Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 23



Bu Niken menghampiri Adit yang sedang duduk di teras rumah mereka, ia melihat anak kesayangannya itu termenung. Bu Niken takut Adit memikirkan masalalunya lagi.


"Sayang... Lagi mikirin apa?" ucap Bu Niken lalu memegang pundak Adit.


"Eh, Mama, tidak ada kok." ucap Adit.


"Cerita sama Mama, kamu tidak memikirkan masalalu kamu lagi kan?" ucap Bu Niken sangat khawatir pada anaknya.


"Enggak Ma, cuma kepikiran sama Rik..." Adit tak melanjutkan ucapannya, ia hampir saja keceplosan.


"Hmm... Mama tau anak Mama ini kenapa, lagi jatuh cinta ya." ucap Bu Niken meledek Adit. Adit hanya tersenyum, yang dikatakan Bu Niken sepertinya memang benar.


"Mama senang sekali, akhirnya kamu sudah mulai terbuka dan juga kamu sudah mau membawa temanmu ke rumah. Apa.... Dia istimewa?" Bu Niken melirik anaknya yang sedang menunduk.


"Enggak Ma, Rika cuma teman biasa kok." ucap Adit membohongi Mamanya, tapi perasaan seorang Ibu tak bisa di bohongi, Bu Niken tau apa yang sedang terjadi pada anaknya.


"Oh iya Nak, Rika itu tinggal sama siapa?" tanya Bu Niken.


"Rika cuma tinggal berdua sama Ibunya, Ma, ayahnya sudah lama meninggal." ucap Adit.


"Serius kamu, meninggal kenapa?" tanya Bu Niken penasaran.


"Tidak tau, Ma." ucap Adit.


Bu Niken terdiam, jangan sampai kekhawatirannya terjadi, ia takut kalau Ayah Rika adalah korban yang ditabrak Adit. Bu Niken masuk kedalam meninggalkan Adit. Ia sangat senang melihat anaknya tidak pemurung lagi semenjak ada Rika, mungkin ada benarnya juga omongan Pak Arsan, bahwa kalau Adit sudah mempunyai teman dekat, lama-lama traumanya akan hilang.


***


Rika membantu Ibunya berjualan di warung, karna hari ini jadwal kuliahnya kosong dan ia juga tidak bekerja di supermarket. Warung Bu Nur sangat ramai. Setelah semua selesai Rika duduk sejenak untuk meluruskan pinggangnya. Ia senang sekali melihat warung Ibunya ramai walaupun dengan tempat yang sederhana, tapi orang-orang ditempat Rika sangat menyukai masakan Bu Nur.


"Mbak, pesan gado-gadonya satu." ucap seorang pria di belakang Rika.


"Habis, Mas." ucap Rika menoleh kebelakang, ternyata pria itu tak lain adalah Adit.


"Kak Adit... Ada apa?" tanya Rika heran.


"Mau ketemu kamu." ucap Adit menggoda Rika.


"Pulang dari kampus aku lapar, makanya aku kesini mau coba masakan bu Nur." tambah Adit.


"Ya sudah, Kakak mau pesan apa?" tanya Rika senang, pembeli di warung Ibunya bertembah apalagi itu Adit.


"Nasi gemuknya boleh." ucap Adit.


"Sebentar aku buatkan dulu ya, Kak." ucap Rika lalu pergi dari hadapan Adit.


"Bu, ada Kak Adit di depan, mau makan di sini, dia pesan nasi gemuk satu." Rika memberitahu Bu Nur.


"Ya sudah biar Ibu yang antar, kamu temani dia saja disana." perintah Bu Nur.


"Baik,Bu." Rika berjalan kedepan menemui Adit, tak lama Bu Nur mengantar pesanan Adit.


"Tumben makan disini, Nak Adit." sapa Bu Nur pada Adit.


"Iya Bu, tadi pulang dari kampus lapar sekali, jadi mampir ke sini." ucap Adit tersenyum pada Bu Nur.


"Aku permisi juga Kak, mau bantu Ibu di belakang." ucap Rika.


"Temani aku makan." ucap Adit menghentikan langkah Rika.


