
Jeni berjalan dengan lesu menuju kelas, karna hari ini ada kelas bahasa inggris. Bukan pelajarannya yang ia tak suka, melainkan tergantung siapa dosennya. Rika berlari menghampirinya, ia menggandeng sahabatnya itu.
"Kenapa lesu sekali?"
"Kelas pagi malah bahasa inggris." ucap Jeni cemberut.
"Kalau dosennya ganteng, muda, terus jomblo gimana?" Rika melirik Jeni.
"Pasti semangat lah! Jangankan bahasa inggris, fisikapun aku sanggup." Jeni menegakkan kepalanya.
"Hahaha, dasar jelalatan."
Di dalam kelas, semua sibuk dengan urusan masing-masing, ada yang sedang memainkan laptop, ada juga yang bernyanyi tak jelas, sampai akhirnya semua terdiam ketika ada suara yang berbeda memasuki ruangan. Mereka yakin kalau dosen bahasa inggris belum pindah ke kampus lain, tapi suara dari balik pintu itu bukanlah suara Bu Risma.
"Pagi, semua..."
"PAGIII..."
Semua riuh terlebih para gadis yang ada di kelas itu, saat melihat laki-laki yang memakai jeans hitam dan kemeja polos senada. Rika tak mengedipkan matanya, apa benar seseorang yang sedang berdiri di depannya ini adalah sang pujaan hatinya. Jeni yang sedari tadi lesu, mendadak membulatkan bola matanya, tak ada satu kedipan pun. Ia menyenggol lengan sahabatnya itu.
"Perkenalkan saya Aditya, saya adalah asisten bu Risma, tadi bu Risma menugaskan saya untuk mengajar di kelas ini, beliau memberikan beberapa tugas untuk kalian."
Cuma beberapa yang mendengarkan ucapan Adit, para gadis masih tercengang melihat pria tampan yang berdiri di depan mereka. Rika beberapa kali mengucek matanya yang tidak gatal itu, ia melihat Adit yang tengah menerangkan pelajaran.
"Rik! Apa dia tidak cerita sama kamu?" tanya Jeni mengejutkan Rika.
"Tidak, Jen. Dia cuma mentraktirku, tapi dia memang sangat senang sekali kemarin." Rika mengangguk, ia sudah tau apa kejutan yang akan Adit berikan padanya hari ini.
"Kak Adit ganteng banget, Rik. Kamu lihat semua mata para cewek melihatnya, jangankan mereka akupun terpana." goda Jeni.
"Apaan sih Jen! Tidak lucu ah."
"Siapa yang ngelawak. Ini fakta, Rik."
***
Rika memukul lengan Adit yang sedang memakan mie instannya. Adit hanya menoleh Rika dengan senyum manisnya, ia tau pasti Rika akan melakukan itu padanya.
"Jadi ini kejutannya?"
"Memangnya kenapa, aku senang bisa melihatmu terus." jawab Adit.
"Tapi yang melihat Kakak banyak." ucap Rika lalu memakan mienya.
"Cemburu?"
"Tidak."
"Yang benar?" Adit menatap gadis lugunya itu.
Rika tersentak dengan tatapan maut itu, ia menghentikan kegiatan makannya, lalu dengan cepat meminum jus jeruk di sampingnya. Tatapan seperti ini sudah sering kali membuatnya salah tingkah, membuat jantungnya berdebar lebih kencang.
Sebenarnya Rika senang jika Adit menjadi Asdos, tapi ia juga khawatir jika bertemu Adit, saat belajar akan memecah konsentrasi dan juga perasaannya. Semua cewek di kelasnya pasti akan selalu menggoda Adit, rasa cemburunya akan selalu muncul di saat seperti itu. Ia juga canggung jika di ajar oleh pacar sendiri, rasanya tidak enak saja.
Rika masih terdiam sampai di dalam mobil, ia masih merasa kalau yang terjadi hari ini cuma mimpi. Sampai Adit membuyarkan lamunannya.
"Masih terpesona melihatku mengajar tadi ya?" tanya Adit tersenyum.
"Ge-er."
"Iya, banyak merekomendasikan beasiswa ke luar negeri juga" jawab Adit.
"Apa Kakak kepikiran mau mengambilnya?"
