Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 29



Adit pamit pulang pada Bu Nur, ia pulang dengan perasaan gundah. Cuaca malam itu sepertinya mendung, Adit sengaja membuka atap mobilnya ia tak peduli dengan gerimis yang perlahan menjadi sangat deras. Adit mulai kedinginan, tapi ia tetap tidak menutup atap mobilnya. Sesampainya dirumah, ia langsung memarkirkan mobilnya di garasi, ia bergegas ke kamar dan mengganti bajunya.


"Siapa pria yang bersama Rika tadi? Kenapa aku sangat kesal melihat mereka berdua?" Adit bertanya pada dirinya sendiri.


Rika sangat gelisah, ia tak mengerti dengan sikap Adit tadi, ingin sekali Rika menghubungi Adit, tapi ia tak berani. Rika menarik selimutnya, ia mencoba menutup mata dan melupakan semua masalahnya sejenak.


***


Rika sudah bersiap-siap berangkat kuliah, sesekali ia melihat layar ponselnya, ia berharap Adit mengabarinya, tapi tidak ada juga kabar dari Adit. Rika berinisiatif menelpon Adit.


"Halo, Kak Adit... "


"Halo... " sahut Adit dari seberang telpon.


"Emm... Kak Adit hari ini kuliah?" tanya Rika.


"Tidak Rika, aku tidak enak badan. Sudah dulu ya aku mau tidur." ucap Adit lalu menutup telponnya.


Rika sangat khawatir mendengar ucapan Adit, apalagi sikapnya kembali cuek pada Rika.


"Bu... Rika berangkat kuliah dulu ya." ucap Rika agak berteriak.


"Iya Nak, hati-hati." ucap Bu Nur sembari menyiapkan bahan dagangannya.


Sesampainya di kampus Rika berniat menemui temannya tak lain adalah Jeni. Mereka berduapun memasuki kelas yang di ajar Pak Ilham itu.


"Rika... " Pak Ilham mengamitkan tangannya. Rika berjalan ke depan.


"Selamat, tugasmu bagus sekali." ucap Pak Ilham menjabat tangan Rika.


"Terima kasih, Pak." ucap Rika, ia sangat senang sekali mendengar ucapan dosennya itu.


"Wow... Saaat bekerjapun nilaimu tetap bagus Rik, aku jadi heran." bisik Jeni pada Rika.


"Kamu juga pasti bisa Jen, asalkan jangan malas-malasan." ucap Rika menasehati teman kelasnya itu.


"Aku lihat hari ini kamu tidak bersama Adit, kemana dia?" tanya Jeni penasaran.


"Iya Jen... Semalam dia menjemputku, tapi sikapnya kembali cuek padaku." ucap Rika.


"Mungkin kamu berbuat kesalahan, Rik." ucap Jeni polos.


"Aku tidak merasa kok, Jen. Nanti aku coba jenguk dia." ucap Rika lagi, kebetulan hari ini Rika tidak bekerja.


"Apa jangan...jangan." ucap Jeni melirik Rika.


"Apa, Jen?" ucap Rika cemas.


"Tidak kok, Rik. Aku cuma mau bikin kamu cemas saja." ucap Jeni langsung tertawa melihat temannya itu kelihatan sangat panik.


***


Rika memencet bel rumah Adit, ia sudah membawakan nasi gemuk buatan Ibunya untuk Adit. Ia menggigit bibirnya, ia takut terjadi apa-apa dengan pria yang ia cintai itu.


"Cari Adit ya, Nak Rika?" seseorang membuka pintu.


"Eh iya, Bik." ucap Rika.


"Nak Adit ada di kamarnya, silahkan masuk Nak." ucap Bik Eli mempersilahkan Rika masuk.


"Terima kasih, Bik." ucap Rika tersenyum lalu menuju kamar Adit.


Rika membuka pintu kamar Adit, terlihat Adit sedang tertidur pulas, Rika langsung duduk di samping Adit, ia menaruh telapak tangannya ke kenig Adit.


"Badan Kak Adit panas sekali pasti di hujan-hujanan kemarin." gumam Rika.


Rika hendak mengambil air untuk mengompres kepala Adit, tapi Adit menahannya.


"Siapa pria yang bicara denganmu malam itu?" tanya Adit masih memejamkan matanya.


Rika mengernyit mendengar pertanyaan Adit, siapa yang Adit maksud. Adit lalu menarik tubuh Rika hingga menempel padanya, Rika menelan salivanya, jantungnya berdegup kencang.


