
Adit merasa bersalah pada Rika, karna ia tidak berterus terang pada Rika, ia takut sekali kalau Rika marah padanya. Selama ini Adit tidak pernah gelisah karna perempuan, apalagi gadis lugu seperti Rika. Adit mencoba mencari Rika, ia sudah berkeliling kampus tapi tidak juga bertemu dengan Rika. Tiba-tiba Adit bertemu dengan Jeni.
"Hei... Kamu temannya Rika kan?" tanya Adit menghampiri Jeni.
"Iya Kak Adit, kenapa?" Jeni kembali bertanya pada Adit.
"Rika kemana? Kok tidak kelihatan dari tadi siang?" tanya Adit.
"Rika sudah pulang Kak, karna jam dua dia harus kerja, aku mau pergi dulu ya Kak" jawab Jeni lalu hendak pergi.
"Eh... Tunggu, kamu punya nomor ponsel Rika kan?" tanya Adit.
"Punya lah Kak, Rika kan temanku" jawab Jeni.
"Tolong catat ke ponselku." pinta Adit. Jeni pun mengambil ponsel Adit dan memasukkan nomor ponsel Rika dan juga nomor ponselnya.
"Nih kak, aku juga mencatat nomor ponselku." ucap Jeni sambil tersenyum centil.
"Terima kasih ya, sepertinya aku juga memerlukan nomor ponselmu." jawab Adit. Adit berpikir kalau Ada apa-apa sama Rika,ia bisa bertanya pada Jeni. Aditpun pulang ke rumah, karna kelasnya sudah selesai.
Sesampainya di rumah, Adit membaringkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
"Sudah pulang sayang." ucap perempuan cantik menghampiri Adit.
"Mama... Kapan pulang Ma?" tanya Adit langsung memeluk Mamanya yang baru pulang dari luar kota.
"Tadi siang sayang, maaf ya kamu tinggal sendirian terus, soalnya mama sama papa sangat sibuk ngurusin usaha tekstil kita." ucap Bu Niken langsung mencium kening Adit.
"Tidak apa-apa kok Ma" jawab Adit tersenyum lebar.
"Gimana kuliahmu lancar? Kamu sudah punya pacar belum?" tanya Bu Niken meledek anak semata wanyangnya itu.
"Lancar kok Ma, Mama kenapa nanya itu sih." jawab Adit tersenyum malu.
"Ya sudah kamu mau makan apa sayang?" tanya Bu Niken.
"Terserah Mama saja, aku sudah rindu masakan Mama." ucap Adit.
Mereka pun pergi ke ruang makan untuk makan bersama.
"Kenapa Papa tidak pulang Ma?" tanya Adit sambil menyuap nasinya.
"Papa sangat sibuk Nak, kemungkinan nanti sore ini mama akan menyusul Papa lagi." ucap Bu Niken. Adit hanya terdiam, sebentar sekali ia bertemu dengan Ibunya.
"Biar Adit antar ya Ma." ucap Adit.
"Tidak usah sayang, kan Mama sama sopir." ucap Bu Niken menolak. Aditpun mengangguk.
"Kamu baik-baik ya dirumah, jangan pikirkan masalalu terus, jangan banyak ngelamun juga." ucap Bu Niken menasehati anak nya itu.
"Iya Ma, sekarang Adit sudah lebih baik kok." ucap Adit tersenyum.
Bu Niken berpamitan pada Adit, ia hendak pergi ke luar kota lagi. Adit memeluk hangat Mamanya.
"Mama hati-hati ya, salam buat Papa. Kalau sudah sampai jangan lupa telpon Adit ya." ucap Adit.
"Iya Sayang, Mama pergi dulu." ucap Bu Niken lalu melaju dengan mobilnya.
Adit masuk ke dalam kamarnya, ia memainkan ponselnya, ia teringat dengan Rika. Adit mencoba menelpon Rika, tapi tidak di angkat oleh Rika. Adit sangat gelisah apa Rika masih marah padanya, ia pun bergegas ke kamar mandi karna hari sudah mulai gelap. Setelah selesai mandi Adit berganti pakaian, ia mencoba menelpon Rika lagi.
tuuut. . .tuutt. .
"Halo..." Rika mengangkat telepon dari nomor yang tak dikenal.
Akhirnya diangkat juga, batin Adit.
