
Weekend ini Adit mengajak Rika ke taman kota dimana tempat mereka pertama kali jalan berdua dulu. Rika masih ingat persis, apa yang telah ia lakukan dulu di taman itu. Sungguh memalukan, ia hanya terkekeh bila mengingatnya.
Rika mengambil ootd yang akan ia pakai hari ini. Sederhana, hanya jeans hitam dipadukan dengan jaket berbahan levis senada. Cukup keren menurutnya, disertai dengan taburan bedak di wajah manisnya dan juga ia hanya mengoleskan liptin di bibir mungilnya, menambah kecantikan yang natural itu.
Adit sudah menunggu di warung Bu Nur, ia terlihat sedang asik berbincang dengan Bu Nur. Cowok itu makin tampan, dengan jeans hitam dan hoodie berwarna abu-abu gelap. Sebenarnya, apapun pakaian yang di pakai pria berbibir seksi itu akan selalu terlihat gagah.
"Mau ngapain ke taman kota, Kak?" tanya Rika.
"Kejutan."
Mereka duduk ditaman itu. Tapi Adit pergi sebentar, katanya mau membeli minuman, padahal ia ingin mengambil sesuatu di mobilnya. Saat Rika baru saja ingin menikmati langit sore yang agak mendung itu, Adit tiba-tiba memberi kotak berwarna hitam pada Rika. Rika hanya heran, apa isi dari kotak itu.
"Apa ini?" Rika hendak mengoncang kotak itu, dengan cepat Adit menahannya. Karna ada barang berharga didalam kotak itu.
"Buka dulu."
Rika membuka kotak itu, betapa terkejutnya saat ia melihat kamera cannon didalamnya. Ia menatap Adit, kenapa Adit memberikannya kamera semahal ini? Dalam rangka apa? Ia masih tak percaya dengan kejutan sore ini.
"Kak Adit, ini buat aku?" Rika mengambil isi dari kotak itu.
"Kamu pernah bilang. Waktu kita pertama kali datang kesini, kalau kamu hobinya fotografi. Jadi, aku mau ngasih surprise untukmu." ucap Adit tersenyum.
"Tapi... Apa ini tidak kemahalan, Kak?" Rika merasa tidak enak, karna harga kamera ini kurang lebih sebanding dengan lima bulan gajinya di supermarket.
"Aku mohon, terimalah." Adit memegang pundak kekasihnya itu.
Rika hanya mengangguk, diiringi dengan senyum manisnya. "Ini hadiah paling berharga untukku." Rika memeluk kamera yang diberikan Adit.
"Mau aku fotoin? Buat testing."
"Boleh, tapi jangan salah fokus." ledek Adit sembari bergaya, gayanya memang membuat Rika hampir saja salah fokus. Fokusnya terbagi dengan ketampanan kekasihnya itu.
"Nggak jadi deh." Rika lalu mengalihkan kameranya ke arah lain, ia memotret isi taman dengan sembarang.
"Kenapa, terpesona ya?" Adit tersenyum lebar melihat tingkah gadis lugunya itu.
"Sok ganteng." Rika menepuk lengan Adit.
Adit hanya meringis, pura-pura kesakitan. Hari ini ia akan menghabiskan waktunya bersama Rika. Karna besok, ia sudah mulai disibukkan dengan urusan kantor.
"Besok aku sudah mulai kerja di kantor Papa."
"Pasti Kakak bakalan sibuk banget." ucap Rika lalu menyimpan kameranya.
Adit hanya mengangguk, membenarkan ucapan Rika. Sebelum wisuda saja, Pak Arsan sudah sering mengiriminya berkas-berkas yang membuatnya kepalanya sedikit pusing. Apalagi sekarang, dia harus memimpin salah satu anak perusahan tekstil Papanya disini. Ia harus menyiapkan tenaga, mental dan juga siap-siap akan mempunyai waktu lenggang yang sedikit. Tapi ia berjanji, akan menyempatkan diri untuk mengantar dan menjemput sang pujaan hatinya.
"Mau makan?" tanya Adit.
Rika hanya mengangguk.
Mereka pergi ke sebuah restoran mewah. Adit menggenggam erat tangan Rika, mengajaknya duduk di kursi agak pojok yang dihiasi berbagai lampu berwarna emas itu.