"Katakan, Rika..." ucap Adit lalu membuka matanya.


Rika hanya tersenyum, ia merasa ada yang berbeda dari Adit, sepertinya Adit cemburu padanya. Mereka lalu duduk bersama di sofa kamar Adit. Rika menatap wajah Adit sembari menahan tawa.


"Tidak..." Adit memalingkan wajahnya.


"Jawab dulu pertanyaanku." tambah Adit, ia sungguh penasaran dengan pria itu.


"Dia...dia, pacarku." ucap Rika mencoba menjahili Adit.


"Oh ya! Siapa yang kamu bohongi, lalu siapa yang disampingmu ini?" Adit menatap wajah Rika sangat dekat sekali.


"Emm..." Rika sangat gugup dengan tatapan maut Adit.


"Dia itu atasanku di supermarket Kak Adit, namanya, Mas Devan." ucap Rika menjelaskan.


"Baguslah." ucap Adit tersenyum lega.


"Aku lapar Rika." tambah Adit, ia mau bermanja-manja dengan gadis lugunya itu.


"Sebentar ya Kak, aku ambil piring dan sendoknya dulu." ucap Rika lalu pergi ke dapur, ia heran dengan Adit tau saja apa yang dibawa. Rika membuka bungkusan nasi gemuk itu lalu memberikannya pada Adit.


"Tanganku lemah." ucap Adit.


Rika hanya tersenyum, ia tau ini hanya akal-akalan Adit saja.


"Sini biar aku suapi." ucap Rika lalu menyuapi Adit.


"Buatan Bu Nur memang selalu enak


" ucap Adit memuji Ibu Rika.


"Iya dong, Ibunya siapa dulu." ucap Rika tersenyum.


"Iya tauuu..." Adit mencubit pipi Rika, ia sangat gemas dengan gadis lugunya itu.


"Kak Adit pasti kehujanan semalam?" tanya Rika.


"Sengaja, aku kesal dengan pria yang bersamamu malam itu." ucap Adit.


"Cemburunya berlebihan, kenapa membahayakan diri seperti ini." ucap Rika memarahi Adit.


"Pokoknya, kamu milikku." ucap Adit tersenyum.


"Lain kali jangan seperti itu lagi ya, Kak." ucap Rika lalu menyuapi nasi gemuk terakhir.


"Kak Adit... Kita sangat berbeda ya." ucap Rika.


"Maksudnya?" tanya Adit heran.


"Iya... Aku sangat suka hujan. Bahkan kata Ibu saat aku lahir, diiringi hujan." Rika menceritakan pada Adit. Adit hanya tersenyum.


"Lalu?" tanya Adit lagi.


"Aku sangat senang kalau hujan turun, tapi sekarang aku jadi khawatir kalau hujan turun." ucap Rika menunduk. Adit mengangkat dagu Rika, ia sangat senang mendengar perkataan Rika.


"Aku akan berusaha melawan traumaku." ucap Adit mengelus rambut Rika.


"Besok ajak aku keluar saat hujan deras, ya." permintaan Adit sangat tidak masuk akal.


"Tidak akan, Kak Adit ini ada-ada saja." ucap Rika bibirnya menjadi manyun mendengar permintaan Adit itu. Hari ini Adit tak henti-hentinya tersenyum, hatinya terasa hidup kembali semenjak kehadiran Rika di hidupnya.


"Kak Adit aku pulang dulu ya, aku mohon Kakak jangan hujan-hujanan lagi." ucap Rika yang sangat mengahawatirkan kondisi Adit.


"Kenapa buru-buru?" tanya Adit mencoba menahan Rika.


"Nanti Ibu khawatir denganku." ucap Rika.


"Ayo kuantar ke bawah." ucap Adit hendak berdiri, tapi Rika melarangnya.


"Jangan... Kak Adit istirahat saja ya." ucap Rika. Adit hanya menghela napasnya, sepertinya kali ini ia harus menuruti gadis lugunya itu.


"Hati-hati ya, Rika." ucap Adit, sebenarnya ia masih ingin bermanja dengan perempuan yang ia cintai itu.


"Iya Kak, semoga cepat sembuh dan jangan lupa minum obatnya." ucap Rika lalu berjalan keluar kamar Adit. Adit mengiyakan ucapan Rika.


Tepat pukul Empat sore Rika sampai di rumahnya, ia tak menyangka ternyata Adit cemburu padanya, ia menyapa Ibunya dengan wajah sumringah, Bu Nur sudah tau jika anaknya seperti itu.