Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 54



Jeni sesekali melirik Rika yang sedang mengerjakan tugas dari Pak Ilham, tangannya sudah beberapakali ingin menyentuh pundak sahabatnya itu, tapi mengapa sangat berat sekali. Disisi lain ia tidak ingin merusak hubungan Rika, Rika pasti sedih jika melihat foto itu. Tapi lidahnya sudah terasa gatal untuk memberi tahu Rika.


"Rik, kemarin aku melihat Adit dan Fina berdua di perpustakaan."


"Oh itu, Kak Adit sedang membantu Fina mengerjakan skripsi." ucap Rika.


"Oh gitu ya, tapi kenapa sampai pelukan?" tanya Jeni blak-blakan.


"Maksudnya?"


"Maaf ya, Rik. Bukannya aku mau menghancurkan hubungan kamu sama Adit. Tapi aku liat sendiri mereka pelukan. Aku juga sempat mengambil fotonya." Jeni menyodorkan ponselnya pada Rika.


Rika melihat foto itu, matanya hampir saja meneteskan air bening. Adit begitu mudahnya memeluk seseorang. Ia tau pria setampan Adit memang mudah sekali mendapatkan apa yang dia inginkan. Pikirannya mulai berkhayal kemana-mana, ingin rasanya ia menghampiri Adit dan memarahinya. Tapi, ia harus berpikir positif dengan Adit. Mungkin ada alasan di balik semua itu, atau hanya Fina saja yang mencari kesempatan.


"Aku yakin, Kak Adit cuma membantu Fina." ucap Rika tersenyum lalu mengembalikan ponsel Jeni.


"Iya sih, Rik. Tapi kelihatannya mesra banget. Tapi kamu harus berpikir positif, Rik."


"Aku percaya kok sama Kak Adit." Rika tersenyum palsu pada Jeni, walaupun hatinya sakit sekali melihat foto itu.


"Baguslah. Maaf ya aku memberitahumu." ucap Jeni mengelus pundak Rika.


***


Fina menghampiri Adit, ia melihat Adit yang sedang memainkan laptopnya. Ia lalu duduk di samping Adit. Fina memberikan air mineral untuk Adit.


"Pasti kamu haus."


"Makasih, Fin." Adit meminum air mineral yang diberikan Fina. Fina tersenyum, sekarang Adit perlahan-lahan mulai bersikap seperti dulu lagi padanya. Ia berharap ada ruang kembali untuknya di hati pria disampingnya itu.


"Sepertinya kita perlu riset lagi, buat skripsimu ini."


Itulah yang aku mau! Batin Fina.


"Gitu ya, Dit. Kamu bisakan temani aku?"


"Bisa, kok." Adit menoleh Fina dengan senyum khasnya. Membuat semua mata yang melihatnya meleleh.


Adit dan Fina berencana pergi ke salah satu pasar tradisional. Disana mereka akan melihat strategi pemasaran para pedangang pasar itu. Sebenarnya Fina tidak mau pergi ke tempat seperti itu, karna ditemani orang spesial, ia rela pergi kesana. Yah, lumayan bisa berduaan, pikirnya.


Adit sudah memberitahu Rika soal ini, dan Rika tak mempermasalahkannya. Lagipula hari ini, ia mau membantu Ibunya. Akhir-akhir ini, warung Bu Nur sangat ramai, Rika merasa kasihan jika Ibunya kelelahan. Libur kerja seperti ini lah, kesempatannya bisa membantu Ibunya berjualan.


***


Fina melangkah ragu, apa benar ia akan menginjakkan kakinya ke tempat yang ramai dan sumpek seperti ini. Hanya demi bersama Adit, ia harus rela berpanas-panasan.


"Kamu yakin kita kesini, Dit?"


"Memangnya kenapa?" tanya Adit. Padahal ia tau sekali sifat Fina, ia pasti tidak mau ketempat seperti ini.


"Panas banget, Dit." keluh Fina.


"Namanya juga pasar, ayo masuk." ajak Adit.


Adit mulai meneliti pasar, ia bertanya pada salah satu penjual cabai merah, perbincangan itu lumayan lama. Adit juga membeli cabai itu sebagai tanda terima kasih, karna sudah mengizinkan mengganggu waktunya. Fina dari tadi hanya menempel pada Adit. Ia sesekali mengangkat kakinya.


"Iya, Pak, memang saya gak biasa ketempat seperti ini. Biasanya juga ke supermarket." ucap Fina.


