
Pak Arsan sudah berdiri didepan para pegawainya, ia akan mengenalkan Adit pada mereka. Setelah Pak Arsan berpidato singkat, ia mengumumkan siapa yang akan memimpin perusahaannya yang di Jakarta ini. Adit tampak mempesona dengan setelan jas hitam yang dipakainya, membuat para pegawai perempuan dikantor itu tergila-gila, ternyata anak bos mereka sangat tampan. Adit menundukkan kepalanya tanda hormat, ia mengucapkan salam perkenalan pada mereka.
Adit memasuki ruang kerjanya untuk pertama kali. Duduk dikursi itu, memulai semuanya. Ia meletakkan sebuah foto yang diambilnya saat makan direstoran bersama Rika beberapa waktu lalu, sudah dibingkainya. Yah, sekedar untuk melepas rindu pada gadis lugunya itu.
"Permisi..." seseorang masuk keruangan Adit, membawa beberapa map berwarna kuning.
"Pak Adit, ini ada berkas yang harus ditanda tangani." Erni memberi berkas itu pada Adit.
Adit lalu memeriksa berkas itu lalu menandatanganinya.
"Terima kasih." ucap Adit tersenyum pada Erni, membuat wanita berkacamata bulat itu meleleh seketika.
Suasana kantor menjadi hidup bagi perempuan yang ada disana, melihat wajah Adit sekilas saja, rasanya sudah terpesona.
Sudah pukul setengah dua siang, Adit bergegas keluar dari ruangannya, ia menyapa semua pegawai dengan ramah. Ia memanggil salah satu anak buahnya, memberitahu kalau ia akan keluar sebentar. Sandi pun mengangguk mengerti.
Mobil sport hitam itu melaju meninggalkan kantor, menuju kampus Street. Rika sedang berjalan ke arah mobil Adit, melambaikan tangan pada pria tampannya.
"Gimana hari ini?" tanya Adit.
"Lancar. Gimana juga hari pertama Kakak bekerja?" Rika balik bertanya.
"Yah... Seperti biasa. Nothing special." Adit menaikkan kedua bahunya.
"Semangat dong." ucap Rika tersenyum.
"Iyaaa." Adit memanjangkan ucapannya.
***
Malam ini hujan turun sangat deras. Adit berlari ke arah mobilnya, ia memaksakan diri untuk menjemput Rika. Tubuhnya menggigil, ia cepat-cepat menghidupkan mobilnya. Terlihat Rika sudah menungu didepan suermarket, saat mobil Adit sampai disana, Rika setengah berlari menghampirinya.
Dengan cepat ia membuka pintu mobil, melihat wajah Adit sudah berubah, bibir merahnya sudah menjadi pucat. Rika buru-buru membuka jaket yang ia pakai, lalu menyelimutkannya ke Adit.
"Kenapa maksain jemput?"
"Memangnya mau pulang sama siapa?" tanya Adit balik.
"Kan bisa pake taksi online. Nanti Kakak sakit loh."
"Tidak. Aku kuat kok." ucap Adi tersenyum. "Lagipula, mau sampai kapan aku lemah terhadap hujan." tambahnya.
"Jangan dipaksain, minumlah." Rika menyodorkan coklat panas yang ia beli sebelum pulang tadi. Ia tau kalau Adit pasti akan menjemputnya.
Adit meminum coklat panas itu, rasanya agak sedikit lega. Ia menoleh Rika, sekhawatir itu kah Rika padanya.
"Makasih." ucap Adit tersenyum.
Sepertinya trauma Adit terhadap hujan, perlahan-lahan membaik. Hanya diberi coklas panas oleh sang pujaan hati saja, rasanya sudah agak enakan. Ia segera melajukan mobilnya, rasa takut menyetir saat hujan pun tidak dirasakannya lagi.
"Ini jaketnya." Adit mengulurkan jaket tebal berwarna biru itu.
"Pakai aja Kak, kalau masih dingin."
"Tidak lagi kok, tapi kalau maksa ya sudah." Adit memakai kembali jaket itu. Rika hanya geleng kepala, ternyata Adit juga mempunyai sifat gaje, pikirnya.
***
Pagi-pagi sekali Rika sudah berada didepan warung, menunggu Adit menjemputnya. Ia sedang memegang kamera yang diberikan Adit, ia berniat untuk mendaftar ektrakurikuler fotografi di kampus.
"Kak Adit..." Rika menoleh Adit yang sedang menyetir.
