
Rika mempercepat langkahnya ketika melewati perpustakaan. Entah kenapa, ia masih enggan melihat wajah tampan Adit. Ia tau persis, jika jam segini pasti Adit sedang berada di perpustakaan. Semenjak jadi asdos, Adit memang jarang menemui Rika. Rika merasa minder mempunyai pacar asdos. Rasanya tidak pantas saja.
Kelas Rika sudah kosong jam segini, ia hendak pulang kerumah. Lagipula, hari ini ia tidak bekerja. Niatnya mau full istirahat, tapi ia tak bisa membohongi perasaannya kalau hatinya sangat merindukan Adit. Saat berjalan menuju parkiran, tangannya di genggam oleh seseorang, ia yakin ini bukan tangan Jeni. Jenipun biasanya tidak seperti ini, apalagi menggenggam selembut ini. Geli jika Jeni melakukan itu.
"Masih marah padaku?"
Rika menoleh ke arah samping, pria tampannya sudah berdiri di sampingnya, wajah manis itu selalu menghipnotis Rika hingga tak bisa bicara apa-apa.
"Maafkan aku." Adit mengambil tangan kanan Rika. "Aku tau aku salah."
Rika hanya diam. Biasanya, ia selalu ingin melihat pria tampannya itu. Tapi kali ini, ia ingin sekali membuang tangan Adit dan menyuruhnya pergi.
"Aku tidak marah kok. Aku tau, Kakak pasti sangat sibuk. Aku pulang dulu ya." Rika melepaskan tangan Adit perlahan, ia juga meninggalkan Adit, lalu menyeka air matanya yang hampir saja jatuh. Ia tak mau menangis di depan Adit lagi.
Tentu saja Adit tak akan tinggal diam, ia langsung mengambil mobilnya dan mengejar motor Rika.
Rika menghentikan motornya di sebuah kedai kopi, segelas cappucino mungkin akan menenangkan hatinya saat ini. Ia membawa segelas capuccino itu keluar. Ia masih merasakan genggaman lembut Adit di parkiran tadi. Ingin merasakannya lagi.
Setelah sampai di rumah, Rika menuju warung ibunya, tiba-tiba Rika di kejutkan dengan kedatangan Adit. Adit langsung duduk di sampingnya.
"Mau jalan-jalan?" Adit menoleh kekasihnya itu.
"Kenapa mengikutiku?"
Bukannya menjawab pertanyaan Rika, Adit malah berdiri dan berjalan ke dapur menemui Bu Nur. Ia meminta izin ke Bu Nur untuk mengajak Rika jalan-jalan sore ini. Rika hanya melongo, ia tak mengerti apa yang Adit lakukan.
Rika terpaksa pergi dengan Adit sore ini, karna Bu Nur tak tau apa yang terjadi pada mereka. Rika memang tak cerita masalah percintaannya dengan Bu Nur. Jadi, ia harus terlihat baik-baik saja.
"Memangnya mau kemana sih?" tanya Rika
"Kemana saja yang kamu mau." ucap Adit menoleh Rika. Manis sekali.
"Aku tidak mau kemana-mana." ucap Rika cemberut.
Adit mengelus rambut gadis kesayangannya itu, ia berusaha meluluhkan hati Rika.
"Mau cilok?"
Rika membulatkan bola matanya, mana bisa ia menolak jika mendengar cemilan itu. Refleks kepalanya mengangguk, yang membuat Adit tersenyum senang. Ternyata, pertanyaan sependek itu bisa mengukir senyum di wajah gadis lugunya itu.
Adit menepikan mobilnya di pinggir taman, banyak sekali penjual makanan ringan disana. Adit menuju penjual cilok, ia membeli dua bungkus cilok dan masuk mobil lagi. Ia memberikan cilok itu pada Rika.
"Mau kusuapi?"
"Tidak usah, aku bisa sendiri." ucap Rika, ia buru-buru mengambil ciloknya.
"Kalau gitu, suapi aku." ucapan Adit membuat Rika hampir tersedak. Jelas-jelas kedua tangan itu masih utuh.
"Rika..." Adit memegang bahu Rika yang di tutupi rambut itu. "Tolong maafkan aku. jangan cuek padaku seperti ini."
