
Adit duduk di kedai kopi ternama di Vietnam, ia hanya termenung dan sama sekali tidak menikmati kopi hangat yang sudah ada didepannya. Adit hanya memikirkan hari ini adalah hari terakhir ia berada dikota indah ini. Itu berarti ia tidak akan bertemu dengan Melodi, yang bisa dikatakan sahabatnya itu.
Adit tak tau, perasaan nyaman yang sekian tahun hilang, kini tiba-tiba muncul lagi. Ia juga bingung, kenapa disaat ia sudah memiliki orang lain, ia baru merasakan nyaman saat bersama Melodi. Apa karna dulu ia tak pernah menganggap perasaan Melodi padanya.
"Hai, Dit... Maaf aku agak telat. Ada kelas dulu tadi." ucap Melodi lalu mendudukkan dirinya di depan Adit. Melodi megambil S2 jurusan Manajemen Bisnis di Universitas ternama di Vietnam.
"Gakpapa, Melo..."
"Melo... Hari ini hari terakhirku disini, besok aku akan pulang ke Jakarta." tambah Adit.
"Sebenarnya seminggu terakhir ini belum cukup untukku, Dit. Jujur aku masih kangen banget sama kamu."
"Sama..." ucap Adit samar.
"Bagaimana kalau jalan-jalan ke Lenin Park?" tanya Melodi. Lenin Park adalah salah satu taman wisata alam di kota Hanoi.
"Boleh..."
Merekapun beranjak dari tempat duduk. Sesampainya di taman, Adit mengajak Melodi bersua foto disana. Ia ingin membuat hari ini menjadi kenangan terindah untuk dirinya dan juga Melodi.
Mereka duduk dikursi taman. Langit mendung ditamanpun membuat suasana semakin damai. Apalagi ia sekarang bersama Melodi.
"Melo... Kamu gak mau tau tentang aku di Jakarta ngapain, atau aku sudah punya kekasih, gitu?"
"Aku kan sudah tau kamu disana mengelola perusahan paman Arsan. Soal kekasih, aku gak mau bertanya, itu hanya membuatku sedih saja." ucap Melo tersenyum.
Adit hanya tersenyum mendengar ucapan Melodi, perasaan Melodi sama persis dengannya, ia juga tak mau bertanya apa Melodi sudah berpaling darinya atau masih menyimpan perasaan untuknya.
"Melo..."
Tiba-tiba hujan gerimis datang begitu saja, membuat Adit kembali mengingat traumanya. Hujan gerimis itu perlahan menjadi deras. Adit memegangi kepalanya, rasanya begitu sakit.
"Kamu teringat kejadian itu lagi, ya?"
"Ayo kita ke mobil, biar aku bantu." ucap Melodi.
Melodi sudah sangat hapal dengan trauma yang dialami Adit dulu, bahkan saat di Singapura, Melodi lah yang merawat Adit.
"Melo... Aku dingin." Adit memegang tangan Melodi, perasaan itu muncul lagi.
Melodi memeluk erat tubuh Adit.
"Tenanglah, sebentar lagi hujan akan reda."
"Terima kasih, Melo..." Adit mengeratkan pelukannya, memejamkan mata. Sesaat merasakan nyamannya pelukan gadis ini.
Pelukanku ini hanya untukmu...
Adit melepaskan pelukannya. Ia tiba-tiba teringat janjinya pada gadis lugunya dulu. Dalam menggigil, ia berusaha untuk lepas dari Melodi yang hanya masalalunya.
"Kenapa, Dit?"
"Tidak apa-apa, aku merasa sudah baikan saja."
"Tidak, Adit. Kamu masih kedinginan. Lihatlah wajahmu, pucat sekali." Melodi mengelus wajah itu dengan lembut, lalu menggenggam tangan Adit.
***
Fina sedang memainkan laptopnya. Bukannya bekerja, ia malah membuka Instagram. Melihat beranda, apakah ada yang menarik atau hanya melihat pakaian yang cocok untuknya.
Ia menemukan beberapa foto bersama Adit dengan Caption : Setelah sekian lama tak bertemu, akhirnya kamu datang disaat yang tepat. Walaupun pertemuan ini singkat, aku sangat menyukainya. Terima kasih @AdityaVareplint.
Fina terdiam beberapa jenak, ia mengingat siapa perempuan ini. Ia menjentikkan jarinya, seolah tau sesuatu.
