Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 55



Adit sudah nangkring di depan rumah Rika, ia menunggu Rika keluar. Dua batang coklat sudah ada di tangannya, berharap Rika akan menerima coklat itu sebagai tanda maaf darinya. Sudah sekitar tiga puluh menit Adit menunggu di warung Bu Nur, ia seolah lupa jam kuliah pagi Rika.


Rika masih memakan nasi gemuknya, ia sama sekali tidak tau kalau pria tampannya sudah menunggu di depan rumah. Alangkah terkejutnya Bu Nur melihat cowok tampan pagi-pagi sudah menghuni warungnya, biasanya tidak ada pembeli sepagi ini, warungnya baru beroperasi pukul sembilan nanti. Ia merasa tak asing dengan cowok yang duduk di kursi ujung itu. Tidak salah lagi, Bu Nur lalu mendekatinya.


"Assalamualaikum, Bu."


"Waalaikumsalam." Bu Nur masih celingukan. Heran.


"Pagi sekali, Nak?" tambahnya lalu duduk di samping Adit.


"Iya Bu. Sepertinya Rika lagi marah sama Adit."


Bu Nur belum menangkap ucapan Adit. Ia menunggu Adit menjelaskan secara detail.


"Kemarin, Adit pergi bersama teman wanita. Kami ke pasar tradisional dan ketemu sama Rika, Bu. Menurut Ibu, kalau seperti itu tandanya apa ya?" tanya Adit, ia memang sudah tak canggung lagi untuk sekedar bercerita yang sebenarnya Bu Nur tak perlu tau. Bertolak belakang sekali dengan Rika. Rika selalu menutupi hal-hal yang membuatnya malu kalau diceritakan pada Ibunya.


Bu Nur hanya tersenyum khasnya, selayak Ibu dan anak. "Mungkin, cemburu."


"Anak satu itu kalau ngembek pasti lama, harap maklum ya, Nak. Tapi Ibu cuma berpesan sama kamu, tolong jangan sakiti hatinya." Bu Nur pengelus pundak pria yang di cintai anaknya itu.


"Pasti, Bu." Adit menundukkan kepalanya."Oh ya Bu. Adit mau makan nasi gemuk buatan Ibu dong."


"Boleh." Bu Nur menuju dapur, ia hendak membuatkan sepiring nasi gemuk untuk Adit. Sadar Adit mengikutinya, ia berhenti dan menoleh Adit.


"Nak Adit mau ngapain?" tanya Bu Nur heran.


"Mau bantuin Ibu." ucap Adit tersenyum pada sang camer.


Ternyata masak di bantu dengan orang seganteng ini, cukup membuat Bu Nur gerogi.


Adit semakin cute saja saat membersihkan sayuran. Rika memang tak salah pilih, pikirnya dalam hati.


Rika berjalan menuju warung, ia sudah melihat mobil sport hitam Adit terparkir di depan rumahnya. Tapi ia tak melihat pria cool itu.


Kemana Kak Adit?


Dirinya mematung saat mendapati Adit sedang membantu Ibunya di dapur. Cowok itu makin mempesona saja, membuat ia tak bisa menutup mulutnya.


Adit membawa sepiring nasi gemuk ke depan, mendekati Rika yang masih berdiri kaku. Adit menarik tangan Rika, menyuruh menemaninya makan. Ia menyodorkan dua batang coklat yang dibawanya tadi pada Rika.


"Untuk apa ini?" tanya Rika.


"Tanda maaf dariku." ucap Adit.


"Kenapa datang sepagi ini?"


"Kenapa? Memangnya tidak boleh, aku mau sarapan disini." ucap Adit lalu memakan nasi gemuknya dengan lahap.


"Pakai ganggu Ibu segala lagi." ucap Rika. Agak ketus, tapi tak bisa dipungkiri wajah itu makin ganteng saat didapur tadi.


"Aku bantuin Ibu, bukan ganggu."


Adit tiba-tiba tersedak, entah itu hanya akting untuk membuat gadis lugunya panik saja. Sepertinya strategi yang dipakai cukup ampuh, membuat gadis berambut lurus sebahu itu buru-buru mengambilkannya air putih dan mengelus punggung Adit.


"Pelan-pelan, Kak." Muka cemasnya tak bisa disembunyikan.


Adit hanya tersenyum, melihat kelakuan Rika. Begitu pedulinya Rika padanya.


"Aku gakpapa kok."


***


Rika turun dari mobil Adit begitu saja. Tentu saja Adit tak tinggal diam, ia berlari mengejar Rika.


"Masih marah soal kemarin?" tanya Adit. Ia menahan langkah Rika.


