Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 44



Mobil berwarna kuning itu sudah menunggu di depan rumah Rika. Jeni keluar dari mobilnya, ia terlihat sangat cantik sekali dengan memakai jeans hitam dan baju abu-abu.


Rika keluar dari kamarnya, mereka berpamitan dengan Bu Nur. Rika sangat semangat sekali untuk pergi nonton konser, ia ingin melupakan semua hal tentang Adit. Malam ini ia memang ingin bersenang-senang, ada untungnya juga Jeni mengajak tadi.


"Sudah siap?"


"Sudah dong, ayo cepat aku semangat banget nih!" ucap Rika sembari memasang sabuk pengamannya.


"Aneh, tadi siang aku sampai memohon untuk mengajakmu."


"Aku ingin melupakan semua tentang Kak Adit." jawab Rika.


"Kenapa lagi?"


"Sudahlah jangan banyak tanya, ayo berangkat." ucap Rika yang tidak sabaran.


Adit membaringkan badannya di sofa, ia sangat khawatir dengan Rika, rasanya permintaan maafnya tadi siang belum cukup bahkan sangat kurang, Rika sama sekali belum memaafkannya. Adit lalu beranjak dari sofa lalu mengambil kunci mobilnya, ia hendak kerumah Rika untuk melihat bagaimana keadaan gadis lugunya itu.


"Assalamualaikum, Bu." Adit sudah berada di depan pintu rumah Rika.


"Waalaikumsalam, Nak. Ada apa malam-malam kemari?" tanya Bu Nur heran.


"Rika ada, Bu?" tanya Adit.


"Rika pergi sama Jeni, apa dia tidak bilang sama Nak Adit?"


"Tidak Bu, kalau boleh tau mereka kemana Bu?" tanya Adit lagi.


"Katanya mau nonton artis." ucap Bu Nur, Rika memang berbicara seperti itu dengannya tadi. Ia juga memperbolehkan Rika pergi karna Jeni yang mengajak.


"Oh gitu ya Bu, kalau gitu Adit pamit pulang saja, Bu." Adit mencium punggung tangan perempuan paruh baya itu.


"Iya, Nak Adit, hati-hati."


***


"Jen, pulang yuk!" Rika menarik tangan Jeni yang sedang asik berjoget.


"Baru juga satu jam kita disini, Band Deernya aja belum keluar. Nikmatin aja, Rik." ucap Jeni.


"Halo, semuanya!" tiga pria tampan menaiki panggung dan menyapa para penggemarnya.


"Hai..." semua berteriak histeris.


"Jen, aku tinggal beli minum dulu ya." Rika mencoba menghindari keramaian itu.


"Iya Rik, kamu kesini lagi nanti ya, jangan ngilang."


Rika menghampiri salah satu stand minuman yang ada di sana, saat ia mengambil sebotol teh, tiba-tiba ada yang mengambilnya juga dengan bersamaan. Rika buru-buru melepaskan tangannya. Ia mempersilahkan pria itu yang mengambil sebotol teh itu.


"Oh ini punyamu, ya?"


"Tidak apa-apa Kak, ambil saja." ucap Rika menunduk menghormati pria itu.


"Aku jadi tidak enak, kenalin aku Mike." Mike mengulurkan tangannya pada Rika.


"Rika."


"Nonton konser juga?" tanya Mike basa-basi, ia melihat Rika dengan tatapan aneh.


"Iya Kak, tapi aku tidak terlalu suka dengan bandnya, aku cuma menemani sahabatku saja."


"Kalau gitu sama dong, aku juga. Oh ya gimana kalau kita makan bakso di sana saja." Mike menunjuk stand paling ujung. Rika agak ragu dengan ajakan Mike, tapi ia juga merasa bosan di sini sendirian, ia terus teringat ucapan Adit tadi siang.


"Hmm boleh, deh, Kak."


"Hem sepertinya ini barang bagus, akan aku manfaatkan." gumam Mike dalam hati.


Mike diam-diam menghubungi temannya, ia berniat buruk pada Rika. Ia memberikan Rika sebotol air mineral yang sudah di beri obat tidur.


"Minumlah, kamu pasti haus."


"Sepertinya temanku sudah


menunggu, aku duluan ya, Kak Mike." Rika hendak berdiri tapi di tahan oleh Mike.


"Mau kemana, kok buru-buru?"


"Lepasin, Kak!"


"Ikut aku sebentar, ya." Mike lalu membawa paksa Rika memasuki mobilnya. Rika terus saja berontak meminta pertolongan, tapi tidak ada yang menghiraukannya.


