
Diruang tamu terlihat Bu Nur sedang duduk memegangi amplop coklat yang berisi sejumlah uang yang lumayan banyak, orang yang telah menabrak suaminya dulu memang tak lepas dari tanggung jawab, mereka selalu memberikan Bu Nur uang.
"Assalamualaikum Bu... Rika pulang." Rika sudah berada di balik pintu.
"Waalaikumsalam Nak, sudah pulang ya." ucap Bu Nur, ia langsung memnyembunyikan amplop itu dari Rika, memang selama ini Rika tak pernah mengetahuinya.
"Apa itu, Bu?" tanya Rika penasaran dengan apa yang ada dibalik badan Ibunya itu.
"Tidak ada apa-apa, Nak." ucap Bu Nur, ia langsung termenung, mungkin ini saatnya Rika harus tau.
"Ini... Uang, Nak." ucap Bu Nur lagi lalu mengeluarkan isi dari amplop coklat itu.
"Banyak sekali Bu, ini dari siapa?" tanya Rika terkejut melihat uang itu.
"Ini dari orang yang sudah menabrak Ayahmu dulu." ucap Bu Nur mengelus rambut Rika.
"Bu... Sebenarnya siapa sih yang menabrak Ayah dulu?" tanya Rika sembari duduk di kursi.
"Dia anaknya pak Arsan dan bu Niken, Ibu juga tidak tau anaknya itu laki-laki atau perempuan." ucap Bu Nur menerangkan pada anaknya itu.
"Aku tidak akan memaafkan orang itu, Bu." ucap Rika menggeram.
"Jangan seperti itu, Sayang. Kalau kamu dendam Ayah tidak akan tenang di alam sana." ucap Bu Nur mencoba menenangkan Rika.
"Tapi, Bu... Setidaknya dia juga datang untuk minta maaf sama kita, bukannya lari dari kenyataan." ucap Rika lagi.
"Sudah sudah Nak, semua sudah berlalu lagi pula mereka bertanggung jawab kok." ucap Bu Nur mengelus pundak Rika.
***
Pukul tujuh pagi Adit sudah bersiap-siap, ia berdiri di depan cermin kamarnya. Ia menyisir rambutnya dan keluar dari kamar dengan wajah berseri karna hari ini ia akan menjemput perempuan istimewa di hatinya saat ini.
Rika sudah menunggu Adit di warung Ibunya, terlihat dari kejauhan mobil Adit menuju warung Rika.
"Sudah siap?" tanya Adit membuka pintu mobilnya.
"Sudah, Kak Adit." ucap Rika masih terlihat gugup.
"Ibu mana?" tanya Adit lagi.
Baru saja Rika hendak membuka mulutnya, Bu Nur datang dari dapur.
"Kalian sudah mau berangkat ya?" ucap Bu Nur.
"Iya Bu, kami pamit dulu." ucap Adit lalu menyalami Bu Nur begitu pun Rika.
Didalam mobil, Adit sesekali memandangi wajah Rika. Rika hanya tertunduk, ia tau apa yang dilakukan Adit.
"Kenapa diam saja?" tanya Adit.
"Mau ngomong apa?" Rika balik bertanya.
Adit hanya tersenyum mendengar pertanyaan Rika, ia lalu memegang tangan Rika.
"Kamu masih saja kaku padaku." ucap Adit.
"Aku...aku masih tidak menyangka bisa bersama Kakak seperti ini." ucap Rika.
"Rika... Kamu tau, aku sangat menyayangimu." Adit lalu menghentikan mobilnya sejenak lalu menatap wajah Rika dalam-dalam, wajah Rika seketika memerah.
"Kak Adit aku juga sangat mengagumi Kakak." ucap Rika tersenyum.
"Hanya mengagumi?" Adit mengerutkan dahinya lalu mendekatkan wajahnya ke Rika.
"I...iya." ucap Rika seketika matanya membesar.
"Ah, kamu bohong." ucap Adit hendak menghidupkan mobilnya.
"Aku juga menyayangi Kak Adit." ucap Rika menatap wajah Adit yang cemberut.
Adit lalu menoleh Rika, ia mendekatkan wajahnya ke pipi Rika lalu menyentuh dengan bibir manisnya, Rika tersentak dengan perlakuan Adit.
"Kak Adit..." ucap Rika yang masih melotot.
