Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 43



Kejutan yang di berikan Adit masih terngiang-ngiang di pikiran Rika, walaupun sudah berlalu. Ia masih membayangkan betapa romantisnya perlakuan Adit malam itu, semua dipersiapkan dengan sangat baik. Ia sangat beruntung, Adit membuat kejutan itu untuknya.


"Rika... Bangun, Nak." seru Bu Nur dari dapur.


"Iya, Bu." sebenarnya Rika sudah bangun dari tadi. Hanya saja badannya terasa berat untuk di gerakkan. Ia masih nyaman di tempat tidur.


Bu Nur sudah menyiapkan sarapan untuk Rika, sepiring nasi gemuk dan susu hangat. Rika juga sudah bersiap-siap, dan membantu Ibunya membawa barang ke warung. Setelah itu ia duduk di meja makan bersama Ibunya.


"Nanti pergi sama siapa, Nak?"


"Pakai motor sendiri, Bu." jawa Rika lalu meneguk susu hangatnya.


"Tidak di jemput Adit?" tany Bu Nur.


"Tidak Bu, masak di jemput dia terus." jawab Rika tersenyum.


"Iya Nak, tidak enak juga dilihat tetangga. Oh ya Nak, kamu yakin dengan Adit? Dia orang kaya Nak, sepertinya dia tidak bisa hidup seperti kita."


"Ibu tidak mau berpisah dengan kamu."


ucapan Bu Nur membuat Rika tersedak, kenapa Ibunya berpikir sejauh itu. Tapi semua yang di katakan Ibunya itu ada benarnya juga.


"Rika yakin Bu, tapi Ibu jangan berpikir sejauh itu dulu, Rika harus membahagiakan Ibu."


Bu Nur hanya menghela napasnya, ia juga tak bisa menghalangi cinta anaknya, Rika harus bahagia.


"Cepat habiskan nasinya Nak, nanti kamu kesiangan."


***


Jeni berlari kecil menghampiri Rika yang sedang berjalan di depan. Ia ingin bertanya sesuatu pada sahabatnya itu, biasa masalah percintaannya yang labil.


"Rika, tunggu!"


"Eh, Jen. Kenapa?"


"Gimana kabar dokter Verza?" tanya Jeni to the point.


"Hahaha dasar kamu ini, tiba-tiba langsung nanya kabar dokter Verza"


"Kenapa tertawa? Aku kangen tau sama dia." Jeni memejamkan matanya. Membayangkan wajah tampan Dokter Verza ketika menjabat tangannya.


"Aku tidak tau juga, Jen. Rumahku kan agak jauh dari rumah dokter Verza." jawab Rika.


Setelah pelajaran dengan pak Ilham selesai, dua sahabat itu menuju ke kantin untuk mengisi perutnya. Jeni sudah memegang dua tiket konser band ternama di Jakarta.


"Rik, nanti malam temani aku nonton konser


Band Deer, yuk." ajak Jeni.


"Aduh gimana ya, sebenarnya aku tidak suka keramaian seperti itu." ucap Rika sembari menghabiskan makanannya.


"Ayolah, Rik. Kumohon, ini band favoritku. Sekali ini saja aku janji." Jeni memberikan jari kelingkingnya pada Rika.


"Hmm, baiklah."


"Gitu dong, nanti malam aku jemput ya."


Hari ini Adit memang tak ada menemui Rika karna Adit memang sedang sibuk mengurus skripsinya, tapi kali ini ia tak bersama Fina lagi, ia takut kalau Fina melakukan sesuatu yang nekat lagi. Adit sedang berada di perpustakaan kampus, ia terlihat sangat sibuk membalik buku-buku yang ada di meja.


"Sendiri aja, bro?"


"Eh, Der. Iya nih lagi ngerjain skripsi. Gimana skripsimu?" tanya Adit.


"Belum juga sih bro, nyantai aja lah." ucap Deri lalu duduk di samping Adit.


"Denger-denger kamu sudah jadian ya sama si gadis cupu itu?"


Adit menghentikan kegiatannya, ia menatap Deri geram seperti hendak marah, ia tak habis pikir dengan Deri yang seeanaknya saja mengejek Rika di depannya. Deri memang salah satu orang yang sering mengerjai Rika waktu masa ospek dulu.


"Namanya Rika."


"Iya sorry bro, aku kan gak tau." ucap Deri menepuk punggung Adit.


"Kalau iya, kenapa?"


"Yang benar bro? Kenapa tipe kamu menurun drastis sih?" ucap Deri tersenyum seperti mengejek.


"Dari tadi kamu selalu mengejeknya, Der."


"Bukan gitu bro, aku ini temen kamu dari SMA. Yah, aku tau lah kamu gimana." ucap Deri lagi. Memang Deri dan Adit satu SMA dulu, bereka juga sudah berteman lama sampai masuk ke kampus Street ini.


"Iya, terus?"


"Yang aku tabrak itu Ayahnya Rika, aku ingin menebus kesalahanku saja sama Rika." jawab Adit lalu melanjutkan mengetik tugasnya.


"Serius! Jadi kamu hanya ingin menebus kesalahan kamu saja?"


