
Minggu ini adalah jadwal rutin Bu Niken dan Pak Arsan pulang untuk menjenguk anak semata wayangnya. Bu Niken melihat anaknya sudah rapih dengan jas abu-abu. Adit persis sekali seperti Pak Arsan waktu masih muda.
Sudah hampir sebulan Adit memimpin anak perusahaan mereka di Jakarta. Adit mengelolanya dengan baik. Pak Arsan juga selalu memantau Adit, melihat sudah sampai mana perkembangan anaknya itu.
Adit dan Pak Arsan sudah berangkat ke kantor. Sedangkan Bu Niken tengah duduk diteras, menikmati cuaca pagi yang cukup cerah. Ditemani secangkir teh hangat, ia duduk dan memainkan ponselnya. Sekedar melihat kanal Youtube cara bikin kue simple. Yah. Disamping pintar memasak, wanita cantik itu juga hobi sekali membuat kue-kue dengan resep baru. Saat sedang asik melihat adonan, tiba-tiba dipotong oleh panggilan masuk dari temannya, tak lain adalah Bu Elvi.
"Halo, Bu Niken."
"Hai, Jeng. Ada apa?"
"Sekarang lagi dimana, Jeng? Rencananya mau main kerumah, boleh?"
"Pas banget, saya lagi di Jakarta sekarang. Udah lama gak bikin kue bareng." ucap Bu Niken bersemangat. Hari ini ia bisa mengusir rasa bosannya dengan bikin kue bersama temannya.
"Oke, Jeng. Nanti siang saya kesana."
***
"Gak terasa ya, anak kita sudah pada mandiri." ucap Bu Elvi sembari memanggang kue kering yang sudah mereka buat.
"Iya, Jeng. Sekarang saya sudah agak lega, melihat Adit bangkit dari keterpurukannya."
"Baguslah. Oh iya, Jeng. Fina dan Adit kan sudah berteman lama. Mungkin kita cocok jadi besan." ucap Bu Elvi tersenyum.
Bu Niken tentu saja tak langsung menjawab, karna anaknya sudah mempunyai tambatan hati. Ia hanya tersenyum pada temannya itu.
"Kalau saya sih, tergantung pilihan Adit saja." ucap Bu Niken, ia sangat berhati-hati.
"Apa... Adit sudah punya pacar?" tanya Bu Elvi.
"Sudah, Bu Elvi." ucap Bu Niken.
"Hmm... Tapi jodoh ditangan Tuhan, kan." ucap Bu Elvi tersenyum.
Bu Niken hanya membalas senyum temannya itu, ia hanya mengangguk pelan. Nampaknya Bu Elvi bersekiras ingin menjodohkan kedua anak mereka. Kuepun sudah siap mereka buat, Bu Elvi pamit pulang dengan membawa dua toples kue hasil buatan mereka tadi.
***
Fina mencoba mendekati Pak Arsan yang sedang berdiri memantau pabrik. Ia akan mencoba segala sesuatu, supaya mendapatkan Adit. Walaupun Adit selalu menghindar darinya, tapi dia akan berusaha mendapatkan hati orangtua Adit. Kalau dia bisa meluluhkan kedua orangtua Adit, pasti Adit tak akan bisa berkutik.
"Om, mau makan siang apa? Fina mau keluar sebentar, mau titip apa?" tanya Fina.
"Makasih, Fina. Terserah kamu saja, nanti tolong antar ke ruangan Om, ya." ucap Pak Arsan.
"Baik, Om." ucap Fina lalu pergi meninggalkan Pak Arsan yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Pak Arsan bukan tipe ayah yang selalu memaksa kehendak terhadap anaknya. Masalah jodoh, ia tak ingin ikut campur soal perasaan Adit.
Pukul dua siang, Fina masuk ke ruangan Pak Arsan. Membawa makanan yang dibeli di restoran depan kantor tadi.
"Ini makanannya, Om." ucap Fina menunduk hormat.
"Betah banget, Om. Adit baik banget sama Fina." ucap Fina memancing.
"Baguslah."
Tanggapan Pak Arsan tehadap Fina terlalu biasa, tapi Fina terus berusaha untuk mengambil hati pria paruh baya itu. Ia yakin, kalau bisa menaklukkan Pak Arsan, Adit akan lebih mudah ditaklukkan.