"Apa?... Itu balasan untuk malam yang lalu." ucap Adit tersenyum lalu melajukan mobilnya lagi.
"Nanti jangan lupa ke taman dekat kampus ya, temani aku." ucap Adit berbisik pada Rika. Rika mengangguk tanpa menatap Adit.
Dikejauhan, Jeni setengah berlari mengejar Rika, tumben hari ini ia agak terlambat tidak seperti biasa.
"Hey, Rik... Tunggu!" seru Jeni dengan napas yang terengah.
"Eh, Jen. Biasanya kamu sudah ada di kelas jam segini." ucap Rika.
"Iya nih, Rik. Aku salah pasang alarm." ucap Jeni sembari memegangi dadanya.
"Hahaha... Kamu ini ada-ada aja." ucap Rika yang tak bisa menahan tawanya.
Merekapun masuk ke dalam kelas. Tak lama Bu Risma pun datang, dosen bahasa inggris mereka.
***
Rika sudah duduk di taman menunggu Adit datang, ia sedang memegangi kertas dan spidol, ternyata Rika sedang mengukir nama pria yang ia cintai.
"Hey..." tanpa Rika sadari Adit sudah ada di depan Rika.
"Lagi nulis apa?" tanya Adit penasaran.
"Ti...tidak ada." Rika gelagapan.
"Coba aku lihat." ucap Adit lalu mengambil tulisan ditangan Rika secara paksa. Tapi Rika bersikeras menyembunyikan tulisan itu di balik tubuhnya.
"Tidak ada-apa, Kak Adit." ucap Rika
"Oh begitu ya..." Adit lalu memeluk Rika dan mendekatkan wajahnya, Rika menjadi terdiam dan tak bisa berkata-kata lagi. Ia seolah menjadi lemah tak berdaya. Adit lalu mengambil tulisan itu.
'Aditya Vareplint'
Melihat tulisan itu, Adit langsung tersenyum melihat Rika. Ternyata gadis lugunya itu sedang mengukir namanya. Ia langsung memegang pipi Rika.
"Ini akan ku tempel di dalam mobilku." ucap Adit.
"Kak Adit ge-er, siapa yang mau memberikannya pada Kakak." ucap Rika mencoba menjahili Adit.
"Pokoknya, ini punyaku." ucap Adit lalu menyimpan tulisan itu.
"Kak Adit, boleh aku cerita?" tanya Rika, ia ingin bercerita tentang Ayahnya.
"Dasar gadis luguku, ayo cerita." ucap Adit lalu mengacak rambut Rika.
"Kemarin Ibu di beri uang sama orang yang telah menabrak ayahku dulu, jumlahnya lumayan." ucap Rika.
"Baguslah Rika, itu berarti mereka bertanggung jawab." ucap Adit tersenyum.
"Lalu?" tanya Adit lagi.
"Tidak juga Kak, yang menabarak ayahku kan bukan mereka, tapi anaknya." ucap Rika. Adit tersentak mendengar ucapan Rika.
"Pokoknya aku tidak akan memaafkan orang yang sudah menabrak ayahku dulu, bukannya tidak rela, tapi setidaknya dia bertanggung jawab, bukannya lari dari kenyataan." ucap Rika menggeram.
"Siapa nama orang yang telah memberi uang kemarin?" tanya Adit, jantungnya berdebar-debar.
"Bu Niken dan pak Arsan." ucap Rika.
Adit langsung terdiam, itu berarti dia telah menabrak ayah Rika, orang yang di cintainya sekarang. Ia menatap Rika dalam.
"Benar, kamu tidak akan memaafkan orang itu?" ucap Adit, tangannya terasa dingin.
"Iya..." ucap Rika.
Adit langsung memeluk Rika, ia tak tau harus berbuat apa untuk sekarang ini, kalau ia mengaku pasti Rika sangat marah padanya, tapi Rika harus tau kebenarannya.
"Kenapa, Kak?" tanya Rika yang kebingungan dengan Adit yang tiba-tiba memeluknya.
"Ti...tidak ada, kamu harus kuat Rika." ucap Adit.
"Iya Kak Adit, aku sudah ikhlas kok." ucap Rika tersenyum sembari melepaskan pelukan Adit.
Adit gelisah, kenapa dunia ini sempit sekali, kenapa dia harus mencintai orang yang telah ia bunuh ayahnya. Perasaan bersalah itu muncul lagi di benak Adit.