Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 69



Bu Nur duduk termenung di warungnya, sampai sore seperti ini belum juga ada pelanggan. Biasanya dari tengah hari tadi Bu Nur sangat sibuk melayani pelanggan. Apa karna ia menaikkan harga nasi gemuknya. Ia sengaja menaikkan sedikit harga barang dagangannya. Karna setelah dihitung, makin hari modalnya pun makin besar.


Beberapa bahan masakan di dapur juga sudah menipis. Bu Nur berniat ingin meminta bantuan Rika, tapi hatinya sangat berat. Bulan ini Rika memang agak sedikit membantunya. Karna keperluan kuliahnya yang banyak sekali.


Sudah pukul lima sore, Bu Nur menutup warungnya. Ia menghitung berapa pelanggan yang datang hari ini. Tiba-tiba badannya terasa lesu. Setelah menghitung, teringatnya hanya sekitar lima orang. Sangat menurun.


***


Rika melirik jam tangannya, sudah pukul setengah sembilan malam. Waktu yang sangat ia tunggu-tunggu. Setelah sampai di rumah, ia melihat sang ibu sedang melamun di kursi ruang tamu.


"Ibu kenapa?"


"Tidak apa-apa, Nak. Cuma, beberapa hari ini warung kita sepi. Bahan-bahan masakan juga sudah menipis." ucap Bu Nur.


"Ibu jangan sedih. Sebentar lagi Rika kan gajian." Rika merangkul Ibunya.


"Kamu kan juga banyak keperluan, Nak."


"Ah, Ibu. Tidak usah pikirkan itu, ya. Ya sudah, Rika mau ganti baju dulu. Ibu tidur saja, masalah ini jangan di ambil pusing. Kan masih ada Rika." ucap Rika tersenyum pada Ibunya, ia berusaha membuat Ibunya tak banyak pikiran.


Rika berjalan menuju kamar. Ia masih ingat betul ucapannya saat di mobil Adit, bahwa semua baik-baik saja. Tapi kenyataannya sekarang ia sangat pusing dengan kondisi ekonomi keluarga kecilnya. Gajinya hanya cukup untuk bayar kuliah dan keperluan lainnya. Ia sudah mengajukan beasiswa tidak mampu di kampus Street. Tapi masih belum di ACC oleh pihak kampus. Alasannya karna Rika belum menginjak semester tiga.


Seharusnya aku tidak egois, aku tidak usah kuliah.


Saat seperti ini, ia kadang menyesali keputusannya untuk kuliah. Bukannya membantu masalah keuangan keluarga, ia malah mementingkan diri sendiri. Belum genap setahun ia menempuh pendidikan di bangku kuliah, tapi pengeluaran sudah sangat banyak sekali.


Nampaknya Rika harus bertahan untuk dua hari ini, karna lusa ia baru gajian. Ia memang tak mau memberitahu masalah ini dengan Adit. Ia tidak mau merepotkan Adit.


***


"Jajan yuk, Rik."


"Tidak dulu, Jen. Uangku tinggal segini. Mau belanja kebutuhan dapur, kasihan ibuku." Rika menghitung selembaran uang lima puluh ribuan ditanganya. Jumlahnya hanya sekitar dua ratus lima puluh ribu.


"Kamu ini, tidak usah memikirkan itu." Jeni menarik tangan Rika menuju kantin. Jeni memang selalu royal dengan sahabatnya itu. Tapi Rika merasa tidak enak, jika harus dijajani oleh Jeni terus-terusan.


Setelah menghabiskan semangkuk mie instan yang di pesan Jeni barusan, Rika pamit pulang sama Jeni. Ia hendak ke Enjoymart untuk belanja keperluan dapur.


"Aku pulang duluan ya, Jen. Makasih traktirannya. " Rika beranjak dari tempat duduknya.


"Kenapa buru-buru?"


"Maaf ya, aku mau belanja soalnya." ucap Rika dengan wajah menyesal.


Rika menggengngam uang dua ratus ribu ditangannya, ini adalah uang terakhirnya. Ia harus bisa mengatur strategi supaya cukup untuk membeli kebutuhan dapur. Sementara lima puluh ribunya, akan ia gunakan untuk bensin motor.


Rika membawa barang belanjaannya ke dalam rumah. Ia melihat Bu Nur sedang membereskan warung. Hari ini Bu Nur tutup lebih cepat lagi. Karna dari tadi hanya beberapa orang yang mampir di warungnya.


