
Mobil Adit sudah di ambil oleh Pak Adi, supir pribadi Papanya. Kebetulan papa dan mama Adit belum pulang. Adit mengambil motor Rika dan menyuruh Rika naik.
"Hati-hati, tanganmu." ucap Adit.
"Iya..." ucap Rika menahan sakit.
"Kak Adit... Sebenarnya aku mau ke makam ayah." ucap Rika lagi.
"Tapi tanganmu?" tanya Adit, ia takut kalau Rika masih kesakitan.
"Tidak apa-apa kok Kak, aku mau memberikan kabar bahagia ini pada Ayahku, aku mau mendoakannya." ucap Rika menahan air matanya.
"Baiklah, kita kesana." ucap Adit lalu menuju ke pemakaman.
Merekapun sampai di pemakaman, Rika dan Adit menuju ke makam Almarhum pak Riyadi. Rika dan Adit duduk di depan makam dan mulai berdo'a, tak terasa air matanya menetes, bukan tak ikhlas tapi ia teringat kenangan indah bersama Ayahnya dulu.
"Aamiin..." Rika dan Aditpun selesai berdo'a
"Ayah... Rika sekarang sudah kuliah, sekarang Rika sudah punya laptop, dulu Rika pernah bilang sama Ayah kalau Rika sudah punya laptop kita main game sama-sama, Rika akan kerja keras biar sukses, biar bisa membahagiakan Ibu dan juga Rika selalu kirimkan do'a untuk Ayah." ucap Rika sembari memegang batu nisan yang bernama Riyadi itu. Adit mengelus pundak Rika, ia juga merasa sedih juga terharu mendengar ucapan Rika.
"Ayah kamu pasti bangga sama kamu, Rika." ucap Adit. Rika menoleh Adit dengan senyum, ia merasa ada yang beda dengan perhatian Adit.
"Terima kasih, Kak Adit sudah menolongku dan menemaniku ke makam Ayah." ucap Rika, ia tak menyangka hubungannya dengan Adit sedekat ini.
Langit sudah mulai agak kekuningan, tepat pukul empat sore mereka pergi meninggalkan makam Ayah Rika.
"Kak Adit, awas di depan ada mobil besar." ucap Rika sangat khawatir dengan motor kesayangannya.
"Iya Rika, aku tau." ucap Adit senyum melihat Rika ketakutan.
"Maaf Kak Adit, soalnya aku takut kalau Kak Adit tidak terbiasa pakai motor ini." ucap Rika.
"Tenang saja Rika, aku sudah biasa kok pakai motor ini, beginipun aku bisa." ucap Adit lalu memegang rem sebelah kanan, yang membuat Rika spontan memeluknya dari belakang.
"Kak Adit sengaja ya, tanganku sakit lagi nih." ucap Rika membohongi Adit.
Adit lalu menghentikan motornya, ia langsung melihat keadaan Rika, ia sangat terlihat cemas.
"Maafkan aku Rika, sakit lagi ya?" Adit lalu mengelus lengan Rika.
"Tapi bohong... Hahaha." Rika tertawa melihat tingkah Adit.
"Tidak lucu, beraninya kamu ya bikin aku cemas lagi." ucap Adit lalu mencubit pipi Rika.
"Awww... Sakit Kak Adit, lagi pula kenapa Kakak cemas padaku?" gumam Rika lalu menunduk.
"Bicara apa?" tanya Adit gemas.
"Tidak ada, ayo jalan." ucap Rika, ia tak sengaja mengatakan itu.
***
Pukul tujuh pagi, Pak Arsan dan Bu Niken berpamitan pada Adit, karna sudah tiga hari mereka pulang ke rumah, mereka harus pergi lagi untuk memantau perusahaan tekstilnya yang sekarang sedang sangat maju.
"Jaga diri ya, Sayang. Kalau ada apa-apa langsung kabari kami." ucap Bu Niken memeluk anaknya itu, sebenarnya ia ingin tetap di rumah bersama Adit.
"Iya, Ma, Pa." Adit mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Papa lihat sekarang kamu sudah agak sering keluar." ucap Pak Arsan melirik Adit.
"Baguslah Pa, tapi jangan lakuin yang aneh-aneh ya." ucap Bu Niken.
"Oh ya sampaikan salam Mama sama Rika ya." tambah Bu Niken.
"Pacarmu?" tanya Pak Arsan pada Adit.
"Bukan Pa, Rika cuma junior Adit di kampus." ucap Adit, ia masih merahasiakan perasaannya.
Pak Arsan dan Bu Niken memeluk anaknya, mereka berpamitan dan menuju mobil, Adit melambaikan tangannya. Sebenarnya Adit tak ingin kedua orang tuanya pergi.
