Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 72



Rika mengurung dirinya di kamar. Ia malas untuk pergi kemana-mana. Padahal jadwal bersama Street Photograph akan dimulai dua jam lagi. Entah kenapa setelah Fina memberikan secarik kertas tadi malam, ia merasa dirinya dipermainkan oleh Adit.


Adit sudah bersiap-siap, hari ini ia akan menemui gadis lugunya. Dengan pakaian sederhanapun, Adit tetap terlihat mempesona. Pria berpostur cukup tinggi itu mempercepat langkah kakinya. Ia sudah tak sabar ingin mengajak Rika pergi ke Mall.


Setelah sampai di rumah Rika, ia tak begitu dapat perlakuan baik dari Rika.


"Ayo kita ke Mall." ajak Adit.


"Maaf, Kak, aku sibuk. Mau bantu ibu jualan. Nanti juga ada pertemuan dengan Street Photograph."


"Oh gitu ya, padahal aku sangat merindukanmu. Sudah lama kita tidak jalan-jalan."


"Aku sibuk sekali hari ini, jualan ibu belum begtu ramai seperti dulu. Jadi aku harus mempromosikannya lebih lagi."


"Biar aku bantu." Adit menawarkan dirinya agar kedatangannya kesini tidak sia-sia. Tapi Rika menolak, ia malah menyuruh Adit pulang. Tiba-tiba hujan turun, lumayan deras.


"Biarkan aku disini dulu, ya."


"Lebih baik Kak Adit pulang saja." Aneh, biasanya Rika sangat khawatir dengan kondisi Adit saat turun hujan. Tapi saat ini, ia malah menyuruh Adit pulang.


"Tidak baik kalau terlalu lama menyimpan trauma. Inilah saatnya Kak Adit melawan trauma itu." Rika membuat alasan supaya Adit cepat pulang.


"Aku... Belum bisa, Rika."


"Berusahalah."


Adit menatap dalam wajah gadis lugunya itu. Kenapa dengan dirinya hari ini. Adit mengangguk pelan. Ia sangat kecewa dengan sikap Rika. Adit berlari kearah mobil, kepalanya agak sedikit pusing. Melihat Adit memegangi kepalanya, Rika sangat tak tega. Ia tak tau dengan pikirannya saat ini, hujan makin mengingatkannya pada kejadian tabrak lari ayahnya. Ia semakin muak melihat Adit.


***


"Sandi!"


"Sandiiii!!" Fina setengah memekik memanggil Sandi yang sedang menikmati tehnya di pos satpam rumah Fina.


"Ada apa, Non?"


"Antar aku ke Mall."


Sandi mengangguk seraya membuka pintu untuk Fina. Mereka pergi ke Mall Journey, Sandi hanya menunggu Fina didalam mobil.


"Ngapain didalam, ayo keluar!"


Sandi keluar dari mobil, ia bingung dengan kehendak majikannya itu.


"Temani aku kedalam."


Sandi mengangguk, ia mengikuti langkah Fina. Fina mengajak Sandi ke toko baju pria, ia menyuruh Sandi mengganti bajunya.


"Aku gak mau ya, jalan berdampingan sama supir."


"Cepat, ganti bajumu." tambahnya.


Sandi mengambil baju di tangan Fina, ia segera mengganti bajunya.


"Sumpah! Hari ini aku pasti akan jadi babunya." gumam Sandi kesal.


Sandi keluar dengan jeans berwarna mocca dan kemeja maroon. Ia sama sekali tidak terlihat seperti supir. Fina berdiri melongo melihat perubahan drastis Sandi. Pria ini sungguh tampan. Ada perasaan aneh di hatinya.


"Non Fina..." Sandi mengibaskan tangannya.


Hari ini sepertinya Fina ingin menghabiskan gajinya, ia membeli baju, make up, dan bermain sepuasnya. Sampai tangan Sandi sudah merasa pegal membawa belanjaan Fina yang segitu banyaknya.


"Maaf, Non Fina, kita mau kemana lagi?"


"Kenapa? Kamu udah capek nemenin aku? Ya sudah! Pulang saja sana."


Sandi menghela napasnya. Sabar Sandi.


Ia mengelus dada.


"Tidak, Non, maaf."


Perempuan ini benar-benar menyiksaku.