"Gimana ya, sayang juga kalau tidak diambil."
Rika hanya mengangguk pelan, ia paham maksud Adit, jika dia jadi Adit ia juga bakal berpikir demikian. Tapi kalau Adit benar-benar mengambil beasiswa itu, berarti Adit akan meninggalkannya, Besar kemungkinan, Adit akan mudah melupakannya. Pikiran Rika sudah menjelajah kemana-mana, tak ada satu pikiran positif tentang Adit yang nyangkut di otaknya saat ini. Memang susah jika dekat dengan orang sepintar dan setampan Adit.
"Tidak kok, aku tidak akan mengambil beasiswa itu. Aku akan meneruskan perusahaan papa, karna ini sudah waktunya aku membantu papa." ucap Adit yang membuat cewek disampingnya itu tersenyum.
"Kapan sidang skripsi Kakak?"
"Bulan Januari. Ujung"
"Semoga lancar ya, Kak." ucap Rika menyemangati Adit. Ucapan itu terdengar kaku sekali. Rika tak pandai memuji, untuk mengatakan itu saja ia merasa malu sendiri.
"Iya. Selalu doakan aku ya."
***
Tinggal beberapa hari lagi Devan akan melepaskan masa lajangnya. Ia sudah mempersiapkan semuanya dengan matang, termasuk ucapan ijab kabul nanti. Setiap malam ia mengahapal ucapan itu, agar lancar di depan penghulu nanti.
Devan mengeluarkan ponsel disaku celananya, ia hendak menelpon Rika. Ia harus memastikan Rika datang ke pesta pernikahannya nanti.
"Halo, Rik."
"Halo Mas Devan, ada apa ya?"
"Kamu jangan lupa datang ya ke pesta pernikahanku nanti. Kalau gak datang aku marah." ucap Devan dengan nada mengancam.
Devan memang sangat berharap Rika datang, karna ia menganggap Rika seperti Adiknya sendiri.
"Iya Mas. Saya pasti datang."
Sebenarnya Rika memang berat untuk datang ke pesta pernikahan Devan, sejak tau Devan adalah sepupu Fina, ia takut akan terjadi hal-hal yang buruk nantinya. Fina memang selalu menjadi ancaman bagi Rika, terlebih sekarang Rika sudah sangat dekat dengan Adit. Membuat rasa benci Fina terhadapnya semain bertambah.
Tapi ini adalah pesta pernikahan atasannya di supermarket, tidak hanya itu saja. Devan adalah anak pemilik supermarket berlantai empat itu. Tidak mungkin ia mengabaikan undangan yang istimewa ini, apalagi Devan sampai menelponnya seperti tadi, itu berarti Devan sangat menghargai keberadaannya.
***
Rika membaringkan tubuhnya sambil memeluk boneka spongebob kesayangannya. Di luar sedang hujan lumayan deras, yang membuatnya enggan menutup mata cepat-cepat. Ia memikirkan akan memakai baju apa ke pesta pernikahan Devan nanti. Kalau Meli tau apa yang ia pikirkan saat ini, pasti ia akan mengontani Rika.
"Ah tidak usah dipirkan lah, tapi pasti nanti Kak Adit ganteng sekali. Aku tidak akan cocok berada disampingnya. Aduh pusing." gumam Rika lalu menepuk jidat.
Pikiran Rika memang selalu rumit, ia sering sekali memikirkan sesuatu yang bahkan tidak pernah terjadi, kadang iapun heran dengan dirinya sendiri. Ia mengambil ponsel di atas meja, seketika wajah lelah itu menjadi senyum-senyum sendiri melihat layar ponsel. Ada notifikasi WA dari Adit.
Adit : Pasti belum tidur, sudah malam. Istirahatlah.
Rika : Kok, tau?
Adit : Karna malam ini sedang turun hujan, aku tau sekali apa yang kamu lakukan.
Rika memabalas pesan Adit dengan senyum di wajahnya. Setiap Adit menghubunginya, ia selalu senyum-senyum tak jelas. Maklum, tingkah seperti itu memang ada pada orang yang sedang jatuh cinta. Normal.
Rika memeluk ponselnya hingga terlelap. Guling tak berlaku lagi jika ponselnya dihubungi oleh Adit.