***
Pak Arsan dan Bu Niken sudah kembali ke Palembang lagi. Pagi ini Adit akan makan sendiri lagi dimeja makan. Waktu tiga hari belum cukup baginya untuk melepas rindu. Ia meminum susunya lalu beranjak dari meja makan.
Hari ini lagi-lagi ia tak bisa mengantar sang pujaan hati, karna pagi ini ia harus mempersiapkan segala sesuatu dikantor dan juga di pabrik, karna akan ada tamu dari pemda yang ingin melihat usaha tekstilnya.
Adit sudah mempersiapkan semuanya, tentunya dibantu oleh Fina sang sekretaris. Walaupun Fina selalu bermanja dengannya. Tapi untuk masalah pekerjaan, ia selalu cekatan. Tidak ada alasan untuk Adit menyingkirkannya.
Para pegawai berbaju batik biru itu sudah memasuki area pabrik, didampingi Adit dan juga Fina. Adit begitu lihai menjelaskan apa-apa saja yang ada dipabriknya. Pukul empat sore mereka baru pulang, untungnya insfeksi berjalan lancar. Nampak Fina sangat kelelahan hari ini.
"Dit, bisa antar aku pulang tidak?"
Adit mengiyakan permintaan Fina, tidak apa-apa kalau sekali. Lagipula, Fina memang sangat sibuk membantunya tadi.
Didalam mobil, Adit tak mengeluarkan sepatah katapun. Ia seperti menjaga jarak. Fina sesekali memandangi pria tampan disampingnya itu. Adit sungguh menawan, entah kenapa sampai saat ini, Fina tak bisa melupakan Adit. Bahkan, rasa ingin memilikinya bertambah besar.
Sadar dirinya diperhatikan terus, Adit menoleh Fina dan bertanya. "Kenapa, Fin"
"Dit, selama kita dekat. Kamu yakin, tidak ada rasa sedikitpun denganku?" tanya Fina.
Adit tersentak mendengar pertanyaan Fina. Ia menoleh gadis berambut pirang itu. Dulu saat mereka dekat, memang Adit merasa sayang dengan gadis disampingnya ini. Tapi entah rasa sayang itu hanya sebagai teman atau memang suka.
"Fin, aku memang sayang sama kamu. Tapi cuma sebagai teman, tak lebih. Tolong mengertilah. Kamu gadis yang cantik. Kamu bisa mendapatkan cowok yang lebih dariku." ucap Adit.
"Aku yakin, kamu belum sepenuhnya mencintai Rika." ucap Fina yang menggoyahkan hati Adit.
Sudah sepenuhnya kah ia menyayangi Rika? Mungkin belum seratus persen. Tapi saat melihat gadis lugunya itu, hatinya terasa senang.
"Kamu baru mengenalnya, apa mungkin perasaan tumbuh secepat itu?" tanya Fina.
"Kamu tau, cinta bisa tumbuh saat pandangan pertama. Tak butuh waktu lama untuk meyakinkan rasa." ucap Adit.
Fina hanya tersenyum palsu. Ia benar-benar harus bekerja keras untuk mendapatkan hati Adit.
"Terima kasih sudah mengantarku, Dit." ucap Fina saat melepaskan sabuk pengamannya.
"Sama-sama, tidak usah sungkan." Adit tersenyum. Sikapnya terhadap Fina memang selalu baik. Itulah yang membuat Fina tak bisa jauh darinya.
Selama ini, banyak sekali cowok-cowok yang tak kalah ganteng dari Adit mengejar Fina. Tapi hatinya sudah terlanjur terpikat dengan teman SMA nya itu. Bahkan dari dulu, ia sengaja mendekati Adit, berharap Adit akan terpikat dengannya. Tapi usahanya sia-sia, dari dulu Adit hanya menganggapnya sebagai teman biasa, walau selama ini sikapnya selalu spesial dimata Fina.
Fina membaringkan tubuhnya di sofa, terbesit pikiran licik diotaknya. Ia akan melakukan sesuatu pada Adit. Meskipun sampai sekarang ia belum bisa memikat Adit, tapi ia harus bisa memiliki Adit walau hanya satu malam.
Besok Adit ada jadwal pergi ke luar kota, untuk mengecek toko tekstilnya, mereka akan menginap di hotel untuk dua hari.