan bola matanya, kenapa papanya tiba-tiba menyuruh ia berhenti bekerja dikantor Adit. Sepertinya Pak Bima punya rencana baru lagi.


"Bekerja di perusahaan papanya Adit itu sama sekali tak ada untungnya bagi kita. Kamu pindah saja ke perusahaan teman Papa, mereka punya anak tunggal seumuran kamu. Mana tau kalian jodoh."


"Tidak menguntungkan untuk kita, atau untuk Papa sendiri?"


"Aku betah, kok, diperusahaan Adit. Kalaupun aku berhenti bekerja disana, aku tidak akan masuk keprusahaan teman Papa."


"Kamu ini memang keras kepala, tidak pernah mau nurut apa kata Papa."


"Papa juga dari dulu tak pernah perhatian denganku, Papa tak pernah mendukung apapun yang aku dan kak Firhan lakukan. Papa sibuk dengan dunia sendiri."


PLAKK...


Sebuah tamparan menyambar di pipi halus itu. Pak Bima tiba-tiba terdiam, sebenarnya ia tak pantas melakukan itu pada anak bungsunya.


"Fina, Maafkan Papa..." Pak Bima berusaha meraih pipi kiri yang sudah berubah warna itu.


"Papa, jahat!"


Fina berlari meninggalkan Pak Bima yang masih termenung melihat telapak tangan yang secara tak sadar sudah menyakiti anaknya. Ia menghidupkan mesin mobil dengan cepat.


"Sandi!!" Fina mengetuk pintu kos-kosan Sandi. Sandi yang sedang lelap tertidur, terkejut mendengar suara yang memanggil namanya itu. Ia membuka pintu, betapa terkejutnya dia saat mendapati Fina yang langsung memeluknya.


"Ada apa, Non?"


"Sandi..."


"Ayo masuk dulu, Non." Sandi menarik tangan Fina. Ia tidak enak kalau dilihat tetangga.


Sandi melihat ada bekas merah dipipi kiri gadis cantik itu. Sepertinya ada yang tidak beres.


"Papa menamparku, Sandi." Air mata Fina mengalir deras.


"Dia memaksaku bekerja diperusahaan temannya, dan menjodohkanku dengan anak temannya. Aku tidak mau, Sandi." Sekali lagi Fina memeluk tubuh pria tinggi itu.


Sandi mengelus lembut pundak Fina, mencoba menenangkannya.


"Sebelumnya ia tak pernah menamparku seperti ini. Pria itu memang sudah dirasuki setan." Fina menggeram.


"Non Fina tidak boleh bicara seperti itu. Biar bagaimanapun, pak Bima adalah papanya Non Fina."


"Kamu tidak mengerti. Mungkin di dunia ini, tidak ada yang pernah mengerti perasaanku." Fina melepaskan pelukannya.


"Bukan seperti itu, Non..."


"Sudahlah, aku mau pergi saja."


Fina hendak berdiri tapi Sandi buru-buru menahannya. Ia takut kalau Fina akan nekat melakukan hal yang membahayakan. Fina tiba-tiba tersentak, ada kehangatan yang mengalir dari tangan Sandi. Pria ini sungguh membuatnya merasa nyaman.


"Pipi Non Fina merah sekali, biar saya kompres dengan es batu, ya."


Sandi mengajak Fina kembali duduk.


"Aww..." Fina meringis, rasanya perih sekali.


"Maaf, Non." Dengan hati-hati Sandi mengobati pipi Fina.


Tiba-tiba teman Sandi masuk begitu saja tanpa permisi, Eko memang sudah jadi teman kosan Sandi. Mereka memang akrab.


"Eh, bro! Senin besok jadi kan kita ke pabrik es krim?"


Fina dan Sandi terkejut melihat Eko yang sudah berdiri didepan mereka.


"Eh... Maaf, San. Aku gak tau kalau kamu lagi pacaran." Eko mengangkat tangannya.


Fina menelisik ucapan Eko barusan. Senin besok Sandi akan pergi ke pabrik es krim?


Fina merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Sandi.


Apa Sandi akan meninggalkanku juga?


"Kalau gitu, nanti saja kita bicaranya."


"Iya, Ko." jawab Sandi sembari memberi kode agar Eko pergi dari hadapannya.


"Seperti semua orang akan meninggalkanku!" Fina lalu keluar tanpa menghiraukan Sandi. Sandi mengejar Fina. Ia harus menjelaskan semuanya.


"Non Fina, tunggu!"


"Ada apa lagi! Aku sudah tau, apa urusanmu senin besok."


"Maafkan saya, Non. Saya dapat panggilan kerja di PT. Es Krim Milk Indonesia. Sekali lagi saya minta maaf, saya sudah berbohong pada Non Fina."


Fina semakin menangis mendengar perkataan Sandi.


"Aku mohon jangan tinggalkan aku, Sandi. Hanya kamu yang mengerti perasaanku. Aku selalu nyaman jika berada didekatmu."


"Maafkan saya, Non."


"Baiklah kalau itu keputusanmu, aku tak bisa memaksa. Aku pikir kamu tulus baik padaku, maaf sudah membuatmu susah selama bekerja denganku."


Tiba-tiba Sandi menarik tangan Fina hingga jatuh kepelukannya. Rasanya Sandi tak sanggup kehilangan Fina. Fina sangat membutuhkan dukungan darinya.


"Awalnya, aku sangat tersiksa dengan perlakuan, Non Fina. Tapi ada perasaan yang berbeda saat bersama Non Fina."


Fina membalas pelukan hangat itu.


"Berjanjilah untuk tidak akan meninggalkanku."