Adit hanya tersenyum, ia tak menjawab pertanyaan yang dilemparkan Deri. Sepertinya ia sangat berat sekali berkata jujur dengan temannya itu, padahal ia sangat menyayangi Rika tapi kenapa dia masih saja gengsi untuk mengakui itu.


Minuman jeruk yang di bawa Rika tiba-tiba terlepas dari tangannya, air matanya tak terasa sudah membasahi pipinya, ternyata ia sudah dari tadi berdiri di balik pintu perpustakaan. Tadinya ia hendak memberikan minuman itu pada Adit, ia tau kalau Adit kelelahan mengerjakan skripsinya. Tapi hanya ucapan yang tidak mengenakkan hati saja yang dia dapat.


Adit menoleh ke arah pintu, ia melihat Rika sudah berlari. Adit mengusap wajahnya, Rika sudah mendengar obrolannya dengan Deri, ia merasa sangat bersalah pada gadis lugunya itu.


"Kenapa, Dit?"


"Tidak ada." jawab Adit singkat.


"Kenapa kamu jadi panik, seperti lihat setan saja." Deri kebingungan.


"Aku tinggal dulu ya, mau pulang." Adit lalu membereskan buku-bukunya dan juga laptopnya.


***


Rika berjalan menuju taman kampus, ia membeli sepuluh buah es krim dan memakannya, ia merasa es krim bisa memadamkan api yang membakar hatinya saat ini. Sungguh tega Adit berbicara seperti tadi, berarti selama ini Adit hanya kasihan padanya. Kalau hanya untuk menebus kesalahan, lebih baik tidak usah. Perasaan bukan untuk di mainkan seperti ini. Sebagai seorang perempuan normal, Rika tak bisa menyembunyikan rasa sakitnya.


Adit sudah tau dimana Rika berada, karna ia sudah hapal sekali kemana saja Rika pergi atau bersantai. Ia menuju taman kampus, benar saja gadis lugunya itu sedang duduk dan melahap es krim yang tinggal beberapa buah.


"Rika..." Adit lalu duduk di samping Rika.


"Kak Adit, kita sudahi saja hubungan ini. Aku menyerah aku tidak kuat lagi, aku ingin hidupku seperti dulu saja." ucap Rika memejamkan matanya.


"Jangan, Rika. Aku mohon maafkan aku." ucap Adit lalu mengelus rambut Rika. Tapi dihalau oleh Rika.


"Dari awal sudah kubilang, aku tak butuh di kasihani, aku memaafkan Kakak yang sudah menabarak ayahku, tidak usah menebus kesalahanmu lagi." ucap Rika lalu memejamkan matanya, hatinya terasa sakit sekali.


"Aku tau aku salah, tapi aku tulus menyayangimu." Adit menunduk, ia sangat menyesal dengan omongonnya tadi.


"Dek, maaf es krimnya belum di bayar kan tadi ya, Bapak mau keliling lagi soalnya." ucap Seorang penjual es krim pada Rika. Rika hanya mengambil es krim saja tanpa membayarnya. Saat Rika hendak membuka tasnya, Adit sudah membeyarnya terlebih dahulu.


"Berapa, Pak?"


"Seratus ribu, Dek."


"Memangnya berapa es krim yang dia ambil tadi, Pak?" tanya Adit heran, kenapa bisa semahal itu.


"Sepuluh, Dek."


Adit hanya menggeleng, ia lalu memberi uang berwarna merah itu pada penjual es krim. Rika memang tak bisa mengendalikan emosinya. Adit lalu mengahmpiri Rika, ia melihat Rika yang sudah sangat pucat akibat kebanyakan makan es krim.


"Sudah berapa es krim yang kamu makan?"


"Kak Adit, Kakak pergi saja dari sini. Aku mau sendiri saja." Rika mengalihkan pembicaraan, ia hendak membuka es krim yang ke sembilan, tapi di ambil oleh Adit.


"Kenapa di ambil!"


"Aku tanya sudah berapa es krim yang kamu makan?" Adit mengulangi pertanyaanya.


"Baru juga delapan." Rika lalu membuka es krim yang satunya lagi, tapi di ambil lagi oleh Adit.


"Jangan Ganggu hidupku lagi." ucap Rika menahan air matanya, perutnya terasa sakit sekali, seperti hendak muntah.


"Delapan? Sudah jangan di makan lagi, kamu memang tidak bisa menahan emosimu." ucap Adit lalu membuang es krim itu.


Rika memegangi perutnya, ia sangat mual.


"Kenapa?" tanya Adit panik.


Tanpa menjawab, Rika sudah mengeluarkan es krim yang baru saja ia makan dari mulutnya yang mengenai celana jeans Adit. Adit lalu menggosok punggung Rika.


"Kenapa kamu makan es krim sebanyak itu? Kan begini jadinya." ucap Adit, tangannya masih berada di punggung Rika.


Rika tak menggubris ucapan Adit, ia muntah lagi.


"Aduhh... Sakit sekali perutku." Rika memegangi perutnya yang membuat Adit semakin panik.


"Ayo aku antar ke dokter saja."


"Tidak usah, aku mau pulang saja." Rika lalu pergi meningalkan Adit. Adit hanya diam, ia hanya membuntuti Rika dari belakang, ia takut terjadi apa-apa dengan gadis lugunya itu. Ini semua memang salahnya, ia mengerti perasaan gadis lugunya itu.