
Rika sudah mendengar kabar bahagia dari Sandi dan Fina, tahun ini mereka akan menikah. Sepertinya Sandi memang sudah mantap untuk meminang anak bungsu Pak Bima itu, walaupun sangat sulit untuk mendapatkan restu. Fina juga sudah sangat mengenali keluarga Sandi, karna setiap bulan Sandi selalu mengajak Fina pulang ke kampung halamannya. Fina yang dulu egois dan keras kepala, kini menjadi wanita yang baik dan dewasa.
Sandi juga tak menjadi supirnya lagi, semenjak bertemu Adit waktu itu, mereka melakukan pertemuan lagi. Sandi banyak memberi masukan untuknya, agar bisa menjaga Rika dengan baik. Mengingat Sandi juga pernah kuliah jurusan ekonomi, Adit menawarkan Sandi bekerja diperusahaannya, menjadi menejer bidang pemasaran.
Setelah setahun menikah dengan Fina, Mereka membuka usaha restoran kecil-kecilan yang dimodali oleh Pak Bima, akhirnya Pak Bima sadar bahwa sikapnya selama ini sangat egois terhadap kedua anaknya, Kini restoran yang dinamai SandiFina Resto itu berkembang lumayan pesat. Ibu dan kedua adik Sandi juga sering main kerumah mereka di Jakarta. Fina menyambutnya dengan baik. Pak Bima dan Bu Elvi juga sangat menghormati keluarga Sandi. Sikap Pak Bima sudah berubah total, ia lebih sering dirumah, kadang juga mengunjungi cucu pertamanya, dan sekarang ia sedang menunggu kehadiran cucu keduanya, tak lain adalah anak dari Fina dan Sandi.
Kini Sandi dan Fina dikaruniai putri kecil yang diberi nama Sandrina.
"Terima kasih, Sayang. Sudah memberikan malaikat kecil ini untukku." ucap Sandi lalu mengecup kening Fina mesra.
"Sama-sama, Sayang. Anak kita cantik, ya."
"Iya, cantik seperti Mamanya."
***
Beberapa bulan menjelang skripsi, Jeni memberi kabar kalau dirinya akan melangsungkan pernikahan dengan dokter Verza. Rika sangat terkejut mendengar itu.
"Selamat, ya, Jen. Tapi ingat, skripsimu harus selesai." ucap Rika menasehati sahabatnya itu.
"Itu pasti, Rik. Soalnya sekarang kan sudah ada yang bantuin aku ngerjain skripsi. Ada untungnya juga ya, menikah muda." ucap Jeni terkekeh.
"Dasar!" Rika menjitak kepala Jeni.
Meskipun sikap Jeni selalu barbar, ia yakin sekali kalau Jeni sudah mengambil keputusan yang sangat tepat. Dokter Verza juga orang yang baik. Bisa membimbing Jeni.
"Pokoknya kamu harus jadi fotografer kami nanti, kamu mau, kan?"
Rika mengangguk semangat. "Pasti."
Semenjak ia kembali bersama Adit. Ia mulai belajar teknik fotografi lagi, walaupun otodidak. Karna ia tak mau masuk ke klub Street Photograph lagi. Kadang orang-orang juga menyewa jasanya untuk melakukan foto prewed dan hasilnya tidak mengecewakan. Ia juga menerima tawaran untuk foto-foto yang dipasang di blog, dan juga ikut memotret para model yang berjalan di Catwalk.
***
Betapa cantiknya gaun putih panjang yang terpajang indah didalam kamarnya. Bu Nur hanya bisa tersenyum haru melihat Rika yang sedang dihias canti bak bidadari. Tak terasa air matanya menetes, terharu melihat anaknya yang tersenyum dihari bahagianya.
Rika sudah berdiri dengan gaun putih itu, hatinya dag dig dug, mengintip dari pintu kamar. Melihat Adit yang sedang menjabat tangan sang paman. Tak terasa air matanya menetes saat semua orang mengucapkan Alhamdulillah. Akhirnya ia resmi menjadi seorang istri. Ia tak menyangka hari ini akan menjadi hari paling bahagia untuknya.
Tamu-tamu undangan sudah berdatangan, memberi ucapan selamat pada Adit dan Rika.
"Selamat, ya, Rik. Akhirnya kamu nyusul juga." ucap Jeni lalu memeluk sahabatnya itu. Ia datang bersama sang suami.
"Makasih, ya, Jen. Sudah datang mengahdiri pernikahan kami." ucap Rika.
"Sudah isi, ya?" bisik Rika yang masih dalam pelukan sahabatnya itu.
"Iya, Rik. Ternyata dokter memang manjur." ucap Jeni tersenyum geli.
Rika bergidik mendengar ucapan nyeleneh dari Jeni. Sahabatnya itu memang tak pernah berubah, selalu barbar.
