
"Halo, Pak Redi. Saya minta maaf atas kesalahan perusahaan kami, saya akan mengganti bahan kainnya dengan yang baru, Pak."
"Iya, Pak Adit. Saya sebenarnya kecewa dengan pelayanan Vareplint Tekstil, yang biasanya selalu teliti dalam mengirim bahan. Akibat kejadian salah kirim ini, saya jadi menunda pembuatan baju untuk pertemuan minggu depan."
"Sekali lagi maafkan kami, Pak. Semua bahan sudah kami kirim ulang, mohon Bapak jangan pindah ketempat lain. Sebagai ganti rugi, kami memberi diskon untuk harga bahan yang sudah kami kirim tadi."
"Untuk kali ini, saya maklumi, Pak. Tapi jika ada kesalahan seperti ini, saya tidak akan berlangganan dengan perusahaan Anda lagi."
Adit merasa lega setelah beberapa pelanggannya memaklumi kesalahan ini. Tapi ada juga yang menekannya, mereka tidak mau membayar bahan yang dikirim ulang oleh Adit. Seperti mencari kesempatan dalam kesempitan. Adit terpaksa memakai uang tabungan perusahaan untuk menutupi semua kerugian yang ditaksir hampir seratus juta itu.
Pak Arsan berjalan memasuki kantor Adit, semua kariawan menunduk hormat. Walaupun Adit belum mengabari sang Papa. Tapi Pak Arsan sudah mengetahuinya lebih dulu. Ia tak habis pikir, Adit bisa melakukan kesalahan sefatal ini.
"Kenapa bisa seperti ini, Dit?" ucap Pak Arsan yang sudah berdiri didepan Adit.
"Papa..."
"Maafkan Adit, Pa. Waktu Adit cek, semuanya baik-baik saja. Adit juga tidak tau bakal seperti ini."
"Sebagai pemimpin, tidak ada kata tidak tau. Itu berarti kamu sudah lalai dalam mengerjakan sesuatu. Inilah akibatnya, kita jadi rugi besar. Papa kecewa sama kamu."
"Maaf, Pa. Adit akan berusaha lebih baik lagi."
"Apa sudah kamu urus semuanya? Semua pelanggan mau balik sama kita lagi?"
"Sudah, Pa. Tapi sebagian pelanggan tidak mau membayar."
"Usaha dong, bujuk mereka supaya mau bayar walaupun cuma setengah."
"Baik, Pa."
"Papa tidak akan turun tangan masalah ini, biar kamu belajar sendiri." Pak Arsan keluar dari ruangan Adit.
Pak Arsan memang segaja membiarkan Adit mengatasi masalah ini, ia ingin mengajarkan anaknya bertanggung jawab. Adit harus bisa menjadi seorang pemimpin yang tegas.
***
Adit mengambil kunci mobil dan segera pergi menemui Bu Rini, salah satu pelanggannya. Ia ingin bernegosiasi dengan Bu Rini agar mau membayar setengah. Setelah sampai di sebuah kafe. Mereka mulai berbincang.
Setelah setengah jam Adit menjelaskan, akhirnya Bu Rini pun agak luluh, ia mau membayar, walaupun cuma setengah. Karna bahan kain dari Vareplint Tekstil, memang berkualitas tinggi. Bu Rini tak mau menyiakan itu.
"Terima kasih atas pengertiannya, Bu. Saya mohon jangan kapok untuk berlangganan dipabrik kami." Adit menundukkan badannya.
Dalam perjalanan menuju kantor, Adit melewati taman kota, tiba-tiba matanya tertuju pada sosok permpuan yang sangat tak asing baginya. Dia adalah Rika, yang sedang duduk bersama pria, mereka sedang asik menikmati bakso aci.
Adit menghentikan mobilnya dan menghampiri mereka. Ia sangat geram melihat gadis lugunya bersama pria lain.
"Rika!"
"Kak Adit?"
"Siapa dia? Apa dia pacar barumu?"
"Bukan, dia teman sekaligus Kakakku."
Adit tersenyum sinis, mana mungkin teman bisa semesra ini.
"Jadi kamu lebih memilih dia?"
"Maaf, Pak Adit. Anda salah paham, saya memang teman Rika sejak kecil. Kami sama-sama dari kampung, lagipula Rika masih saudara jauh saya." jelas Sandi.
Adit menoleh Sandi, ia tak pernah melihat Sandi sebelumnya. Ia bahkan tidak tau kalau Fina punya supir.