"Aku tau! Dia kan teman dekat Adit waktu bimbel SMA dulu." gumam Fina.
Adit memang lebih dekat dengan Melodi, tapi Melodi hanya teman bimbelnya saja dulu saat kelas tiga SMA. Tapi melihat dari kedekatan mereka, Fina selalu kalah dari Melodi.
Fina men-screen shoot semua foto itu. Ia akan memberikannya pada Rika. Ini akan menjadi kejutan yang sangat tak terduga untuk Rika.
***
"Kak Adit..." Rika memainkan ponselnya, men-scroll layar ponsel keatas dan kebawah, menunggu kabar dari sang kekasih. Hatinya tiba-tiba merasakan sakit sekali. Ada perasaan aneh menghampiri benaknya.
Rika beranjak dari kasurnya, ia duduk didepan meja belajar, membalik kalender berwarna biru itu. Rika membulatkan bola matanya, hari ini Adit kembali ke Jakarta. Ia meletakkan ponselnya dimeja. Kali ini ia absen untuk mengirim pesan ke Adit. Rasanya percuma saja. Tiba-tiba ponselnya berdering, beberapa foto masuk dari Fina. Rika membukanya satu per satu. Jantungnya serasa mau copot melihat foto mesra itu. Matanya melotot, tak percaya kalau yang di foto itu adalah pria tampannya.
"Sudah kuduga, aku tidak ada apa-apanya dibanding cewek ini. kak Adit sudah pasti melupakanku." gumam Rika, tak terasa air mata sudah mengalir membasahi pipi cabi itu.
Adit sungguh tega menyakiti hatinya, ia sudah memasukkan Rika kedalam kehidupannya lalu mencampakkannya begitu saja. Rika buru-buru menelpon Fina untuk meminta kejelasan foto yang dikirimnya ini.
"Halo... Kak Fina."
"Ada apa?"
"Tolong kasih tau aku, siapa perempuan itu? Aku mohon."
"Dia Melodi, teman dekat Adit waktu bimbel SMA dulu. Mereka sangat dekat, seperti mempunyai perasaan yang sangat istimewa satu sama lain. Kamu lihat saja fotonya begitu mesra, mungkin saja cinta lama bersemi kembali. Aku bukan mau memprofokasi kamu, Rik. Aku juga lelah mengejar Adit. Tapi kamu lihat Melodi, dia sangat cocok dengan Adit. Dulu aku tak bisa mendapatkan Adit karna terhalang olehnya."
"Kak Fina... Kakak tidak bohong, kan? Aku mohon tolong jujur."
"Kali ini tidak, Rika."
Rika menjatuhkan ponselnya. Ia menangis sejadi-jadinya.
"Kak Sandi... Aku membutuhkanmu." gumam Rika sesegukan.
Rika melihat foto-foto itu sekali lagi. Mereka memang sangat cocok, pikirnya. Kenapa Adit tega melakukan itu padanya.
***
"See you next time, ya, Dit. Semoga kita bisa bertemu lagi." ucap Melodi sembari menjabat tangan Adit.
"Makasih, Melo... Makasih untuk semuanya." Adit membentangkan kedua tangannya. Memberi ruang ditubuhnya untuk Melodi. Sekali lagi, ia melupakan janjinya pada Rika.
"Aku pasti akan merindukanmu." ucap Melodi, ia menahan tangis di pundak Adit.
"Aku juga..."
Melodi menyalami pak Arsan dan Bu Niken.
"Hati-hati, ya, Paman dan Bibik. Semoga selamat sampai tujuan."
"Iya, Sayang. Terima kasih sudah mengantar kami ke bandara."
Melodi mengangguk sembari tersenyum.
Hari ini mungkin jadi hari paling menyedihkan, untuk kedua kalinya ia harus berpisah dengan Adit setelah pertemuan singkat mereka. Kontrak kerja keluarga pak Arsan dengan keluarganya pun sudah berakhir. Dulu ia yang meninggalkan Adit dan memilih ikut orangtuanya menetap di kota Hanoi. Sekarang Tuhan mempertemukannya lagi dengan orang yang ia cintainya itu. Tapi, hanya sebentar ia bisa megobati rindu. Sekarang Adit pergi meninggalkannya lagi. Jujur, sampai sekarangpun Melodi tak bisa melupakan kenangan manis yang terjadi diantara mereka dimasalalu.