Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 70



Besok ada acara pertemuan sesama kolega di kantor. Pak Arsan dan Bu Niken juga menghadiri.


"Apa semua sudah siap, Fin?" tanya Adit.


"Sudah, Dit. Tinggal kateringnya. Aku akan memesan katering punya mamanya kak Devan saja."


Adit memegang lengan Fina.


"Em, jangan, Fin."


"Kenapa?"


"Biar aku yang pesan. Kita akan pesan katering dari bu Nur saja."


"Nasi gemuk?" Fina mengerutkan dahinya. Bagaimana bisa Adit memikirkan hal seperti itu. Kolega pak Arsan bukanlah orang sembarangan, lalu apa pantas hanya disuguhkan katering rumahan. Nasi gemuk pula.


"Malu, Dong."


"Kenapa malu, nasi gemuk buatan bu Nur sangat enak."


"Terserah kamu." Fina keluar dari ruangannya. Ia tak habis pikir dangan ide konyol Adit. Adit memang sudah dibutakan oleh cintanya. Ini pasti ada kaitannya dengan Rika.


***


"Halo, Rika..."


"Halo, Kak Adit. Ada apa?"


"Besok aku mau pesan nasi gemuk Ibu. Ada acara di kantor."


"Waahh... Boleh banget, Kak."


"Baiklah. Aku pesan dua ratus kotak, bisa?"


"Bisa, Kak. Lagipula aku libur besok."


"Baguslah. Seklian kamu kesini, ya." Adit sangat berharap akan bertemu Rika besok. Sungguh rasa rindu pada gadis lugunya itu tak bisa dibendung lagi.


"Emm... Gimana, ya."


"Jangan nolak, besok aku jemput jam dua."


Rika menutup telponnya, ia harus mengumpulkan mentalnya mulai malam ini. Sekarang yang terpenting adalah pesanan Adit. Rika mempercepat langkahnya menuju dapur. Bu Nur pasti akan senang mendengar kabar ini.


"Ibu... Kita dapat pesanan nasi gemuk dua ratus kotak." Rika memeluk Bu Nur yang sedang sibuk memasak.


"Yang benar?" tanya Bu Nur.


"Iyaaa...." Rika memanjangkan ucapannya. Saking senangnya.


"Siapa yang pesan sebanyak itu, Nak?" tanya Bu Nur heran. Selama ia berjualan, ini adalah pesanan terbanyak.


"Kak Adit, Bu. Besok ada acara di kantornya."


"Alhamdulillah, kalau gitu kamu harus bantu Ibu." ucap Bu Nur tersenyum.


"Sip." Rika mengacungkan jempolnya. Ia sudah sangat siap membantu Ibunya. Tapi entah bagaimana dengan mentalnya. Sepertinya belum siap, apalagi besok ia akan dihadapkan dengan Fina yang pasti selalu ada disamping Adit.


***


Bu Nur sudah memasukkan semua nasi gemuk ke tas besar. Hatinya sangat senang sekali mendapat orderan sebanyak ini. Kalau seperti ini, modal yang sudah ia keluarkan selama tiga hari kemarin pasti akan balik, pikirnya. Adit sangat baik sekali padanya, untuk ukuran makanan orang kantor seperti itu, Adit mau memesan nasi gemuk sederhananya.


Rika sudah bersiap-siap di kamarnya. Sesekali berkaca di cermin. Memastikan apa dia akan pede dengan pakaian yang hanya jeans hitam dan kaos hitam panjang.


Tak lama suara mobil Adit tiba di depan rumah. Rika keluar membawa nasi gemuknya dengan susah payah. Adit keluar dari mobilnya. Gadis lugunya itu memang jarang sekali mengeluarkan sifat manjanya. Ia sanggup membawa barang berat itu sendiri, tanpa meminta bantuan Adit. Adit tentu saja tak mau melihat Rika membawa benda berat seperti itu.


"Biar aku yang bawa." Adit mengambil dua tas besar yang berisi nasi gemuk pesanannya.


Setelah menaruhnya di bagasi mobil, ia menemui Bu Nur untuk melunasi sisa uang kateringnya.


"Ini uangnya, Bu. Terima kasih, Bu, sudah mau repot-repot menerima pesanan saya sebanyak ini."


"Ini kebanyakan, Nak." Bu Nur membuka amplop coklat itu.


"Tidak apa-apa, Bu. Tolong diterima, ya. Saya mohon." Adit memegang tangan Bu Nur. Hanya dengan cara ini lah ia bisa membantu Bu Nur.


"Terima kasih banyak, Nak Adit."


Sesampainya di kantor, Adit mengeluarkan nasi gemuk itu dari mobilnya. Membawanya masuk ke dalam. Ia juga meminta bantuan Rika untuk menyiapkan semuanya di atas meja. Rika hanya menuruti kata Adit, ia berjalan menunduk menahan malu, semua kariawan di kantor itu menatapnya sinis. Apalagi sekarang Adit menggandengnya. Rasanya kaki Rika tak bisa melangkah.


Sementara di depan, Adit celingukan mencari Rika. Ia melihat-lihat di kerumuman itu, tidak ada gadis berbaju hitam itu.


