
Rika duduk terdiam di tepi jendela kamarnya, entah kenapa akhir-akhir ini ia selalu memikirkan Adit, ia sangat mengagumi Adit. Rika takut sekali perasaan kagumnya akan berubah menjadi suka bahkan cinta.
"Ah sudahlah! Untuk apa memikirkan pria yang belum tentu tulus baik padaku." gumam Rika hingga beranjak ke tempat tidur.
Keesokan harinya, Rika sudah bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Rikapun berpamitan dengan ibunya, ia langsung mengambil sepeda motornya. Rika agak terburu-buru karna ada kelas pagi ini, tapi tiba-tiba sepeda motornya terasa berat dan agak oleng. Ternyata sepeda motor Rika mengalami pecah ban.
"Aduhhh... Pakai acara bocor lagi! Tidak berhsahabat sekali, mana ada kelas pagi ini. Bisa-bisa aku telat." ucap Rika kesal. Terpaksa Rika mendorong motornya untuk mencari bengkel terdekat. Sudah sepuluh menit ia berjalan sambil mendorong motornya, tapi ia juga belum menemukan bengkel. Tiba-tiba ada suara sepeda motor di belakangnya. ternyata itu Adit.
"Kenapa motornya? " tanya Adit.
"Kak Adit?" ucap Rika terkejut.
"Ternyata kamu Rika, ban nya bocor ya." ucap Adit.
"Iya nih Kak, kenapa disini sulit sekali tukang tambal ban ya?" ucap Rika heran.
"Ya sudah kamu pergi sama aku aja, nanti motor kamu biar di ambil sama temenku, dia orang bengkel kok." ucap Adit menawarkan.
"Tapi, Kak... " ucap Rika bingung. Ia agak takut karna itu motor kesanyangannya.
"Aku tau yang kamu pikir kan Rika, kamu takut kalau motor mu gak aman kan, tenang temenku itu punya bengkel yang besar, motor mu gak akan di jual sama dia." ucap Adit sambil tersenyum.
"Kamu sudah berkali-kali menolongku, jadi sekarang aku akan menolongmu, aku akan menelpon temanku dulu." tambah Adit.
"Baiklah, Kak, terima kasih." ucap Rika.
"Woy, Dit, Ada masalah apa ni?" ucap pemuda itu.
"Ini Dik, motor temenku bocor. Kamu bawa dulu kebengkel ya nanti sore aku jemput." ucap Adit.
"Siap... Amanlah pokoknya." ucap Diki mengacungkan ibu jarinya.
"Oke. Aku pergi dulu ya." ucap Adit. Lalu Adit dan Rikapun pergi ke kampus, Rika tak menyangka bisa berboncengan dengan Adit. Di atas motor mereka berdua tak berbicara sedikit pun. Adit melaju dengan cepat karna mereka agak terlambat, tiba-tiba Adit berhenti mendadak, tak sengaja Rika memeluk Adit.
"Ada kucing nyebrang." ucap Adit.
"Maaf Kak, gak sengaja meluk." ucap Rika buru-buru melepaskan tangannya dari pinggang Adit. Tapi Adit langsung memegang tangan Rika.
"Sudah pegangan saja, aku mau ngebut nanti kita telat." ucap Adit.
"Ngg... gak usah Kak, ak... aku pegangan di belakang aja." Rika tiba-tiba gugup, persaannya tak karuan.
"Sudah gak usah ngeyel." ucap Adit.
"Nggak kok Kak, aku gak akan jatuh." ucap Rika langsung melepaskan tangannya dan hanya memegang baju Adit.
"Ya sudah terserah kamu." ucap Adit lalu melajukan motornya dengan kencang.
Rika yang ketakutan mau tidak mau harus memeluk Adit. Adit hanya tersenyum kecil. jantung Rika berdebar kencang, perasaannya campur aduk, resah, gelisah. Ingin cepat-cepat sampai ke kampus, tapi ada rasa nyaman yang juga ia rasakan, sebelumnya ia tak pernah di bonceng pria, apalagi pria tampan seperti Adit.