
Rika berjalan menuju parkiran Enjoymart, ia hendak mengambil motornya. Tapi ada yang memanggilnya dari belakang, tak lain adalah atasannya Devan.
"Rika... " panggil Devan agak berlari kecil mengejar Rika. Rika menoleh kebelakang ketika namanya di panggil.
"Eh Mas Devan, ada apa Mas?" tanya Rika sopan.
"Hmm... Gini Rik, kamu buru-buru tidak?
Aku rencananya mau ngajak mekan nasi goreng di tempat biasa." ajak Devan.
"Boleh Mas Devan, tapi sebentar saja ya Mas soalnya besok aku ada kuliah pagi." ucap Rika, sebenarnya Rika ingin langsung pulang, tapi dia tidak enak menolak ajakan atasannya itu.
Mereka berduapun pergi meninggalkan supermarket dengan sepeda motor masing-masing. Sesampainya di tempat nasi goreng itu, Devan memesan dua porsi nasi goreng dan teh hangat. Dengan cepat Rika memakan nasi goreng itu.
"Mas Devan, saya pamit pulang dulu ya." ucap Rika setelah mereka menghabiskan nasi gorengnya. Rika hendak berjalan ke penjual nasi goreng itu.
"Mau kemana Rika?" Devan menghentikan langkah kaki Rika.
"Mau bayar, Mas." ucap Rika.
"Tidak usah Rika, biar aku yang bayar." ucap Devan tersenyum.
"Wah terima kasih banyak Mas, kalau begitu saya pamit pulan duluan ya." ucap Rika berpamitan lagi pada Devan.
"Iya sama-sama, hati-hati di jalan Rik." ucap Devan masih dalam senyumnya.
***
Kringg...kringg...
Jam weker Rika terdengar beberapa kali berbunyi, tapi Rika malah menarik selimutnya hingga menutupi kepala, ia sangat lelah kemarin. Jam wekernya berbunyi lagi, Rika dengan malas mengambil dan melihat jam, matanya terbelalak melihat jam sudah mebunjukkan pukul enam tiga puluh pagi. Ia bergegas keluar kamar lalu mengambil handuk. Terlihat Bu Nur sedang menyiapkan sarapan untuk Rika.
"Bu... Sarapan Rika di bawa saja, nanti biar di kampus saja makannya." Teriak Rika dari dalam kamar mandi.
"Ya sudah, Nak." ucap Bu Nur lalu mengambil wadah bekal Rika.
Rika keluar dari kamar mandi, ia agak berlari kecil menuju kamarnya. Setelah bersiap-siap, ia lalu berpamitan pada Bu Nur.
"Rika pergi dulu ya Bu." Rika menyalami orang yang sangat di sanyanginya itu.
"Iya hati-hati sayang, ini bekalmu jangan lupa dimakan." ucap Bu Nur tersenyum pada Rika.
Rika melajukan motornya agak kencang, karna ia takut terlambat pada pelajaran Pak Ilham. Sesampainya di kampus Rika buru-buru memasuki ruangan.
"Terlambat lagi." ucap Jeni sambil memainkan ponselnya.
"Memangnya Pak ilham sudah datang ya?" tanya Rika panik.
"Belum lah, kalau Pak Ilham sudah datang mana mungkin kamu bisa duduk di dalam kelas." ucap Jeni tak mengalihkan pandangannya.
"Itu namanya aku belum terlambat, Jen." ucap Rika berusaha membela dirinya.
Tak lama mereka menunggu, Pak Ilham pun datang.
"Selamat pagi semuanya." sapa Pak Ilham pada anak-anak didiknya.
"Selamat pagi Pak." semua menjawab serentak.
Setelah Pak Ilham menerangkan materi kepada mereka semua, Pak Ilham memberikan tugas untuk membuat makalah tentang komputer klasik yang ada di dunia.
Rika hanya diam, ini sulit baginya yang tidak mempunyai laptop. Dia sendiri bingung dengan dirinya, kuliah di jurusan Tekhnik Informatika tapi tidak mempunyai sarana untuk itu.
Rika berjalan sendirian menuju taman kampus karna Jeni sudah pamit duluan ke cafe bersama temannya yang lain, Rika sengaja tidak ikut takut nanti terlambat ke supermarket. Di taman, Rika hendak duduk di bangku dekat pohon palm, tapi ia melihat sosok pria yang sedang membaca buku disitu. Rika lalu mengurungkan niatnya, ia hendak pergi dari taman.