"Dit, ini makanannya enak sekali. Sederhana namun nikmat." Pak Arsan menepuk pundak Adit.


Adit hanya membalas ucapan Papanya dengan senyuman. Ia masih mencari keberadaan gadis lugunya itu.


"Ini nasi gemuk buatan bu Nur, ya?" tanya Bu Niken.


"Iya, Ma."


"Wah... Pantes." ucap Pak Arsan tersenyum meledek anaknya.


"Apaan sih, Pa." Adit menjadi salah tingkah.


"Oh, ya. Dimana Rika?" tanya Bu Niken yang memang belum melihat Rika dari tadi.


"Sebentar aku cari dulu ya, Ma."


Adit berjalan ke tempat makanan, tapi Rika tidak ada. Fina juga tidak ada di tempat itu, membuat Adit semakin khawatir. Ia takut kalau Fina akan berbuat yang tidak-tidak pada Rika. Ternyata Fina pergi keluar untuk makan siang, karna ia tak akan sudi memakan nasi gemuk, apalagi dari Rika. Ia sangat kesal dengan acara ini.


Kemana perginya Rika. Adit mengusap wajahnya gusar. Ia berjalan ke dapur, mana tau Rika ada di ruangan OB. Benar, Rika sedang duduk di kursi bersama dua perempuan yang berseragam biru muda.


"Kenapa duduk disini?"


"Aku malu kalau ke depan. Lihatlah pakaianku. Nanti Kakak juga malu sama orang-orang itu." Rika berdiri melihat kondisinya.


"Ngomong apa, sih. Ayo kedepan, Papa sama Mama mau ketemu kamu." Adit menarik tangan Rika.


Diah dan Ranti hanya tercengang melihat pasangan itu.


"Om, tante. Maaf saya tadi niatnya cuma mau ngantar kateringan Ibu. Tapi, Kak Adit tidak boleh pulang. Jadi agak lusuh gini."


"Tidak apa-apa, Sayang." Bu Niken memeluk Calon menantunya itu. Ia sudah lama tidak bertemu dengan Rika.


"Kamu apa kabar?" tanya Pak Arsan yang baru pertama kali bertemu dengan kekasih anaknya itu.


"Alhamdulillah, baik, Om. Senang bertemu dengan, Om." Rika menundukkan kepalanya.


"Iya saya juga senang bertemu dengan calon menantu." Jarang-jarang Pak Arsan bersikap ramah dengan orang pertama kali ia temui.


Ucapan Pak Arsan membuat gadis berambut lurus itu menjadi semakin salah tingkah. Adit hanya tersenyum bahagia. Orangtuanya bisa akrab dengan calon istrinya.


Setelah semua acara selesai, Adit berpamitan dengan kedua orangtuanya. Ia akan mengantar Rika pulang. Rika hanya bisa memegang erat lengan Adit di tengah tatapan kariawan Adit.


"Tunggu disini sebentar. Aku lupa mengambil sesuatu di ruanganku."


"Aku tunggu di mobil saja, ya."


"Tidak usah, ikut aku saja ke atas." ajak Adit.


Rika menggeleng. Tadi saja ia setengah mati menahan malu melewati orang-orang yang ada disana. Apalagi harus melewatinya lagi, ia harus mengumpulkan mentalnya lagi.


"Sudah, Ayo." Adit menarik tangan Rika.


Adit mengambil dua batang coklat di laci meja kerjanya. Ia memang sudah membelinya tadi pagi, tapi lupa memberikannya pada Rika.


"Untukmu." Adit menyodorkan dua batang coklat itu.


"Wahhh... Ini bonus katering ya, Kak." Rika mengambil coklat di tangan Adit.


Kalau sudah melihat coklat Rika seolah lupa bagaimana menahan malu saat turun nanti. Ia membuka sebatang coklat itu lalu memakannya.


"Makasih, ya, Kak. Kakak mau?"


"Mau." Adit mengangguk. Ia sangat senang melihat wajah Rika yang seceria ini.


"Ini.." Saat Adit hendak mengambilnya, tiba-tiba Rika memakan semuanya. Adit hanya tersenyum, gadis lugunya ini sudah berani menggodanya. Tiba-tiba tangan Adit mendekati bibir Rika, membersihkannya. Ia lalu mengisap jempolnya yang ada coklat dari bibir Rika.


"Tidak enak."


"Kak Adit... Aku bercanda, ini ambilah." Rika menyodorkan coktlat ditangannya. Tapi Adit menghalau tangan itu, ia memajukan wajahnya lalu mengecup tepat dimana coklat itu belepotan.


"Ini baru manis." Adit mengecup bibir belah itu sekali lagi. "Makanya, jangan menggodaku." Adit tersenyum melihat ekspresi wajah gadis lugunya itu.


Rika tercengang, tak menyangka dengan apa yang sudah Adit lakukan.


"Permisi, Pak. Saya mau membereskan ruangan Bapak." Diah masuk membawa kain pel. Sebenarnya ia sudah melihat kejadian lima menit yang lalu. Perempuan beseragam biru muda itu jadi senyum-senyum sendiri.