
Pagi-pagi sekali Rika sudah bangun, sebelum berangkat kuliah ia membantu ibunya menyiapkan bahan-bahan untuk jualan. Rika merasa kasihan pada ibunya yang selalu sendirian menyiapkan semuanya. Berbeda dengan dulu, selagi ayah Rika masih ada. Rika jadi sedih mengenang ayahnya. Tak terasa air matanya menetes begitu saja.
"Ibu, semua sudah siap nih. Rika berangkat ke kampus dulu ya." ucap Rika berpamitan dengan Bu Nur. Rika tampak mengusap matanya
"Iya Nak, kamu hati-hati ya, kamu kenapa nangis?" ucap Bu Nur yang memegang pipi anaknya.
"Rika teringat ayah Bu." jawab Rika, air matanya jatuh lagi.
"Nak... Kalau kamu sayang sama ayah, kita harus berdoa untuk ayah, semoga ayah di berikan tempat terbaik di surga." ucap Bu Nur yang juga terlihat sedih.
"Iya Bu, Rika selalu mendoakan ayah. Rika pamit dulu ya Bu." ucap Rika lalu berpamitan.
Sesampainya di kampus, Rika hendak ke toilet. Tiba-tiba ada beberapa perempuan mengikutinya. Tak lain adalah Fina dan teman-temannya, mereka menyiram Rika.
"Apa-apaan ini kak!" ucap Rika geram.
"Eh udik! Itu pelajaran karna kamu kemarin berboncengan dengan Adit." ucap Fina
"Kamu suka kan sama Adit?" tambah Fina. lalu memgang tangan Rika.
"Enggak! Emang kenapa sih? Lepasin aku Kak." ucap Rika tegas.
"Eh sadar diri dong! Kamu itu udik, mana mungkin Adit suka sama kamu, ngerti!" Fina mengancam Rika.
"Iya aku tau! Aku sadar, aku gak pantas sama kak Adit!" ucap Rika sedih.
"Bagus! Kamu pergi sana, mau muntah aku liat kamu!" ucap Fina lalu mendorong Rika. Rikapun keluar dari toilet dengan basah kuyup. Untung buku-buku pentingnya tidak terlalu basah. Dia buru-buru masuk ke kelas.
"Kenapa kamu basah seperti ini Rik?" tanya Jeni heran.
"Ya ampun orang itu kenapa selalu sinis sih sama kamu?" ucap Jeni.
"Aku gak tau Jen, dia melihat aku kemarin boncengan sama kak Adit." ucap Rika.
"Mereka iri sama kamu Rik, aku aja pengen di bonceng sama kak Adit." ucap Jeni sambil tertawa kecil. Merekapun melanjutkan pelajaran yang di berikan dosen. Setelah selesai, mereka di berikan tugas. Rika harus buru-buru pergi ke warnet, karna ia belum mempunyai laptop. Tabungannya belum cukup untuk membeli laptop.
"Huff... Gini susah nya kalau gak punya laptop, ribet sekali kalau ke warnet." gumam Rika sedikit mengeluh. Rika memang mempunyai waktu sedikit, ia harus pergi bekerja di sela-sela tugas yang menumpuk. Rika juga memikirkan perlakuan tidak baik Fina padanya. Tapi ia tidak akan menyerah.
Rika menuju ke perpustakaan untuk meminjam buku. Tapi mata Rika tertuju pada rombongan Adit sedang duduk berbincang-bincang. Rasa penasaran Rikapun mulai timbul, Rika berjalan pelan sambil mendengarkan apa yang orang-orang itu bicarakan. Terdengar banyak yang membicarakan Adit.
"Dit, kamu lagi ngegebet cewek cupu itu ya?" ucap Deri salah satu temannya.
"Percuma kamu ganteng Dit, kamu sia-siain buat cewek udik." tambah Rega.
"Apaan sih kalian, kemarin aku hanya membantunya saja, mana mungkin aku suka sama dia." ucap Adit santai.
"Lah terus kenapa kamu baik sama dia?
kita aja geli deket dia." ucap Deri.
"Aku baik sama dia, karna dia pernah nolong aku juga." ucap Adit meyakinkan teman-temannya.
"Gak mungkin lah aku suka sama dia, aku cuma balas budi saja. Karna aku masih punya rasa prikemanusiaan. Gak kayak kalian." lanjut Adit. Tiba-tiba Fina datang.
"Ya gak mungkin lah Adit suka sama cewek udik itu. Jauh banget levelnya, iya kan Dit?" ucap Fina. Adit hanya tersenyum, dia tak menghiraukan Fina. Rika yang sedari tadi mendengarkan mereka berbicara langsung meneteskan air mata. Ia langsung pergi ke perpustakaan, ia bertekad tak akan jatuh hati pada Adit.