Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 79



Adit memegagi cincin emas berbentuk love yang ia beli spesial di Vietnam. Ia baru tersadar seminggu terakhir disana, ia selalu sebuk dengan Melodi hingga melupakan sang kekasih.


Aku sudah diperjalanan pulang.


Adit mengirim pesan pada Rika. Jangankan dibalas oleh Rika, dibaca saja tidak. Sesaat Adit memandangi ponselnya, Kaku.


Ya ampun, saking asiknya melepaskan rindu bersama Melodi, Adit tak sadar kalau ia sudah mengabaikan Rika. Bahkan pesan-pesan yang dikirim Rika tidak dibalas olehnya. Melodi memang sudah membuat ia lupa bahwa ia sudah mengabaikan seseorang yang ia cintai. Gadis lugunya.


Adit berharap Rika tak marah padanya. Ia sangat menyesal, tentang apa yang telah ia lakukan saat di Vietnam. Setelah lima belas jam lebih perjalanan. Akhirnya Adit sampai ke Jakarta. Memulai pekerjaan yang sangat padat seperti biasa lagi.


"Istirahatlah, Nak. Kamu pasti lelah." ucap Bu Niken sembari membongkar barang-barang di koper berwarna hitam itu.


"Iya, Ma."


Adit membaringkan badannya disofa kamar, melihat layar ponselnya, melihat kapan terakhir gadis lugunya online. Tiba-tiba ia teringat dengan janjinya pada Rika sebelum berangkat ke Vietnam, ia berjanji akan membelikan Rika baju couple.


Adit mengusap wajahnya gusar. Selupa itukah ia dengan Rika saat bersama Melodi? Iya, Melodi memang membuat dirinya seolah tertarik lagi ke masalalunya dulu. Perhatian Melodi membuat dirinya terbuai. Tapi dihati kecilnya, ia sangat menyayangi Rika. Sepertinya ia harus buru-buru menemui Rika, memasangkan cincin di jari manisnya, dan memeluknya erat. Sekarang rasa bersalah memenuhi pikirannya, hanya karna bertemu Melodi, ia sampai lupa dengan Rika.


***


"Kenapa, Cecem?" tanya Sandi, ia harus buru-buru izin makan siang keluar hanya demi menemani Rika ditaman kota.


"Gakpapa, sih, Kak. Mau ngajak makan siang bareng aja." jawab Rika.


"Yakin, tidak ada yang mau diceritakan?" tanya Sandi curiga.


Rika menggeleng. Tapi hatinya menjerit, ingin mengeluarkan semuanya.


"Hmmm... Dulu, aku harus menjagamu sama nasehatin kamu supaya jangan manjat pohon jambu disawah. Sekarang aku harus mendengar curhatan kamu masalah cowok." ucap Sandi terkekeh.


"Jadi gak mau dengerin, nih?"


"Kalau aku tidak mau, ngapain aku istirahat makan siang sejauh ini." ucap Sandi.


"Kak Sandi terpaksa, ya?" tanya Rika. Ia merasa tidak enak dengan Sandi.


"Nnggak, Gembul. Aku juga lagi pengen makan siang sama kamu, kok. Jadi, apa masalahnya?"


"Kemarin kak Fina mengirim foto kak Adit dengan teman dekatnya dulu. Mereka cocok banget Kak, aku mah kalah jauh. Jadi aku... memutuskan buat mundur aja. Kalaupun Kak Fina nanti yang bakal jadi pacarnya Kak Adit, aku ikhlas."


"Anak kecil udah bisa galau ya sekarang." ledek Sandi.


Rika hanya menghela napas, Sandi memang tak pernah serius kalau diajak curhat. Tapi Rika mendapat ketenangan saat bersama Sandi.


"Aku seneng bisa makan bareng sama Kakak." ucap Rika.


"Sama, Cem. Udah jangan sedih lagi, kalo jodoh gak akan kemana. Harusnya kamu tuh fokus sama kuliah kamu. Jangan pikirin pacaran mulu, lihat Kakakmu ini." Sandi menepuk dadanya.


"Iya, Kakak betul banget. Berarti selama ini aku bodoh, sudah terbuai oleh cinta. Tapi, Kakak rela gak kalau kak Fina jadian sama orang lain?"


Sandi terdiam. Relakah dirinya jika Fina dimiliki orang lain? Kenapa hatinya sesaat jadi sedih. Tiba-tiba ada notifikasi WA di ponsel Sandi.


