Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 25



Hari ini tepat tanggal lima, Rika keluar dari pintu supermarket dengan wajah sumringah, impiannya untuk membeli barang yang butuhkan pun akhirnya terwujud.


"Akhirnya bisa beli laptop juga." gumam Rika lalu pulang. Ia berencana membeli laptop besok sepulang kuliah, kebetulan besok dia libur kerja.


Sesampainya di rumah, Rika melihat ibunya sedang menonton tv, seperti itulah kebiasaan Bu Nur sembari menunggu anaknya pulang kerja. Rika lalu duduk mendekati ibunya.


"Bu... Hari ini Rika gajian, Alhamdulillah uang nya cukup untuk Rika beli laptop." ucap Rika tersenyum.


"Syukurlah Nak, kamu tenang saja untuk uang jajan sama bensin biar ibu bantu." ucap Bu Nur lalu mengelus pipi anaknya itu.


"Terima kasih Bu, maaf Rika sudah merepotkan Ibu." ucap Rika, ia tak tega melihat ibunya bekerja keras demi dia.


"Kamu itu anak Ibu, Ibu akan lakukan apapun demi anak ibu, tidurlah pasti kamu lelah." ucap Bu Nur sembari mematikan tv nya.


"Iya Bu, besok sesudah beli laptop, boleh tidak Rika izin ke makam Ayah?" tanya Rika, ia berencana untuk membersihkan makam Ayahnya.


"Boleh Nak, pulangnya jangan terlalu sore ya." ucap Bu Nur.


"Memangnya kamu mau beli laptop dengan siapa?" tanya Bu Nur


"Teman, Bu." jawab Rika singkat


"Adit?" tanya Bu Nur lalu melirik anaknya, mendengar nama itu Rika langsung teringat kejadian di taman malam itu, Rika yang secara tidak sadar menyentuh pipi Adit dengan bibirnya.


"Bukan, Bu." jawab Rika malu.


***


Rika memilih-milih buku di perpustakaan, entah kenapa hari ini Rika ingin sekali membaca buku, ia mencari novel di perpustakaan yang lumayan besar itu. Rika mengambil beberapa novel lalu duduk di kursi. Tak lama ponselnya berdering ia melihat sebuah pesan dari Jeni.


Dimana?


Di perpustakaan, kesini saja. Balas Rika lalu melanjutkan membaca novelnya. Tak lama seseorang masuk ke perpustakaan dan mendekati Rika.


"Duduk saja, Jen. Nanti jangan lupa temani aku ya." ucap Rika tak mengalihkan pandangannya.


"Ehemm..." ternyata orang itu adalah Adit yang juga ingin membaca buku, ia langsung duduk di dekat Rika. Spontan saja Rika langsung berdiri menjauh.


"Kak Adit, ngapain disini?" tanya Rika dengan nada agak tinggi.


"Pelankan suaramu, ini perpustakaan." ucap Adit, Rika menutup mulutnya.


"Kan kamu yang nyuruh aku duduk di sini." ucap Adit santai.


"Aku kira Kakak adalah Jeni, aku cari tempat lain saja." ucap Rika hendak menghindari Adit.


"Tidak usah, disini saja." ucap Adit lalu memegang tangan Rika. Rika tak mau menatap wajah Adit, ia sangat malu dengan kejadian malam itu. Adit pun mengetahuinya, terlihat dari tingkah Rika.


"Masih ingat waktu itu ya?" ucap Adit tersenyum.


"Ti...tidak, kok." Rika tergagap mendengar ucapan Adit.


Tiba-tiba Jeni datang mendekati mereka berdua dengan tatapan curiga khasnya. Ia melirik Rika dengan senyum seolah meledek Rika.


"Permisi, Kak Adit." Rika beranjak dari kursinya, Adit hanya tersenyum. Mereka duduk di kursi perpustakaan agak jauh dari Adit.


"Jen, aku mohon sama kamu jangan keceplosan lagi ya." ucap Rika khawatir dengan Jeni, ia takut kalau Jeni tak sengaja memberitahu Fina dan teman-temannya seperti waktu itu.


"Iya Rik, aku akan tutup mulut rapat-rapat." ucap Jeni lalu mengangkat jari kelingkingnya.