Adit mencari Rika di balik kerumunan orang-orang yang sedang berjoget, ada yang saling melempar baju dan botol air mineral. Adit geram sekali dengan kelakuan Rika, kenapa dia bisa pergi ke konser Band Deer yang terkenal dengan kerusuhan. Sekitar sepuluh menit ia mengelilingi kerumunan itu, tapi ia tak juga menemukan Rika. Ia keluar dari kerumunan itu, tiba-tiba matanya tertuju pada mobil hitam yang terparkir tak jauh dari mobilnya.


"Rika!" Adit terkejut sekali melihat ada wanita di dalam mobil itu, tangannya sudah diikat dengan tali.


"Kak Adit, tolong!" Rika berusaha membuka mobil itu.


Adit berlari ke arah mobil itu, ia memecahkan kaca mobil, ia lalu membantu Rika keluar dari mobil itu. Mike tidak mengetahui karna ia sedang menelpon temannya. Ia bertanya pada temannya, harus membawa Rika kemana.


"Ayo, pergi dari sini." Adit membuka ikatan tali yang di tangan Rika. Rika lalu memeluk Adit, ia sangat ketakutan.


Mike yang menyadari itu mencoba mengejar mereka, tapi Adit dan Rika sangat cepat melarikan diri.


Didalam mobil Adit hanya diam, ingin sekali dia memarahi Rika, tapi bibirnya kelu melihat Rika yang juga terdiam, Rika mengambil ponsel di tasnya. Ia menghubungi Jeni, ia khawatir dengan sahabatnya itu.


"Halo, Jen. Kamu cepat pergi dari sana. Aku sudah pulang dengan Kak Adit, di sana berbahaya."


"Iya halo Rik, aku mencari kamu dari tadi. Aku juga sudah mau pulang, disini memang rusuh sekali. Maaf ya, Rik. Aku tidak tau bakal jadi gini."


"Tidak apa-apa, yang penting kamu harus pergi dari sana." ucap Rika lalu menutup telponnya.


Adit menghentikan mobilnya di depan sebuah apotik, ia membeli palster dan juga obat oles untuk tangan Rika yang lebam. Adit mengoleskan obat itu ke Rika.


"Tahan ya, ini agak sakit sedikit."


"Kenapa masih peduli padaku?" Rika lalu meneteskan air matanya.


"Karna aku sangat menyayangimu! Rika kamu tau tidak..." Adit tidak melanjutkan ucapannya, ia meninju setirnya.


"Konser Band Deer itu terkenal dengan kerusuhannya, kenapa bisa-bisanya kamu pergi kesana?!" ini untuk pertama kalinya Adit membentak Rika, karna ia sangat menghawatirkan Rika.


"Aku ingin melupakan semua tentang kamu, aku tidak mau batinku selalu tertekan." ucap Rika menunduk.


"Aku tau aku salah, tapi aku mohon jangan membahayakan diri seperti ini!"


Rika terdiam dan meneteskan air matanya, ia tak menyangka Adit bisa semarah ini sampai-sampai membentaknya. Ia memang tidak tau kalau Band Deer itu terkenal dengan kerusuhannya, begitupun dengan Jeni. Ini baru pertama kalinya mereka menghadiri konser terbuka seperti ini.


"Maaf... Aku sudah membentakmu." Adit lalu memeluk Rika.


"Itu karna aku sangat khawatir denganmu." tambahnya.


Rika hanya diam, air matanya mengalir semakin deras. Ia tak tau harus apa sekarang ini, yang ada dihatinya hanya lah sisa-sisa cemas yang tadi ia rasakan.


Rika memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing sekali, matanya berkunang-kunang.


"Kepalaku sakit, Kak."


"Kenapa? Apa yang di berikan pria tadi?" tanya Adit cemas lagi.


"Aku di beri air mineral, tapi aku minum cuma sedikit kok." jelas Rika.


"Mungkin ada sesuatu di dalamnya, apa perlu kerumah sakit?" tanya Adit.


"Tidak usah, Kak. Mungkin ini obat tidur. Aku ngantuk sekali."


Mata Rika terasa sangat berat sekali, ia tak bisa menahannya.


"Aku akan cepat mengantarmu pulang, biar kamu tidur dirumah saja agar Ibumu tak curiga."


"Terima kasih, Kak." Rika sadar bahwa perbuatannya malam ini salah. Ternyata Adit memang benar-benar manyayanginya.