
Adit langsung terbangun dari tidurnya, ia masih memegangi perutnya yang masih terasa sedikit nyeri. Ia melihat ponselnya, ternyata tadi malam Rika dua kali menelponnya. Adit memang lupa menghubungi Rika seharian kemarin. Ia beranjak dari tempat tidurnya hendak membersihkan badannya, karna hari ini ia ada janji dengan Fina untuk menyelesaikan skripsinya.
Rika dan Jeni berjalan menuju ke kelas, tapi mata sahabatnya itu tertuju pada dua orang yang sedang berjalan tak jauh dari mereka.
"Rika, lihat itu!" ucap Jeni yang menepuk pundak Rika agak keras hingga membuat Rika meringis kesakitan.
"Sakit tau! Ada apa sih?" tanya Rika sembari menggosok pundaknya yang terasa panas, memang sahabatnya itu kalau memukul selalu memakai tenaga ekstra.
"Itu Adit sama Fina jalan berdua, apa kalian sudah putus?" tanya Jeni.
"Gantung... ternyata Aditlah yang menabrak Ayahku dulu, Jen. Aku tak bisa mencintai pria yang sudah membunuh ayahku." ucap Rika.
"Apa dia sudah minta maaf sama kamu?" tanya Jeni lagi.
"Setiap hari... Kecuali kemarin dan hari ini dia juga belum menyapaku." ucap Rika yang agak menyesal sekaligus khawatir jika Adit benar-benar melupakannya.
"Wah...wah bahaya tuh, Rik. Kamu sih, tidak mau dengar penjelasan dari dia dulu." ucap Jeni menakuti sahabatnya itu.
"Terus aku harus gimana ,Jen?" tanya Rika yang mulai kelihatan panik.
"Tidak tau lah Rik, kamu siap-siap nangis kejer aja lihat dia sama Fina si ular kobra itu, apa lagi dia punya peluang seperti ini." ucap Jeni.
"Ah kamu Jen, tapi kalau memang itu jalannya aku ikhlas." ucap Rika yang membohongi sahabatnya itu.
"Yaelah, kamu ketauan sekali bohongnya, tenang saja Rik, Kak Adit itu orang nya tidak mudah jatuh cinta, cuma kamu yang bisa meluluhkan hatinya. Kalau mau, bisa saja dia gonta-ganti pacar, lihat semua cewek di kampus ini tergila-gila padanya, tapi tak satupun yang mampu memikat hatinya." Jeni berceloteh panjang lebar.
"Sok tau." jawab Rika singkat, tapi ia juga senang mendengar ucapan Jeni.
"Siapa sih di kampus ini yang gak kenal sama Aditya Vareplint? Semua orang selalu menceritakannya." ucap Jeni membentangkan kedua tangannya.
"Sudahlah, Jen. Ayo masuk kelas tiba-tiba, disini gerah." ucap Rika menarik tangan Jeni.
"Pastinya gerah, orang mataharinya didepan kamu, haha." ucap Jeni meledek temannya itu. Rika makin cemberut dan langsung memasuki kelas.
***
Rika sedang menikmati mie instan di kantin, kali ini ia sendirian karna Jeni entah kemana perginya, jam segini memang sahabat barbar nya itu selalu keluyuran entah apa yang di cari. Ketika hendak menghabiskan mie nya, tiba-tiba ditahan oleh seseorang di belakangnya.
"Untukku, ya." ucap Adit lalu mengambil suapan terakhir Rika.
"Apaan sih Kak! Itukan punyaku." ucap Rika dengan nada agak tinggi.
"Makan saja dengan fansmu sana." bisik Rika yang di dengar oleh Adit.
"Siapa?" tanya Adit bingung.
"Mana aku tau, fansmu kan banyak."
"Cemburu, ya?" ucap Adit, matanya melirik Rika.
"Apaan sih, enggak!" ucap Rika lalu memukul perut Adit.
"Aww..." Adit memegangi perutnya, tapi ia rela kalau di pukul terus-terusan.
"Kakak kenapa?" Rika langsung mengelus perut bagian kanan Adit, ia terlihat sangat cemas. Adit langsung memegang tangan Rika.
"Sakit ini belum seberapa dibanding sakit hatimu yang tau kalau aku ini seorang pembunuh"
Perkataan Adit membuat Rika diam sejenak, hatinya terasa tertusuk belati. Tak terasa air matanya menetes. Adit langsung menyerka air mata gadis lugunya itu.
Kak Adit... Aku belum bisa terima kenyataan, batin Rika. Ia langsung meninggalkan Adit, ia berjalan ke sembarang arah.
"Aw... Kenapa perutku ini sakit lagi ya? Apa karna aku telat minum obat kemarin." gumam Adit. Perut bagian kanannya itu memang terluka parah saat kecelakan maut dulu, pecahan kaca mobilnya tertusuk sangat dalam. Rika tidak benar-benar pergi dari tempat itu, ia memperhatikan Adit yang tengah kesakitan. Ingin ia menghampirinya, tapi langkahnya sangat berat sekali.