"Yaah... Iya deh Jen, tidak apa-apa nanti biar aku sendiri saja." ucap Rika. Adit dari kejauhan mendengar percakapan mereka.


***


Rika berjalan menuju parkiran, ia melihat Fina dan teman-temannya juga keparkiran, melihat itu Rika buru-buru menghidupkan motornya.


"Eh udik, kenapa takut lihat bidadari lewat." ucap Fina yang memuji dirinya sendiri. Rika hanya diam, ia tak menggubris omongan Fina yang sangat tidak penting menurutnya.


"Anak itu sepertinya tidak takut dengan kamu, Fin" ucap Sela salah satu temannya.


"Lihat saja nanti, apalagi kalau dia berani mendekati Adit, dia akan tau akibatnya." ucap Fina dengan senyum sinis.


Di perjalanan Rika tak menyadari kalau ada mobil yang mengikutinya. Ia menuju ke sebuah toko untuk membeli laptop, sesampainya di sana, ia memilih-milih mana yang bagus dan harga nya yang terjangkau. Setelah lama tawar menawar akhirnya ia mendapatkan laptop yang ia inginkan. Rika langsung pergi dari toko itu, ia menuju ke tempat pemakaman umum, untuk ziarah ke makam ayahnya. Dikejauhan terlihat dua pria kekar sedang duduk di bawah pohon.


"Stop!!" teriak pria itu, ia mencegat motor Rika, Rika terpaksa berhenti mendadak.


"Kenapa, Bang?" tanya Rika tangannya sudah gemetar.


"Serahin dompet, sama semua barang-barang yang kamu punya!" perintah pria satunya lagi lalu menyodorkan pisau kecil ke Rika.


"Jangan Bang, laptop ini buat saya kuliah Bang, saya mohon." ucap Rika memohon kepada kedua preman itu.


"Eh anak kecil kamu mau nyawamu melayang!" ancam preman itu lagi


Pittt...pitt...


Suara klakson mobil terdengar di tempat itu, mobil yang dari tadi mengikuti Rika, seseorang turun dari mobil itu tak lain adalah Adit.


"Hey! Jangan berani sama perempuan kalian!" Adit mengeraskan suaranya.


"Wah...wah pahlawan datang nih, sekalian serahin barang-barang kamu juga." ucap Preman itu.


"Oh baiklah, sebentar aku ambil pistol di dalam mobilku." ucap Adit santai lalu berjalan kearah mobilnya. Kedua preman itu ketakutan mendengar ucapan Adit, mereka langsung lari melepaskan Rika.


"Awwww... Sakit." pisau kecil preman itu mengenai lengan Rika. Tak begitu dalam tapi darah nya mengalir lumayan banyak.


"Rika!" Adit lalu berlari mengejar Rika yang tengah kesakitan.


"Ya ampun Rika, sebentar aku ambilkan kotak obat di dalam mobilku." ucap Adit lalu berlari ke arah mobilnya untuk mengambil kotak obat. Bu Niken memang selalu menyiapkan kotak obat kecil di mobil anaknya itu.


Adit mengobati luka Rika lalu membalutnya dengan kemeja yang ia pakai.


"Sakit?" tanya Adit.


"I...iya, Kak." ucap Rika yang menyeringit kesakitan.


"Tahan ya, lukanya tidak parah kok." ucap Adit menenangkan Rika.


"Kenapa kamu nekat pergi membeli laptop sendirian, kan ada aku. Aku akan megantarmu, nanti mobilku akan diambil sama supir Papaku." ucap Adit lagi.


"Tidak usah Kak Adit, aku bisa pulang sendiri." ucap Rika berusaha menolak.


"Membantah lagi, kamu itu keras kepala ya, pokoknya aku akan memboncengmu, jangan membuatku khawatir lagi." ucap Adit dengan wajah cemas. Rika tersentak mendegar perkataan Adit, ia bingung kenapa Adit khawatir dengannya, memangnya siapa dia.


"Terima kasih, Kak Adit" ucap Rika tersenyum. Belum ada pria sebaik Adit dan sangat perhatian selain ayahnya dulu.