"Kenapa makan disini?"
"Tidak suka, ya?"
"Suka kok." ucap Rika tersenyum palsu, karna ia lebih suka jika makan di tempat yang biasa saja. Seperti dulu.
"Tidak ah, malu." ucap Rika sok jaim. Padahal ia ingin sekali berfoto dengan Adit. Selama pacaran, mereka jarang sekali mengabadikan momennya berdua. Tapi kali ini, Adit memaksa Rika untuk berfoto berdua. Entah apa tujuannya. Rika hanya bisa memasang pose tersenyum kaku, hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Saat wajah manis itu mendekat, aroma vanila seketika menyeruak. Sungguh memabukkan.
***
Hari ini sepertinya Rika mulai memakai motor sendiri, mulai pergi ke kampus sendirian, tak seperti biasa. Ia sudah memegang panci dan peralatan lainnya untuk di bawa ke warung. Saat ia hendak ke warung, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan warung. Mobil yang tak asing lagi bagi Rika, panci yang dipegangnya hampir terjatuh ketika melihat sosok yang keluar dari mobil, setelan jas berwarna hitam itu membuat Adit semakin mempesona, ia seperti eksekutif muda saja, dengan sepatu hitam mengkilat.
"Kenapa menjemputku?" tanya Rika yang masih tak percaya.
"Ini masih pagi, aku kan berangkat ke kantor jam delapan nanti. Kita bisa bareng." ucap Adit lalu membukakan pintu mobil untuk gadis lugunya itu.
"Oh ya, mana camer ku?"
"Di warung."
Adit menyuruh Rika masuk mobil duluan, sedangkan dia menuju warung untuk minta di buatkan bekal. Bu Nur terkejut sekali melihat pria berjas hitam itu.
"Nak Adit..."
Adit mencium punggung tangan perempuan paruh baya itu.
"Rika bilang, kamu bakal sibuk jadi orang kantoran. Ngomong-ngomong, Nak Adit makin ganteng aja." ucap Bu Nur tersenyum.
"Ah Ibu, bisa aja. Adit mau pesan nasi gemuknya sebungkus, buat bekal ke kantor."
"Siap, Ibu bungkuskan dulu ya." Bu Nur membugkus nasinya lalu memberikannya pada Adit.
"Ini uangnya, Bu." Adit menyodorkan uang sepuluh ribu, tapi ditolak oleh bu Nur. Lagian calon menantu juga, pikirnya.
"Tidak usah Nak, kayak sama siapa aja." Bu Nur tersenyum.
"Oh iya, kan sebentar lagi Adit juga akan jadi anak Ibu." ucap Adit melebarkan senyumnya lalu mencium punggung tangan camer-nya itu.
"Terima kasih, Bu." Adit mengangkat nasinya sembari menuju mobil.
Rika hanya bisa melongo, melihat Adit menenteng nasi gemuk itu. Memang semenjak Fina membawakan nasi goreng beberapa waktu lalu, Rika setiap hari membawakan bekal untuk Adit. Tidak untuk kali ini, karna Adit bukan anak kuliahan lagi. Mungkin mereka akan jarang bertemu, pikirnya.
"Buat sarapan di kantor." ucap Adit lalu memasukkan nasi gemuk itu kadalam tasnya.
"Aku kira gak mau dibekali lagi. Kenapa tidak bilang, tau gitu biar aku siapkan tadi pagi. Kenapa selalu mendadak seperti ini."
"Aku pengen deh, kamu ngomel terus seperti ini. Gemes." Adit lalu mencubit pipi cabi Rika, membuat si empunya meringis kesakitan.
"Pokoknya aku akan menjemputmu seperti biasa, lagian arah kantor sama kampus kan sama."
"Aku kan kerja."
"Aku juga akan mengantarmu."
"Jangan dipaksain ya, Kak. Nanti Kakak kelelahan." ucap Rika.
"Saat melihat wajah manis ini, lelahku pasti akan terobati." Adit menatap Rika dengan senyuman mautnya.
"Gombalannya jelek." dengan cepat Rika berpaling dari wajah tampan itu, ia berusaha menutupi salah tingkahnya saat ini.