***
Pukul lima sore, Adit hendak keluar rumah untuk joging, cuaca sore ini terlihat mendung. Ia sudah pamit dengan Bik Eli agar tak menghawatirkannya. Sampai pukul delapan malampun Adit belum juga pulang. Bik Eli mencoba menelpon Rika.
"Halo... Nak Rika."
"*I*ya, ada apa Bik?" tanya Rika di seberang telepon.
"Yang benar Bik? Maaf Bik, Rika juga tidak tau Kak Adit kemana, sekarang Rika lagi kerja Bik." ucap Rika menerangkan.
"Ya sudah Nak Rika, Bibik tutup telponnya." Bik Eli lalu menutup telponnya.
Perasaan Rika menjadi tak karuan mendengar kabar dari Bik Eli, ia jadi tidak fokus lagi dengan pekerjaannya. Kemana perginya Adit, sampai malam begini belum pulang juga.
***
Adit berjalan sempoyongan di tengah hujan deras, kepalanya terasa sangat sakit mengingat masalalunya, di jalan ini lah ia menghilangkan nyawa ayah Rika. Tiba-tiba ada dua orang berbadan besar menghampiri Adit.
"Eh, cowok ganteng. Mau kemana hujan-hujan begini?" ucap salah satu orang itu.
"Sikat bro! Kayaknya tajir nih anak muda." bentak yang satunya lagi.
"Heh bocah, serahin barang-barang kamu!" ucap preman itu, ia sudah menarik leher baju Adit.
"Maaf bang, saya gak bawa apa-apa." Adit mencoba mempertahankan ponsel yang di kantongnya. Dengan cepat dua preman itu memukuli perut Adit.
"Mau mengucapkan kata-kata terakhir?!" ucap preman itu lalu memukuli perut Adit berkali-kali. Ternyata preman itu membawa senjata tajam.
"Saya cuma bawa hape bang, ambil saja." ucap Adit yang setengah tidak sadar karna sudah tak berdaya lagi.
"Ambil bro! Sebelum orang sadar dengan keberadaan kita!"
"Woy! Ngapain kalian?" teriak beberapa orang yang sedang ngopi santai di ujung jalan, mereka baru melihat kejadian itu.
"Rampok!!!" seru beberapa orang lalu berlari mengejar ke arah Adit.
Dua preman itu secepat kilat berlari, tak sengaja preman itu menggoreskan pisaunya ke lengan kiri Adit. Adit tergeletak bersimbah darah.
"Ayo bawa ke rumah sakit, cepat!"
Bapak-bapak itu buru-buru memboyong Adit lalu membawanya ke rumah sakit. Salah satu Bapak itu mengenali wajah Adit.
"Wah, Pak Sani. Saya kenal anak ini, dia anaknya pak Arsan dan bu Niken orang kaya itu, dulu saya pernah kerja di kebunnya." ucap Pak Dahlan.
Pak Dahlan segera kerumah Adit untuk menyampaikan kabar buruk ini, alangkah terkejutnya Bik Eli mendengar kabar itu. Bik Eli langsung mengambil ponselnya untu menghubungi orang tua Adit.
"Halo Bu... Nak Adit, Bu." ucap Bik Eli sangat panik.
"Ada apa Bik? Tenang, bicara pelan-pelan" ucap Bu Niken di seberang telepon.
"Nak Adit masuk rumah sakit Bu, tolong secepatnya Bapak sama Ibu pulang."
Bu Niken menjatuhkan ponselnya, bibirnya mendadak menjadi kaku, Pak Arsanpun bingung melihat istrinya itu.
"Anak kita masuk rumah sakit Pa! Ayo cepat kita ke sana." ucap Bu Nike sangat histeris.
"Ayo, Bu."
Pak Arsan langsung melajukan mobilnya dengan cepat. Sesuai perintah Pak Arsan, Adit langsung di pindahkan ke ruang VIP.
Bu Niken mondar-mandir di depan Pak Arsan, sesekali ia melihat ke dalam ruangan Adit.
Dokter yang menangani Adit keluar, Bu Niken buru-buru menghampirinya.
"Bagaimana, Dok?" tanya Bu Niken dengan cepat.
"Anak ibu tidak kenapa-kenapa, hanya ada luka lebam di perutnya dan luka di lengannya cuma tiga jahitan kok, sepertinya anak Ibu ini punya luka lama di perut bagian kanan ya?"
"Iya Dok, dulu di pernah kecelakaan."
"Kalau begitu kita lihat hasil ronsennya nanti ya Bu, siapa tau ada yang luka lagi di bagian dalam."
"Iya terima kasih, Dokter" ucap Bu Niken lalu masuk melihat kondisi anaknya itu. Terlihat Adit sedang tidur.
"Ya ampun Papa, kenapa nasib anak kita seperti ini." ucap Bu Niken tersedu-sedu, ingin ia menggantikan posisi anaknya itu.
"Sudah Ma, Adit pasti baik-baik saja." ucap Pak Arsan mengelus pundak istrinya.