Rika tak menjawab ucapan Adit, ia hendak memakan ciloknya lagi, tapi di tahan Adit. Sekarang ini, Adit butuh penjelasannya.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Kakak sudah berjanji padaku untuk tidak membuatku menangis, tapi apa? Malam itu, aku mencoba tidak mengeluarkan air mataku, tapi tidak bisa." air mata Rika perlahan menetes membasahi pipinya.
Rika hanya bisa tersenyum palsu, ia memang tak berhak menjauhkan pertemanan seseorang. Tapi setiap kali Adit menyebut nama itu, ia merasa tak pantas memiliki pria tampan itu.
"Aku memang tak berhak melarang Kakak, dan aku tak pernah marah sama Kakak. Tapi, hanya kecewa. Tolong mengertilah perasaanku."
"Aku tau kamu cemburu." ucap Adit tersenyum. Rika menoleh Adit, mungkinkah ia cemburu?
"Aku merasa tidak pantas saja."
Adit menghela napasnya, mereka seringkali membahas ini, Rika masih saja bicara seperti itu padanya.
"Tolong, jangan bicara seperti itu lagi." Adit menarik tangan Rika dan menempelkan ke pipi kirinya. Ia meyakinkan Rika, bahwa rasa cintanya ini bukan sekedar cinta monyet anak SMP.
Kelembutan yang selalu di berikan Adit, tak bisa membuat Rika menjauhi laki-laki di sampingnya itu.
"Makanlah ciloknya, nanti keburu dingin." ucap Rika tersenyum, lalu menarik tangannya
"Gitu dong. Baru beberapa hari aku tak melihat senyummu, rasanya aku sudah kehilangan semangat."
"Gombal."
Saat Rika hendak memasukkan cilok ke mulutnya, tiba-tiba ditahan oleh Adit. Ia mendekatkan wajahnya lalu merebut cilok itu. Dekat sekali, hingga Rika tak mengedipkan matanya. Ia yakin, bukan cilok yang menyentuh bibirnya. Lebih lembut dari cemilan bulat itu.
"Sepertinya cilokmu lebih enak." Adit lalu memundurkan tubuhnya.
Adit hanya tersenyum, ia melajukan mobilnya meninggalkan taman itu, mengantar pujaan hatinya sampai kerumah, dengan perasaan senang.
***
Sepertinya Rika tidak bisa tidur lagi malam ini, setelah mengingat kejadian tadi sore. Kejadian yang membuat matanya tak bisa berkedip. Sentuhan lembut itu, membuat Rika menjadi insomnia mendadak.
"Tidurlah Rika, besok kau ada kelas pagi." gerutu Rika, ia menjadi salah tingkah sendiri. Ia menarik selimutnya hingga menutupi kepala, kenapa wajah manis Adit selalu hadir saat ia hendak tidur? Ini berlebihan. Ponsel Rika bergetar, membuat Rika membuang selimutnya, ia melihat notifikasi WA dari sang pujaan hati, ini membuat jantungnya berdebar lebih kencang.
Selamat malam gadis luguku, sampai bertemu besok.
Ucapan Adit sudah membuat gadis berdagu belah itu mabuk, mana bisa ia memejamkan matanya, apalagi setelah melihat notifikasi WA. Singkat, namun bisa membuatnya memeluk guling dan senyum sendiri.
Semua kembali seperti semula, Rika berharap tak ada yang mengganggu hubungannya dengan Adit, tapi terkadang dirinya lah yang terlalu berpikir rumit. Merasa tak percaya diri jika bersama Adit.
***
Rika terbangun setelah jam wekernya berbunyi beberapa kali, ia sangat berat untuk membawa tubuhnya ke kamar mandi. Karna semalam ia tidur tak terlalu nyenyak.
"Ayo cepat mandi, Nak
" ucap Bu Nur sembari menyiapkan sarapan.
"Iya, Bu."
Rika memakan sarapannya, lalu pamit pada ibunya. Ia sekalian membawa barang-barang Bu Nur ke warung. Terlihat mobil Adit sudah ada di depan rumahnya. Rika sesekali menoleh Adit yang sedang fokus menyetir.
Rasa gugup selalu menghampirinya jika sedang seperti ini.