Kami dari PT. Es Krim Milk Indonesia. Mengundang anda untuk interview senin depan. Terima kasih.


"Cecem! Aku dapat panggilan di pabrik es krim. Akhirnya aku bisa lepas dari Fina." Sandi spontan memeluk Rika.


"Yakin, mau ninggalin kak Fina." ucap Rika melirik pria manis itu.


Sandi kembali terdiam, tiba-tiba ia merasa tidak semangat untuk mengambil pekerjaan itu.


"Kenapa, sudah jatuh cinta, ya?"


"Kamu tuh, ya. Suka banget jodohin orang." ucap Sandi. Wajah salah tingkahnya tak bisa disembunyikan.


"Makasih, ya, Kak. Sudah mau menemaniku makan siang. Sudah jam dua, nih. Aku mau berangkat kerja, Kakak juga harus menjemput kak Fina, kan?" tambahnya.


"Sebenarnya aku malas balik lagi ke kantor." ucap Sandi.


Tiba-tiba mobil hitam berhenti tepat didepan mereka duduk. Seseorang keluar dari mobil itu. Sandi terkejut, kenapa Fina sampai mencarinya. Ia melihat jam tangannya, ia rasa belum terlambat untuk balik ke kantor.


Kenapa mereka bisa makan bersama? Kenapa hatiku sakit menlihatnya? Rika selalu merebut cowok yang aku suka. Batin Fina.


Tanpa memandang wajah Rika, Fina meraik tanga Sandi. Mereka meninggalkan Rika sendirian disana, Rika pasti sudah tau apa yang ada dipikiran Fina. Tapi ya sudahlah, pasti nanti Sandi akan menjelaskannya pada Fina.


"Kenapa makan siang doang lama banget, sih! Aku capek nunggu kamu dari tadi." ucap Fina.


"Maaf, Non. Kenapa tidak telpon saja tadi?"


Fina hanya diam, sebenarnya ia tak mau kemana-mana. Cuma ia curiga saja sama Sandi. Kenapa ia memilih tempat makan siang sejauh itu. Padahal, didepan kantor tersedia kafe maupun warteg.


"Kenapa kamu bisa kenal sama Rika?"


"Rika teman kecil saya, Non. Seperti adik sendiri." ucap Sandi menjelaskan.


"Yakin?"


"Iya, Non." jawab Sandi singkat.


Fina tersenyum lega mendengarnya. Tapi ia masih kesal melihat Sandi berduaan dengan Rika.


"Belikan aku makanan."


"Baik, Non. Non Fina mau makan apa?"


"Terserah."


Sandi bingung harus beli makanan apa. Sepertinya Fina masih marah padanya, penjalasan tadi sama sekali tak berlaku untuknya.


"Maaf, Non. Nanti saya salah beli." ucap Sandi.


"Ya udah kalo gitu, belikan aku mie ayam yang ada di ujung jalan sana." Fina menunjuk tukang mie ayam yang ada di ujung taman.


Sandi keluar dari mobil, ia setengah berlari membeli mie ayam itu. Setelah lima belas menit, Sandi sudah mendapatkan mie ayam itu dan memberikannya pada Fina.


"Sandiii!" Fina memekik, sepertinya itu sudah panggilan biasa untuk Sandi.


"Aku gak suka sayurnya, kamu gimana sih!"


Mau apa perempuan ini, dia membuatku yakin kalau pabrik es krim lebih baik. Batin Sandi.


"Jadi gimana, Non?"


"Kamu aja yang makan sayurnya."


"Tapi...." Belum selesai Sandi bicara tapi sudah dipotong oleh Fina. Fina langsung membuka kotak putih berisi mie ayam itu.


"Cepat makan! Mubazir kalau dibuang." Sebelumnya Fina tak sepeduli itu dengan apa yang ia lakukan. Bahkan ia sering tidak menghabiskan makanan, atau membeli tapi tidak dimakan. Tapi sekarang, ia tiba-tiba sayang dengan sayuran mie ayam yang tidak ada satu ikat banyaknya.


Sandi berusaha memakan daun sawi itu. Ia memejamkan matanya, mengingat terakhir dia makan sawi waktu SMP dan membuat badannya penuh dengan bintik merah.


Alergi sehari gakpapa, deh. Yang penting wanita ini bisa diam.


Fina hanya tersenyum melihat ekspresi Sandi yang memakan sayur itu. Ia merasa sangat puas sudah mengerjai Sandi hari ini.