"Ibumu juga pasti marah kalau kamu meninggalkan aku sendiri disini." tambah Adit, Rika berpikir ucapan Adit ada benarnya juga, Aditkan teman kampus Rika, jadi dia harus menemaninya. Rika kembali duduk di dekat Adit.


"Nasinya enak." ucap Adit lalu menyuap nasinya lagi.


"Iya dong, masakan Ibuku memang selalu enak." ucap Rika bangga pada Ibunya. Adit hanya tersenyum gemas mendengar perkataan Rika, Ia lalu lanjut memakan nasinya. Rika hanya melihat Adit yang sedang makan, tiba-tiba secara tidak sadar tangan Rika memegang bibir manis Adit, ia mengelusnya dengan lembut. Adit tersentak melihat perlakuan Rika padanya, Adit memegang tangan Rika tak kalah lembutnya.


Rika terkejut, ia tak tau mengapa dirinya bisa berlaku seperti itu pada Adit.


"Ma...maaf, Kak Adit. Tadi ada sesuatu di bibir Kak Adit." ucap Rika, gagap nya timbul lagi, ia buru-buru menjauhkan tangannya dari Adit.


"Tidak apa-apa, terima kasih." ucap Adit dengan senyumnya yang mempesona.


"Rika, nanti malam ada acara tidak? temani aku ke toko buku." ucap Adit mengajak Rika.


"Tidak Ada Kak Adit, tapi mungkin Ibuku tidak mengizinkan aku keluar malam selain bekerja." ucap Rika. Adit lalu berdiri dan berjalan ke arah dapur dimana Bu Nur sedang membereskan barang-barang.


"Bu, Adit mau pamit pulang dulu ya, berapa nasi gemuknya?" tanya Adit.


"Ya ampun Nak Adit, tidak usah di bayar, kamu ini kayak sama siapa saja." ucap Bu Nur tersenyum.


"Jangan Bu, Adit jadi tidak enak." ucap Adit lagi.


"Sudahlah Nak Adit, kamu kan temannya Rika." ucap Bu Nur. Dari dulu Bu Nur memang sangat baik pada teman-teman Rika.


"Oh ya Bu, boleh tidak Adit mengajak Rika pegi malam ini?" tanya Adit meminta izin kepada Bu Nur, ia sangat berharap Bu Nur memperbolehkan anaknya pergi bersama Adit.


"Memangnya mau kemana?" tanya Bu Nur.


"Mau beli buku Bu, boleh ya Bu." ucap Adit memohon lada Bu Nur.


"Hmm... Boleh saja Nak Adit, tapi pulangnya jangan larut malam ya, dan satu lagi tolong jaga anak gadis Ibu satu-satunya itu." ucap Bu Nur lalu mengelus pundak Adit.


"Pasti, Bu." ucap Adit lalu mencium punggung tangan Bu Nur.


Di meja, Rika sedang duduk mengayunkan kakinya, ia melihat Adit berjalan mendekatinya Rika menoleh ke arah Adit.


"Bilang apa tadi sama Ibu?" tanya Rika.


"Ibu mengizinkan kita pergi nanti malam." ucap Adit tersenyum senang.


"Yang benar?" ucap Rika tak percaya. Biasanya Bu Nur sangat protektif sekali padanya. Tapi kali ini dia dengan mudah memberi izin pada pria yang ingin mengajak anaknya pergi. Memang sebelumnya Rika tak pernah pergi bersama seorang pria.


"Iya, nanti malam aku jemput jam setengah delapan ya." ucap Adit. Rika pun mengiyakan ajakan Adit, Adit pamit pulang pada Rika. Ia melambaikan tangannya.


"Sampai jumpa nanti malam, Rika." ucap Adit lalu membuka pintu mobilnya, Rika mengangguk dari kejauhan. Ia kembali duduk dan termenung, jantungnya berdebar. Ia tak menyangka nanti malam dia akan pergi bersama pria yang ia kagumi. Sepertinya ini bukan rasa kagum lagi melainkan rasa cinta yang ia rasakan.


"Rika... Sudah sore Nak, ayo kita tutup warungnya." teriak Bu Nur dari dapur.


"Iya Bu, Rika sudah beres-beres tinggal di tutup saja." jawab Rika.