"Maaf, Kak Adit, aku harus pergi ke supermarket. Ayo Kak Sandi."
Rika buru-buru meninggalkan tempat itu.
Sandi mendekati Adit.
"Jangan pernah sakiti Rika lagi, ia sudah cukup menderita selama ini. Kalau benar anda menyayanginya, kejar dia. Tapi kalau hanya ingin menyakitinya saja, anda berurusan dengan saya." ancam Sandi.
Adit tak menggubris ucapan Sandi.
"Rika, tunggu..."
"Dengar penjelasan aku dulu, Rika...." gumam Adit.
Rika menahan air matanya, berusaha untuk tetap tegar menghadapi semua ini. Ia tak mau terlarut dalam kesedihan. Ia juga tak sanggup melihat wajah itu lama. Apalagi ia lihat Adit sangat lelah, seperti banyak masalah. Ia tak mau menyelidiki lebih jauh, itu akan membuatnya semakin susah melupakan Adit.
***
Hujan sangat deras malam ini, Rika buru-buru mengenakan jas hujan. Kalau menunggu hujan reda entah sampai jam berapa ia akan pulang. Setelah mengakhiri hubungannya dengan Adit, entah kenapa ia sangat tak meniginginkan hujan turun. Membuatnya semakin mengingat Adit, khawatir jika terjadi apa-apa dengan Adit.
Setelah sampai dirumah, ia membersihkan seluruh badan dan istirahat. Tapi ponselnya tiba-tiba bergetar.
"Halo..."
"Rika... Kamu tau keadaan Adit sekarang?"
"Kak Adit kenapa?"
"Dia sangat terpuruk, perusahaan sedang menghadapi kerugian yang cukup besar. Tak ada yang menyemangatinya saat ini."
Akhir-akhir ini, Fina rajin memberi informasi tentang Adit pada Rika. Sepertinya ia sudah benar-benar rela jika Rika memiliki Adit sepenuhnya. Karna dihatinya sekarang cuma ada satu nama, yaitu Sandi.
"Maaf, Kak Fina. Sepertinya aku tak bisa ikut campur masalah ini, kak Adit sudah punya orang spesial yang bisa menyemangatinya kapanpun."
"Dia butuh kamu, Rika..."
Apa benar Adit membutuhkannya? Sekarang Adit sedang menghadapi masalah besar. Ingin sekali Rika menghampiri pria tampannya. Menghiburnya, menyemangatinya dalam mengahadapi masalahnya. Tapi tidak bisa, hatinya sudah terlanjur sakit. Apalagi terkenang foto-foto mesra Adit bersama Melodi. Foto itu seolah menyayat hatinya.
Adit tak peduli lagi dengan penyakitnya. Ia bahkan makan tidak teratur. Sampai-sampai Bik Eli bingung. Obat rutin dari dokter juga tak dimakannya. Bik Eli sangat khawatir dengan keadaan majikan mudanya itu.
"Ayo diminum obatnya, Nak."
"Tidak usah, Bik. Saya baik-baik saja, kok."
"Jangan gitu, dong, Nak. Nanti saya dimarahin Bu Niken. Saya masih butuh kerjaan."
Adit menghela napas, ia mengambil pil berwarna putih itu lalu meminumnya. Terpaksa, karna Bik Eli terus memaksanya. Wajah yang dulu mulai ceria itu, kini tampak pucat seperti tak ada gairah hidup lagi. Tak terasa air mata menetes begitu saja.
Aku tak bisa kehilanganmu, gadis luguku...
Adit mengepalkan kedua tangannya, menyesali apa yang telah ia lakukan. Ia sangat mengerti perasaan Rika, wanita mana yang tak cemburu jika pasangannya bersama wanita lain. Ia tak menyangka hubungannya berakhir secepat ini. Kini ia sudah kehilangan perempuan yang sangatu tulus mencintainya. Perempuan sederhana yang pernah ia temui. Hidupnya kembali hampa, dipenuhi perasaan bersalah. Lagi dan lagi. Bersalah karna sudah menghilangkan kebahagian Rika untuk kedua kalinya.
"Rika... Aku sangat membutuhkanmu." Air matanya mengalir deras. Hatinya dipenuhi rasa bersalah.
"Kak Adit... Semoga kamu kuat mengahdapi semua ini." gumam Rika lalu menarik selimutnya.