Setelah lama memilih baju, Fina tidak membeli satupun baju dari toko yang ada di lantai enam itu. Mereka pergi ke restoran cepat saji. Setelah merasa puas mengerjai sang supir, ia merasa kehabisan energi.


"Pesankan aku tiga paket dada ayam dan empat gelas minuman soda. Jangan lupa pakai es krim sundae-nya."


"Baik, Non."


Sandi merasa curiga dengan pesanan Fina, banyak sekali. Ia juga tak ditawari sedikitpun. Jangan-jangan ia hanya akan jadi penonton majikannya itu. Sandi meminta agar pesanannya diantar saja, karna tangannya sudah tak sanggup lagi. Garis merah sudah terlihat jelas di kedua telapak tangannya.


"Loh, mana pesanannya?"


"Nanti diantar, Non."


"Kenapa bukan kamu yang bawa? Aku gak mau ya pesanannya lama diantar, cepat ambil sana!" perintah Fina.


Semenjak ada Sandi, Fina selalu melampiaskan kemarahannya sama Sandi. Sudah satu minggu sandi bekerja menjadi supirnya. Rasanya seperti dipenjara. Sandi mengambil pesanannya tadi, ia sedikit menahan rasa sakit dan dengan cepat meletakkan semua pesanan di meja.


"Ayo makan." ajak Fina.


"Aku tidak akan menyiksamu hingga kelaparan."


"Makasih, Non."


Sandi mengambil satu paket dada ayam itu, ia mengibaskan tangannya. Bukan karna panas, tapi tangannya yang merah itu perih sekali.


"Aww..."


"Ada apa?" tanya Fina.


"Tidak apa-apa, Non."


Fina beranjak dari tempat duduknya, ia mendekati Sandi. Mengambil kedua tangan Sandi. Ia melihat garis-garis merah ditelapak tangan Sandi. Fina terdiam, ia merasa bersalah sudah menyiksa Sandi segitunya.


"Sini tanganmu, biar aku obati. Aku gak mau kalau mama tau."


"Nggak usah, Non."


"Jangan ngeyel! Ini pasti sakit, sebentar aku ambil perban dulu."


Sandi hanya diam, ia tidak mengerti dengan sifat Fina yang sangat cepat sekali berubah. Saat seperti ini, ia berubah bak bidadari.


"Sini, biar kusuapi. Jangan nolak dan sok jual mahal."


Fina menyuapi Sandi, jantungnya berdegup kencang. Perasaan apa ini?


Mereka keluar dari Mall Journey. Walaupun Fina sudah baik saat direstoran tadi, ia seolah kembali ke sifat aslinya. Ia tetap saja menyuruh Sandi yang membawa barang yang sangat banyak itu.


Pelan-pelan Sandi mengemudi mobil, ia menahan napas. Tangannya masih terasa nyeri.


"Ini kuncinya, Non. Saya pulang dulu."


Maafin aku Sandi, aku sudah melampiaskan kekesalanku sama kamu.


Fina melihat Sandi berjalan keluar gerbang, dengan kedua tangan di perban. Pria itu sungguh pekerja yang jujur. Ia tak pernah mengeluh, ia juga tak melihatkan wajah kesal terhadap Fina. Demi gaji yang diatas UMR, Sandi rela bertahan demi sang ibu dikampung menjelang mendapatkan pekerjaan baru.


***


Rika sedang sibuk dengan brosur untuk mempromosikan warung ibunya. Ia juga mencoba usaha online. Ia juga akan menjual nasi gemuk ibunya ke kampus, untuk menambah pemasukan keluarga kecilnya.


Sedangkan Adit duduk termenung dan memandangi layar ponselnya. Ia hanya bisa melihat foto Rika. Kesalahan apalagi yang ia perbuat sehingga Rika tiba-tiba bersikap cuek padanya.


Adit sangat merindukan tawa gadis lugunya itu. Senin besok ia ada tugas ke luar negeri. Kali ini ia akan pergi bersama kedua orang tuanya. Rika belum mengetahui ini.


Senin besok, aku akan pergi ke Vietnam bersama papa dan mama. Aku akan pergi untuk satu bulan. Jaga dirimu baik-baik.


Rika termenung, ponsel yang pegangnya terjatuh di kasur. Kenapa mendadak? Ia seperti tak percaya. Kalau tau Adit akan pergi, ia pasti tak akan mengusir Adit tadi.