
Rika buru-buru menemui Pak Ilham untuk memberikan tugasnya, ia menuju keruangan Pak Ilham. Sesampainya di sana, Pak Ilham pun menuyuruh Rika masuk.
"Pak, ini tugas saya kemarin sudah selesai." ucap Rika lalu memberikan tugasnya.
"Oke saya lihat dulu ya, kamu boleh pergi" ucap lelaki berkumis tebal itu.
"Baik, terima kasih Pak, saya permisi." ucap Rika lalu keluar dari ruangan Pak Ilham.
Pak Ilham pun mengangguk. Rika berharap hasil tugasnya tidak mengecewakan.
Rika hendak ke kantin untuk mengisi perutnya, tapi tiba-tiba ada bola basket melayang ke arahnya. Hampir saja mengenai kepala, tapi untungnya Ada yang menangkis bola itu, tak lain adalah Adit. Adit langsung mengelus rambut Rika.
"Kamu gak kenapa-kenapa kan?" tanya Adit yang terlihat sangat khawatir.
"Ng...nggak kok, Kak." jawab Rika gugup.
"Mau kemana?" tanya Adit lagi.
"Ke kantin." ucap Rika, ia mempercepat langkahnya, menghindari Adit.
"Ya udah ayo, aku juga mau ke kantin." ucap Adit lalu memegang tangan Rika. Rika hanya diam, dia tidak mengerti mengapa Adit perhatian sekali padanya. Adit selalu menolong Rika di saat susah.
Sesampainya di kantin mereka duduk bersama, anak kampus yang lain hanya melihatnya heran, tak terkecuali Fina dan teman-temannya.
"Mau makan apa, biar aku yang pesan." tanya Adit.
"Mie rebus saja, Kak." ucap Rika agak gugup. ia tak menyangka Adit mau duduk bersama di depan banyak orang.
"Sebentar aku pesan dulu." ucap Adit. Fina yang sedari tadi melihat mereka berdua sangat marah, ia tak terima kalau Adit dekat dengan Rika.
Setelah memesan, Adit kembali duduk di kursinya. Sementara di luar kampus sangat gelap sepertinya akan turun hujan.
"Kak Adit, aku mau tanya berapa biaya motorku kemarin?" tanya Rika.
"Gak usah dipikirin." jawab Adit.
"Gak bisa gitu dong, Kak. Aku selalu saja merepotkan Kakak, pokoknya yang kali ini harus dibayar." ucap Rika merasa tidak enak.
"Kamu ini selalu ngeyel." ucap Adit tersenyum.
"Ya udah kamu bayarnya traktir aku makan saja." tambahnya.
"Sekarang? Baguslah." ucap Rika bahagia, karna itu tidak seberapa.
"Terus Kakak mau dimana? Jangan yan mahal-mahal yaaa." ucap Rika memohon.
"Nggak kok, aku mau makan di tempat favorit kamu, aku jemput kamu nanti malam." ucap Adit.
"Yah Kak, aku kan kerja pulang nya jam setengah sembilan malam." ucap Rika.
"Aku jemput, kamu kerja di supermarket mana?" tanya Adit.
"Enjoymart." jawab Rika. Aditpun mengangguk mengerti. mie instan merekapun di antar oleh Mbak kantin. Tapi entah kenapa nafsu makan Rika jadi hilang karna duduk berdua dengan Adit di depan banyak orang.
"Kenapa gak nafsu gitu makannya?" tanya Adit yang melihat Rika hanya mengaduk mie instannya.
"Mau Aku suapi?" tambah Adit.
"Uhuukk... Aku bisa sendiri kok Kak" Rika langsung tersedak mendengar ucapan Adit, wajahnya langsung memerah. Apa dia sudah kehilangan akal, batin Rika.
"Aku bercanda." ucap Adit tersenyum.
Rika jadi malu karna dia kira, Adit sungguh-sungguh ingin menyuapi nya.
Fina dari tadi memperhatikan mereka sudah sangat cemburu, ia meminta jus jeruk pada Sela.
"Sel, pinjam jus jerukmu!" pinta Fina.
"Buat apa Fin?" tanya Sela kebingungan.
"Mau nyiram parasit!" Fina lalu berjalan menuju ke tempat dimana Adit dan Rika duduk. Ia hendak menyiram Rika, tapi Adit langsung melindungi Rika hingga Rika berada di pelukan Adit. Fina tersentak melihat mereka, rencananya gagal total malah mereka kelihatan mesra sekali.
"Apa-apaan kamu Fina, kenapa kamu menyiram Rika?!" ucap Adit sangat marah pada Fina. Kemeja silver yang di pakai Aditpun basah karna ulah Fina. Fina meminta maaf pada Adit lalu pergi dari kantin.
"Baju Kakak jadi basah, biar aku bantu bersihkan." ucap Rika lalu mengelap kemeja Adit dengan tisu.
"Gakpapa, aku buka saja kemejanya." ucap Adit lalu melepaskan kemejanya, untungnya Adit memakai kaos oblong.
"Kenapa Kakak melindungiku tadi?" tanya Rika heran.
"Karna...karna aku kasihan sama kamu selalu di ganggu Fina" ucap Adit terasa berat untuk mengatakannya. Karna dalam hati Adit, ia tidak mau Rika tersakiti oleh siapapun.
"Terima kasih Kak, tapi aku bisa membela diriku sendiri, aku bisa melawan mereka." ucap Rika lalu pergi dari kantin, ia menahan air matanya. Sebenarnya Rika tau sikap Adit padanya hanya sebatas monolong, tapi kenapa ia sangat sedih saat Adit mengatakan itu.