Adit hanya pasrah, ia lalu kembali ke mobil. Kesalahpahaman ini sangat memusingkan kepalanya, ia mengambil buku-buku di mobilnya. Berusaha konsentrasi, supaya tetap santai saat mengajar nanti. Apalagi jadwal yang diberi Bu Risma padanya lumayan padat. Ia melangkah mantap menuju kelas pertamanya, melupakan masalahnya dengan Rika sejenak.


Rika berjalan dikoridor kampus. Isi kepalanya hanya dipenuhi dengan tanda tanya, mengapa ia harus marah dengan Adit? Ah wajar kalau perempuan cemburu dengan pacar sendiri. Apa memang Adit pantas bergandengan dengan Fina?


Sampai seseorang menabrak bahunya, cukup keras. Membuat laptop ditangannya terjatuh. Deri tak sadar sudah menabrak Rika, ia sedang asyik memakai earphone dan memainkan ponselnya.


"Sorry, gak sengaja"


Deri lalu pergi, ia tak menghiraukan Rika yang masih diposisi terduduk di lantai. Rika buru-buru mengambil laptopnya yang terpental di samping pot bunga. Ia membuka laptopnya, untungnya masih bisa hidup dan tidak ada yang lecet.


"Laptopku." Rika lalu memeluk laptopnya, ia tak menghiraukan orang yang berlalu lalang dikoridor kampus.


***


Rika membuka latopnya, tapi tak bisa. Rasa lega yang baru dirasakannya tadi berubah jadi panik.


"Tadi bagus-bagus aja deh, kenapa jadi gini?" gerutu Rika. Tangannya tak henti mengotak-ngatik laptopnya.


"Ah sial! Masak baru beli udah rusak." gerutunya lagi.


"Ada apa?" tanya Adit yang tiba-tiba datang mengahmpirinya.


"Tidak...tidak ada." ucap Rika tambah panik.


"Kenapa laptopnya?"


"Gak mau hidup, tadi terhempas. Tabrakan dikoridor sama Kak Deri." terang Rika.


Adit mengambil laptop itu dari Rika, ia mencoba memperbaikinya. Adit mengotak-atik laptop Rika, saat dihidupkan laptopnya bagus kembali seperti sedia kala. Ia sudah biasa menghadapi laptop mati seperti ini.


"Makanya lain kali hati-hati." ucap Adit tersenyum pada Rika.


"Kenapa harus ditangan Kak Adit sih baru bagus." bisik Rika.


"Itu karna aku juga ahli dibidang mekanik." ucap Adit menahan tawa.


"Ini semua juga gara-gara Kakak."


Adit hanya melongo, kenapa bisa dia disalahkan. Sedangkan dia tidak berada di tempat kejadian.


"Aku?" Adit menunjuk dirinya heran.


"Karna aku jalannya ngelamun, mikirin Kakak sama Kak Fina kemarin." ucap Rika. Ia memang selalu keceplosan di depan Adit. Tangannya dengan cepat menutup mulutnya yang tak bisa dikontrol itu.


Adit hanya tersenyum, setengah gembira mendengar pernyataan Rika. Gadis lugunya itu tak bisa menyimpan rasa cemburunya. Adit memegang tangan Rika, mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Maafkan aku, tapi tidak ada maksud lain dengan Fina kemarin. Maafkan Fina juga, sampai sekarang ia masih tak bisa menjauhiku."


Rika makin cemberut mendengar ucapan Adit. Kenapa Adit harus mewakilkan Fina?


"Hatiku ini hanya milikmu." tambah Adit, yang membuat raut wajah Rika berubah. Hanya senyum manis yang terlihat di wajahnya. Entah kenapa ucapan Adit membuatnya luluh dengan cepat.


"Aku cuma tak menyangka saja. Kak Adit dengan mudahnya memeluk Kak Fina di perpustakaan dan dipasar, kalian gandengan seperti suami istri."


"Tau dari mana?" Adit terkejut, siapa yang mengintai saat Fina memeluknya di perpustakaan. Atau mungkin Rika melihatnya sendiri?


Rika hanya menunduk lemas, berarti benar yang di katakan Jeni padanya kemarin.


"Dia yang memelukku Rika, aku tidak merespon sedikitpun. Jujur, waktu itu aku juga risih dengan perlakuan Fina." Adit mencoba meyakinkan Rika.


Adit tiba-tiba memeluk Rika. Pelukan hangat, lembut dari Adit membuat Rika menjadi kaku. Sangat nyaman, aroma tubuh pria tampan ini sangat membuatnya tak berdaya. Aroma vanila.


"Pelukanku ini hanya untukmu." Adit meletakkan kepalanya di puncak kepala Rika.