"Halo Rika, nanti jadikan? Aku akan menjemputmu." ucap Adit sangat berharap.
"Rika kamu tidak mengenali suaraku? Aku Adit." ucap Adit kecewa.
"Oh Kak Adit, iya jadi Kak jemput aja jam setengah sembilan nanti." ucap Rika tersenyum. Rika tak bisa membenci Adit, ia sudah terlanjur sayang, ia tak menghiraukan lagi rasa was-wasnya.
"Baiklah Rika, tunggu aku di sana." ucap Adit sangat senang.
"Aku tutup telponnya ya Kak, soalnya aku mau kerja lagi." ucap Rika
"Iya Rika." ucap Adit lalu menutup telponnya.
Adit sangat senang sekali malam ini, ia sudah bersiap-siap untuk menjemput Rika. Adit memakai mobil, karna cuaca malam itu sangat dingin. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, Adit melaju dengan mobilnya, ia tak sabar untuk bertemu dengan Rika.
Sesampainya di Enjoymart, Adit celingak-celinguk mencari keberadaan Rika. Ternyata Rika sedang duduk di halte menunggu Adit.
Piitt. . .Piitt. . .
"Hai Rika..."ucap Adit sambil melambaikan tangannya.
Rika pun berjalan menuju ke arah mobil Adit.
"Hai, Kak Adit." jawab Rika.
"Sudah lama ya nunggunya? Ayo masuk." Adit mempersilahkan Rika memasuki mobilnya.
"Enggak kok Kak Adit, aku baru saja keluar." ucap Rika lalu menyenderkan kepalanya di bangku mobil, ia sangat lelah malam ini. Karna banyak sekali produk-produk baru masuk ke supermarket. Adit melihat Rika sangat kasihan.
"Capek ya?" tanya Adit.
"Iya Kak, hari ini sangat sibuk sekali." ucap Rika.
Tiba-tiba Adit mendekati Rika, sangat dekat hingga wajah Adit dan wajah Rika hanya berjarak lima senti meter. Rika tersentak, ia memejamkan matanya, jantungnya berdebar kencang.
"Pakai dulu sabuk pengamannya." ucap Adit tersenyum melihat wajah Rika memerah.
Kak Adit ini mau bikin jantungku copot kali ya, batin Rika.
"Terima kasih Kak, kita makan nasi goreng dekat persimpangan sana saja Kak, itu tempat makan favoritku kalau pulag kerja." ucap Rika.
"Oke..." jawab Adit.
Merekapun pergi ke tempat nasi goreng itu, di perjalanan Rika menguap beberapa kali, ia sangat ngantuk, apalagi di dalam mobil tidak ada pembicaraan sedikitpun. Matanya sangat berat sekali, sesekali ia memejamkan mata, tiba-tiba Rika tertidur pulas. Adit melihat Rika tertidur langsung menyenderkan kepala Rika ke bahunya, Adit merasa sangat nyaman berada di dekat Rika cuaca yang sangat dingin malam itu pun tak terasa karna di selimuti hangatnya tubuh Rika. Mereka pun sampai di persimpangan tempat nasi goreng itu.
"Rika... Bangun, kita sudah sampai." Adit mencoba membangunkan Rika.
"Eh iya Kak, maaf aku tertidur." ucap Rika terkejut.
"Tidak apa-apa, ayo turun aku sudah sangat lapar." ucap Adit.
Merekapun makan bersama, Adit merasa malam itu adalah malam yang sangat istimewa, ia lupa dengan masalalunya yang kelam. Begitu juga dengan Rika, ia tak pernah menyangka bisa dekat dengan Adit.
"Sepertinya mau hujan Kak, lebih baik kita pulang." ucap Rika yang khawatir dengan Adit.
"Aku masih rindu sama kamu, Rika." ucap Adit menggoda Rika.
"Gak usah bikin aku baper deh, Kak." ucap Rika malu, ternyata benar hujan pun mulai turun.
Rika panik, ia sangat takut terjadi apa-apa sama Adit.
"Kakak tidak apa-apa kan? Ayo kita pulang sekarang, ya." ucap Rika.
"Aku baik kok, tidak usah khawatir denganku." ucap Adit.
Adit pun mengantar Rika pulang. Sebenarnya Adit sangat kedinginan, ia menahan tarumanya, karna ia tak ingin merusak malam yang indah ini, ia menahan rasa dingin dan sakit kepalanya.