Adit hanya menoleh.
"Aku bolehkan daftar ekstrakurikuler fotografi di kampus?"
"Loh? kok, gitu?" Rika mengecutkan raut wajahnya, ingin ia buang saja kamera ini.
"Kalau gitu aku kembalikan saja kameranya." Rika menyodorkan tas berwarna hitam itu.
Adit masih tak menggubris ucapan Rika, sebenarnya ia tak sanggup lagi menahan tawa. Tapi melihat gadis lugunya semakin bawel, memberi kepuasan tersendiri baginya.
"Kak Adit! Boleh, ya. Aku sudah lama mengimpikan ini, kalau tidak boleh, percuma saja Kakak memberikan kamera ini. Ini, ambil saja." Rika menoleh ke arah jendela. Ia benar-benar jengkel dengan kekasihnya itu.
Adit menepikan mobilnya didepan kampus Street. Ia sengaja mengunci mobilnya agar Rika tak langsung kabur, ia tau Rika sudah kesal dengannya, bisa dilihat dari wajahnya.
"Kak Adit buka pintunya, nanti aku telat." ucap Rika tanpa menoleh.
"Hey, lihat aku dulu." Adit memegang tangan Rika.
"Apaan sih Kak, cepat buka pintunya." Rika berusaha melepaskan genggaman Adit. Sekali lagi, tanpa menoleh.
"Makanya lihat dulu." ucap Adit masih menahan tawanya.
Dengan terpaksa Rika menoleh wajah ganteng dengan gaya rambut quiff yang menambah ketampanannya.
"Ini kameranya dibawa dong, katanya mau daftar ekskul fotografi. Maaf, aku tadi cuma bercanda kok. Habisnya lucu aja kalau lihat kamu banyak omong seperti tadi." ucap Adit tertawa pelan, merasa puas.
Rika terbelalak mendengar ucapan Adit.
"Tidak usah, ini kameranya bawa saja." ucap Rika menunduk.
"Bercanda, Sayang." ucap Adit lalu melempar senyum mautnya.
Rika langsung memeluk Adit. "Makasih Kak, jangan bikin aku gini lagi, aku kira beneran." Rika memukul belakang punggung Adit, tapi Adit membalas pelukan itu dengan lembut.
***
Fina sedang membujuk Mamanya untuk menelpon Bu Niken, agar ia bisa bekerja di kantor Adit. Tujuannya hanya satu, agar bisa terus bersama Adit.
"Ayolah Ma." Fina menggoyangkan tangan Mamanya yang sedang duduk menonton tv.
"Kamu ini, kenapa tidak kerja dibutik Mama aja sih." ucap Bu Rahma lalu meletakkan remote tvnya.
"Fina mau belajar mandiri Ma, gak manja lagi." ucap Fina.
"Sebentar Mama telpon Bu Niken dulu." Bu Rahma mengambil ponsel disampingnya.
"Halo, Bu Niken."
"Hai. . . Bu Rahma apa kabar?"
"Ahamdulillah baik, Bu Niken apa kabar?"
"Alhamdulillah baik juga Bu. Oh ya, tumben telpon, ada apa nih?"
"Gini Bu, Fina kan juga sudah lulus kuliah. Lagi nyari kerjaan, kira-kira di kantornya Ibu masih ada lowongan gak ya?"
Fina menoleh Mamanya, kenapa formal sekali.
"Bu Rahma ini kayak sama siapa aja, ada banget Bu. Kebetulan, Adit belum ada sekretaris dikantornya. Fina bisa kan?"
"Bisa sekali, makasih ya Bu Niken. Kapan-kapan main lah kerumah kami, udah jarang kan kesini." ucap Bu Rahma basa-basi.
"Iya Bu Rahma, kalau ada waktu saya kesana"
Fina berteriak histeris, mulai besok ia akan bekerja dikantor Adit. Bukan sekedar bekerja disana saja, melainkan akan selalu bersama Adit. Ia mengambil mobilnya, bergegas ke Mall untuk berbelanja perlengkapan untuk kerja besok. Ia akan berusaha mendapatkan hati Adit, meski bagaimanapun caranya.
Bu Niken sudah menelpon Adit, bahwa akan ada sekretaris baru untuknya besok. Adit hanya menurut saja, apapun yang diperintah kedua orangtuanya. Sekarang ini, ia memang membutuhkan seorang sekretaris. Tapi ia tidak tau kalau yang akan jadi sekretarisnya nanti adalah Fina.