"Kenapa tidak jadi?" ucap pria itu berjalan membuntuti Rika. Rika membalikkan badannya hingga menabrak pria itu.
"Kak Adit." Rika mendongak ke atas, ternyata pria itu Adit.
"Jadi kalau kalau tau itu aku, kamu mau duduk disitu." ucap Adit mencoba menggoda gadis kesayangannya itu.
"Hmmm... Tidak juga." ucap Rika gugup. Entah kenapa setiap Rika bertatapan dengan Adit selalu merasa gugup.
"Ayo duduklah." ajak Adit.
Rika mengiyakan ajakan Adit, mereka terdiam sejenak, Adit melanjutkan membaca bukunya. Adit memang anak kutu buku, dia juga mengambil jurusan Sastra Indonesia di kampus itu.
"Kenapa diam?" ucap Adit memecahkan keheningan.
"Memangnya mau ngobrol apa?" Rika berbalik bertanya pada Adit.
"Gimana kelasmu tadi, lancar?" tanya Adit.
"Hmm... Lancar." ucap Rika sambil menunduk.
"Yakin?" tanya Adit menatap Rika dekat.
Rika yang tadinya menunduk langsung menoleh mendengar pertanyaan Adit. Ia sangat terkejut melihat wajah Adit dengannya hanya berjarak lima senti meter, lama sekali mereka bertatapan, kejadian ini sudah terulang beberapa kali, tap kali ini detak jantung Rika lebih kencang dari sebelumnya. Ia buru-buru menjauhkan tubuhnya dari Adit.
"Kenapa, grogi ya?" tanya Adit dengan senyum manisnya.
"Enggak, biasa saja." ucap Rika.
"Ada apa Rika? Ceritalah." tanya Adit lagi, ia yakin bahwa Rika memikirkan sesuatu.
"Aku dapat tugas dari Pak Ilham untuk membuat makalah." ucap Rika, sebenarnya ia tidak mau menceritakan ini pada Adit, ia takut nanti Adit membantunya lagi.
"Tentang komputer klasik yang ada di dunia." ucap Rika lagi.
"Aku punya buku tentang itu." ucap Adit yang masih melihat buku yang di bacanya.
"Serius Kak, boleh aku pinjam?" tanya Rika memohon pada Adit.
"Boleh, Ambil saja di rumah." ucap Adit.
"Baik Kak, besok aku akan kerumah Kak Adit." ucap Rika sangat senang.
"Kenapa tidak hari ini saja?" Adit berharap hari ini ia bisa menghabiskan waktu bersama Rika.
"Hari ini aku masih kerja Kak, kalau besok sama lusa aku libur." ucap Rika.
Adit mengangguk, ia harus bersabar untuk bertemu dengan Rika besok. Rika pamit pada Adit, karna ia harus pergi ke supermarket.
***
Rika memarkirkan motornya lalu berjalan ke toilet untuk mengganti pakaiannya, Rika tak henti-hentinya tersenyum, hingga teman-temannya yang juga mengganti pakaian heran.
"Kamu sudah gila ya, Rik? Dari tadi senyam-senyum." ucap Meli salah satu kasir di Enjoymart.
"Tidak kok, memangnya dari tadi aku senyum ya?" tanya Rika, ia seperti tak sadarkan diri.
"Masak kamu sendiri tidak merasa." ucap Meli lalu merapikan rambutnya.
"Kamu lagi di mabuk cinta sama Mas Devan ya?" ucap Meli.
"Tidak! Apaan sih Mel." ucap Rika spontan mengatakan tidak, karna hatinya telah ia berikan pada pemuda tampan di kampus yaitu Aditya.
"Baguslah Rik, Mas Devan kan sudah punya kekasih." ucap Meli lalu melihat cermin.
"Benarkah?" tanya Rika lalu termenung, karna semalam dia dan Devan makan nasi goreng bersama, untung saja tidak terjadi apa-apa.
"Iyalah mungkin sebentar lagi akan menikah, dia kan sudah cukup dewasa, tapi wajahnya babyface dan tidak membosankan." tambah Meli yang memang mengagumi Devan. Rika hanya tersenyum, ia memikirkan bagaimana kalau Meli tau kemarin Rika dan Devan makan bersama, mungkin Meli bisa marah besar atau mungkin Meli akan mengadukan ke pacarnya Devan.