"Fin, jangan ngomong gitu lah. Jaga sikap kamu." ucap Adit. Ia lalu meminta maaf ke penjual bawang itu.


"Berapa bawangnya, Pak?" tanya seorang cewek tepat disamping Adit.


"Sekilonya lima puluh ribu, Dek."


"Minta setengah aja, Pak." ucap Rika sembari memberikan uang dua puluh lima ribu pada Bapak itu, matanya tertuju pada orang di sampingnya. Matanya terbelalak dengan mulut menganga pula. Ia sangat mengenal dua orang disampingnya itu, ia melihat Fina sedang memegang lengan Adit. Mesra sekali seperti suami istri yang sedang berbelanja kebutuhan dapur. Adit pun sepertinya juga tidak keberatan.


"Kak Adit!"


"Rika?" Adit menoleh Rika, ia sangat terkejut bertemu Rika. Ia buru-buru melepaskan tangan Fina yang dari tadi memegangnya.


"Ngapain disini?" tanya adit lagi.


"Ak...aku mau beli kebutuhan warung." ucap Rika, ia lalu mengambil bawang yang ia beli tadi.


"Ayo, kuantar pulang." Adit memegang tangan Rika.


"Tapi, Dit. Kita kan belum selesai risetnya." Fina mencegah Adit. Adit hanya menoleh Fina.


"Tidak usah Kak Adit, aku bawa motor sendiri kok." ucap Rika tersenyum. Ia berusaha tetap santai didepan mereka berdua. "Aku pulang duluan Kak." Rika pamit pulang. Ia mempercepat langkahnya, agar tak bisa melihat Fina dan Adit berduaan. Hatinya terasa hancur sekali melihat kejadian tadi.


"Rika... " Adit memanggil Rika yang perlahan hilang di telan kerumunan pengunjung pasar itu.


"Sudah lah, Dit. Dia pasti ngerti kok." ucap Fina lalu memegang tangan Adit.


"Fin, bisa tidak jangan pegang-pegang seperti ini." Adit mulai risih dengan kelakuan Fina.


"Kamu kan tau, Dit. Aku gak pernah pergi ketempat seperti ini."


Adit hanya menghela napasnya, ia jadi serba salah. Ia lalu melanjutkan risetnya bersama Fina. Setelah selesai, Adit buru-buru mengantar Fina pulang.


"Makasih ya, Dit. Untuk hari ini." Fina tersenyum menoleh Adit, ia berterima kasih karna Adit sudah memberi kesempatan dirinya utuk dekat lagi. "Kamu memang teman yang bisa di andalkan."


"Sama-sama, semoga tidak ada revisi lagi." ucap Adit tersenyum.


"Dit... Aku berharap kita bisa dekat lagi seperti dulu. Sekarang kamu sudah terlihat berbeda. Bukan Adit yang aku kenal dulu." Fina menundukkan kepalanya. Ia mengungkapkan isi hatinya pada Adit.


"Maaf, tapi aku sudah punya Rika. Aku mohon sama kamu, tolong mengertilah." Adit menoleh cewek bermata coklat itu. "Aku tak akan merubah pertemanan kita, asal kamu menjaga sikapmu sama Rika."


Fina hanya mengangguk, tapi hatinya tak bisa menerima ucapan Adit. Rika menjadi penghalangnya untuk mendekati Adit, usahanya sia-sia setelah dibuyarkan oleh Rika. Gadis udik yang sudah membuat Adit merubah sikapnya. Fina mengepalkan tangannya. Geram.


Adit mencoba menghuhungi Rika, tapi tak diangkat, sesuai predikisi Adit, Rika pasti tak akan mengangkat telpon darinya. Bukan tak mau mengangkat, tapi Rika memang sedang sibuk membantu Ibunya berjualan. Adit membuang ponselnya ke sofa, ia sangat menyesal membiarkan Fina bermanja dengannya tadi. Rika pasti akan marah padanya. Bagaima ia harus menjelaskan ini semua pada Rika. Semoga Rika akan mengerti.


Rika memotong kecil-kecil bawang yang ia beli tadi, matanya tiba-tiba menetas, membuat Bu Nur jadi heran.


"Kenapa nangis Nak?"


"Eh tidak Bu, bawangnya bikin perih." Rika mengeles. Bukan bawang itu yang membuat matanya perih, tapi pertemuannya dengan Adit lah yang membuat hatinya terasa teriris.