"Bu... Ini cukupkan buat kita dua hari kedepan?" tanya Rika lembut.


"Cukup, Sayang. Maafkan Ibu ya, kamu jadi belanja lagi."


"Ibu tidak salah." Rika tersenyum.


***


Rika menepuk jidatnya, ia lupa hari ini ia berjanji akan membawakan makan siang untuk Adit. Untung saja hari ini libur kerja, jadi ia bisa mengantarkannya. Rika sudah menenteng rantang kecil berwarna biru muda seperti biasa.


Sesampainya di kantor berlantai sepuluh itu, Rika masuk dengan santai. Kini tak ada lagi yang mengintrogasi ataupun melarangnya masuk. Semua satpam sudah tau kalau ia adalah pacar bos mereka. Rika masuk ke ruangan Adit. Ia melihat Adit sedang sebuk memandangi layar laptop.


"Ada apa, Fin?" Adit mengira Rika adalah Fina yang mengantar berkas. Karna Fina juga tidak mengetuk pintu jika masuk keruangannya.


"Fina?"


"Rika." Adit berdiri dan langsung memeluk Rika. Ia sangat merindukan gadis lugunya itu.


"Kenapa tidak bilang kalau sudah sampai, aku kan bisa keluar menjemputmu." Adit menatap wajah Rika yang tampak lesu hari ini.


"Lebay." Rika menepuk pelan dada bidang itu.


Adit hanya tersenyum. "Itu makanan untukku?"


Lagi-lagi Rika lupa memberikan makanan ditangannya pada Adit.


"Eh, iya. Pasti Kakak belum makan, makanlah."


Mereka duduk di sofa, Rika membuka rantang berwarna biru muda itu dan memberikannya pada Adit. Adit heran dengan sikap Rika saat ini. Tidak seperti biasanya, gugup atau salah tingkah. Ia malah melamun, sudah beberapa kali Adit mengejutkannya.


"Ada apa?" tanya Adit pelan.


"Tidak ada." Rika berusaha menutupi.


"Kamu tampak tidak baik-baik saja. Ceritalah."


"Gakpapa, Kak. Cuma mikirin tugas yang numpuk aja." Rika masih berusaha menutupi masalahnya dari Adit.


"Biar kubantu." ucap Adit.


"Tidak usah, Kak."


Adit yakin yang dikatakan Rika saat ini bukanlah masalah yang sebenarnya. Kalau hanya masalah tugas, tidak mungkin Rika se-galau ini. Ia pasti punya masalah lain. Heran, Rika masih saja tertutup dengannya.


"Aku antar pulang, ya?"


"Tidak usah, Kak. Aku kan bawa motor sendiri." tolak Rika.


"Kali ini kamu tidak boleh nolak. Pokoknya aku harus msengantarmu nanti."


"Motorku gimana?"


"Tinggalkan saja disini." ucap Adit.


Pukul empat sore, mereka keluar dari kantor. Adit mengambil mobilnya. Didalam mobil, ia melihat wajah gadis lugunya kembali murung. Ada apa ini sebenarnya? Adit semakin bingung.


Setelah sampai dirumah Rika, ia melihat warung bu Nur sudah tutup. Tumben tidak seperti biasanya.


"Kenapa warung cepat sekali tutupnya?"


"Sudah beberapa hari ini, warung sepi pembeli. Makanya tutup cepat." ucap Rika keceplosan.


"Kok, bisa?"


"Ibu menaikkan harganya sedikit. Cuma sedikit kok, Kak. Karna kata ibu, harga yang lama tidak sesuai dengan modal yang keluarkan."


Adit mengangguk mengerti. Ternyata ini masalahnya, ia tak bisa tinggal diam melihat sang kekasih sedang kesulitan.


"Kenapa tidak mau jujur denganku?" Adit menatap Rika.


"Aku jujur kok, tugasku memang numpuk. Sedangkan aku..." Rika tak melanjutkan ucapannya. Ia tak mau kecepelosan didepan Adit kalau sekarang ia hanya memiliki uang selembar lima puluh ribu.


"Sedangkan apa?" Susah sekali mengorek masalah gadis lugunya ini.


"Tidak apa-apa." Rika menggeleng dan mengeluarkan senyum palsunya, agar tak dicurigai oleh Adit.


Adit melambaikan tangannya, ia pamit pulang ke Rika. Hatinya sangat tidak tenang saat ini, ia harus mencari cara agar bisa membantu Rika.