Adit lalu mengeluarkan mobilnya, ia juga hendak berangkat ke kampus. Sesampainya di kampus Adit melihat-lihat di parkiran motor, ia ingin memastikan Rika sudah datang atau belum, sepertinya itu sudah menjadi kebiasaannya. Adit keluar dari mobilnya, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
"Kak Adit..." ucap Rika mengejutkan Adit.
"Kamu mengejutkanku, Rika." ucap Adit, padahal dalam hatinya ia sangat senang di hampiri Rika.
"Maaf Kak, aku...aku cuma mau mengembalikan flashdisk Kakak yang kemarin aku pinjam." ucap Rika lalu menyodorkan benda kecil itu.
"Tidak usah Rika, siapa tau nanti kamu butuh lagi." ucap Adit tersenyum.
"Oh ya aku bawa baju Ayahmu yang kupinjam, maaf lama soalnya aku lupa." ucap Adit lalu membuka pintu mobil, ia mengambil baju Ayah Rika.
"Tidak apa-apa, Kak." ucap Rika tersenyum lalu mengambil baju Ayahnya itu. Fina dan teman-temannya melihat dari kejauhan, ia sangat geram melihat Adit dan Rika yang tampak akrab. Adit dan Rika pun sudah tidak ada lagi di parkiran.
"Kita atur strategi, aku sudah muak sekali dengan si udik itu!" ucap Fina mengepalkan tangannya.
"Rupanya dia masih berhubungan dengan Adit Fin, sepertinya dia menantangmu." ucap Sela menambahkan yang membuat Fina semakin geram.
"Kamu tau kelas si udik itu kan?" tanya Fina pada Sisil.
"Memangnya untuk apa Fin?" tanya Sisil balik.
"Dasar kamu ini! Nanti kalian ambil bajunya, terus kalian ajak dia ke taman sebelah kampus." ucap Fina memerintahkan kedua temannya.
"Siap boss!!" ucap keduanya.
Sela dan Sisil berjalan menuju ke kelas Rika, ia melihat seseorang keluar dari kelas itu, ternyata itu Rika, ia hendak ke toilet. Mereka berdua pun mengikuti Rika diam-diam.
Setelah di toilet Rika meletakkan tasnya di luar lalu ia masuk ke dalam toilet. Sisil segera mengambil baju dan celana yang ada di dalam tas Rika.
"Ayo cepat!" ucap Sela berbisik, merekapun pergi meninggalkan toilet.
Rika keluar lalu mengambil tasnya, ia tak sadar kalau baju dan celana Ayahnya sudah tidak ada di tasnya.
Rika berjalan hendak pulang, tiba-tiba ada yang memanggilnya.
"Rika..." panggil dua orang dari belakang.
Ada apa dua orang itu memanggilku? Batin Rika.
"Tunggu Rika, kami ingin mengajakmu ke taman sebelah kampus, Fina ingin bertemu denganmu, ia mau minta maaf sama kamu." ucap Sela berbohong.
"Aku sudah memaafkan kalian, aku sibuk." ucap Rika hendak pergi.
"Aku mohon ikutlah dengan kami, Fina sangat menyesali perbuatannya, ia sangat merasa bersalah sama kamu, ia sekarang duduk di taman sedang menangis." ucap Sisil menambahkan.
"Ya sudah, ayo." ucap Rika, ia tak yakin dengan yang di ucapkan oleh Sela dan Sisil, tapi ia ingin melihat apa lagi yang di lakukan Fina padanya.
Mereka pun pergi menuju taman di sebelah kampus, di taman Fina sudah menyiapkan korek api dan minyak.
"Hai, Rika..." ucap Fina dari kejauhan.
Rika terkejut melihat Fina sedang memegang baju dan celana Ayahnya, ia langsung memeriksa tasnya ternyata benar di tas tidak ada.
"Itukan pakaian Ayahku." ucap Rika berteriak.
"Maaf, Rika... Aku tidak sengaja." ucap Fina lalu membakar baju Ayah Rika.
"Kalian jahat!!" ucap Rika lalu menangis sejadi-jadinya.
"Ayahku sudah tidak ada, hanya itu yang aku punya untuk mengenang ayahku." tambah Rika masih dalam tangisannya.
"Itu akibatnya kalau kamu melawan seorang Fina, kenapa masih mendekati Adit?!" ucap Fina membentak Rika lalu meninggalkan Rika di taman itu. Rika buru-buru membuka botol minumnya yang masih ada airnya sedikit, ia mencoba memadamkan api itu, tapi hasilnya nihil baju dan celana Ayahnya sudah hangus.