"Selamat, ya, untuk kalian berdua. Semoga cepat diberi momongan." Fina menjabat tangan Adit dan Rika bergantian diikuti Sandi yang menggendong putri kecil mereka.
"Terima kasih, San. Sudah banyak memberi masukan untukku." Adit menepuk bahu Sandi sembari tersenyum.
"Aku juga terima kasih sama kamu. Tapi ingat, jaga adikku baik-baik."
"Siap."
Disana juga ada Devan dan sang istri. Teman-teman Rika disupermarket juga datang. Memberi selamat pada Rika dan Adit.
Setelah tiga tahun Adit menunggu Rika lulus dengan gelar sarjana, akhirnya penantian itu berakhir dengan kisah bahagia. Rika lulus dengan predikat coumlaude. Itu adalah prestasi yang sangat membanggakan.
Untuk sementara, Adit memilih tinggal bersama Rika dan Bu Nur. Karna ia tau Bu Nur pasti akan sedih jika ditinggal sendirian. Bu Nur juga menolak saat Adit mengajaknya tinggal dirumah mewah milik Adit. Ia masih ingin berjualan nasi gemuk seperti biasa.
"Terima kasih, sudah setia menungguku." ucap Rika tersenyum.
"Iya, Sayang." Adit membalas senyum wanita yang kini menjadi istrinya itu.
Rika masih ingat sekali saat hujan deras, Adit berdiri ditaman kota saat Rika pulang dari supermarket, dan berlutut dihadapannya. Melawan rasa tarumanya selama ini, ia memberanikan diri untuk melamar Rika ditengah hujan deras malam itu.
"Will you merry me?"
Ucapan itu masih seperti mimpi baginya. Saat itu Adit tak mempedulikan lagi hujan sederas apapun. Traumanya terhadap hujan perlahan menghilang. Itu semua karna Rika yang selalu ada disampingnya. Rika juga masih ingat saat Adit mendatangi Ibu bersama kedua orangtuanya, meminta izin untuk meminang dirinya.
"Saya berharap kita akan jadi besan, Bu." ucap Bu Niken sembari menyeruput teh yang sudah disediakan Bu Nur.
"Iya, Bu Niken. Saya juga begitu." ucap Bu Nur tersenyum.
"Kami sekeluarga minta maaf atas kejadian masalalu, Bu. Sekarang anak kita akan menikah, saya berharap hubungan kita kedepannya akan lebih baik." ucap Pak Arsan.
"Tentu, Pak. Saya dan keluarga sudah mengikhlaskan semuanya."
Sehari sebelum pernikahan, mereka pergi mengunjungi makam ayah Rika. Adit ingin memanjatkan doa untuk calon mertuanya itu, meminta izin untuk meminang anaknya.
"Ayah... Sekarang Rika sudah menemukan jodoh Rika, semoga ayah tenang dialam sana. Rika selalu mendoakan ayah." Tak terasa air matanya menetes haru. Begitupun dengan Adit, ia masih tak menyangka ternyata jodohnya adalah anak dari korban tabrakannya dimasalalu.
Semua masih tersimpan rapih dipikiran dan juga hati kecilnya. Sepertinya hujan telah menurunkan jodoh untuknya. Dulu saat ia pertama kali bertemu dengan Adit, hujan turun begitu deras. Sampai saat ini hujan selalu memberikan kenangan yang tak terlupakan untuknya.
Rika sedang duduk didepan meja rias, menunggu Adit yang sedang membersihkan diri. Rasa gugup masih saja menghampiri dirinya.
"Kenapa belum tidur?"
"Aku... Masih menunggumu." Wajah gugupnya tak bisa disembunyikan.
Adit hanya tersenyum, lalu mendekati Rika. Mengelus rambut Rika dengan lembut lalu menarik Rika ke atas ranjang yang masih dihiasi bunga mawar itu. Adit memajukan tubuhnya lebih dekat lagi, memandang wajah manis itu lebih dalam.
"Terima kasih, untuk segalanya." Seketika kamar menjadi gelap, kamera di meja rias menjadi saksi bisu kisah cinta mereka.
Β
"TAMAT"
Β
Akhirnya Novel pertamaku selesai juga.
Terima kasih sebanyak-banyaknya untuk kalian yang sudah setia membaca Novel Love In The Rain ini. Terima kasih juga sudah Like, komen dan Vote. Pokoknya sekali lagi, terima kasih banyaaakkk, yaaa, teman-teman. Berkat kalian aku jadi semangat banget nulis novel.
πππ
Jangan lupa mampir juga ke Novel keduaku yang bergenre horor dan thriller, judulnya : Mercusuar Angker, yang sekarang masih on goin.
Follow sosial mediaku juga ya, untuk saling mengenal.
IG : @Paain18
FB : Paini