Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 22



Tokk...tokk...


Rika mengetuk pintu rumah Adit, tapi tidak ada sautan, itulah yang membuat Rika malas kerumah orang kaya. Rika mencoba mengetuk pintu lagi.


"Permisi... Assalamualikum." Rika agak mengeraskan suaranya.


"Waalaikumsalam, sebentar" saut seseorang dari dalam rumah.


Bu Niken membuka pintu, ia bertanya pada Rika.


"Cari siapa, Nak?" tanya Bu Niken, rasanya Bu Niken sudah tidak asing lagi dengan wajah Rika.


"Kak Adit ada, Bu?" tanya Rika sopan, ia bingung siapa lagi Ibu ini, karna sebelumnya ia melihat perempuan di rumah Adit hanyalah asisten rumah tangga Adit.


"Oh kamu temannya Adit ya? Ayo silahkan masuk Adit ada dikamar." ucap Bu Niken sangat ramah.


Rika duduk di ruang tamu, sembari menunggu Adit di panggil oleh Bu Niken, ia melihat foto-foto yang ada disana, walaupun Rika sudah pernah kerumah Adit, tapi ia tak pernah melihat foto-foto itu karna ia tak begitu menghiraukannya. Matanya tertuju pada sebuah foto keluarga di sampingnya. Rika mengangguk seolah tau sesuatu.


Ternyata yang tadi Ibunya Kak Adit, batin Rika.


"Sudah datang." ucap Adit berjalan menuruni anak tangga.


"Iya Kak Adit, maaf mengganggu waktu istirahatnya." ucap Rika.


"Tidak apa-apa, Rika." ucap Adit lalu duduk di samping Rika.


"Itu tadi Mamaku, orangtuaku pulang untuk tiga hari ini." Adit menerangkan ke Rika.


"Iya Kak, sudah tau kok." ucap Rika tersenyum.


"Tau dari mana?" tanya Adit bingung.


Rika menunjuk foto yang ada disampingnya, Adit tersenyum. Bu Niken menghampiri mereka.


"Mau belajar bersama ya, mau Mama bikinin apa, Sayang?" Bu Niken bertanya pada Adit.


"Terserah Mama saja." ucap Adit tersenyum.


"Kamu mau Mama buatkan jus, Nak?" tanya Bu Niken lagi ke Rika.


"Tidak usah repot-repot, Tante." ucap Rika sangat sopan.


"Tidak usah panggil tante ya Nak, panggil Mama saja biar akrab." ucap Bu Niken. Rika langsung tersentak mendengar perintah Bu Niken. Adit hanya tersenyum melihat tingkah Rika.


"Ba...baik, Ma." jawab Rika gagap, ia berpikir kalau memanggil Bu Niken dengan sebutan Mama seperti mertuanya saja, ia menghayal terlalu jauh. Bu Niken pun pergi ke dapur menyiapkan cemilan untuk mereka.


"Ya sudah ayo ikut aku, kita ambil bukunya." Adit mengajak Rika menuju perpustakaan mininya.


Ini rumah atau istana, sungguh megah sekali, batin Rika.


"Rika, ini bukunya." tapi Rika tak menggubris ucapan Adit, ia masih kagum dengan ke mewahan rumah Adit.


"Rika..." panggil Adit lalu memegang pundak Rika, Rika terkejut.


"Kenapa diam saja?" tanya Adit heran.


"Ti...tidak kok, Kak Adit. Oh ini bukunya ya." ucap Rika mengambil buku itu ditangan Adit.


"Aku pamit dulu, Kak Adit. Terima kasih bukunya." ucap Rika hendak pergi.


"Kenapa buru-buru? Katanya hari ini gak kerja." Adit berusaha menahan Rika.


"Aku harus ke warnet Kak, mau ngerjain tugas ini." ucap Rika.


Adit hanya tersenyum heran, Rika sama sekali tidak minta bantuannya padahal Adit sangat berharap, karna Adit tak mau Rika bersusah payah ke warnet, ia mencegahnya.


"Kerjain tugasnya di sini saja, biar kubantu." ucap Adit menahan Rika.


"Yang benar Kak? Apa tidak menyusahkan." tanya Rika, dalam hatinya sangat senang sekaligus gugup juga akan mengerjakan tugas bersama pria yang ia kagumi.


"Iya Rika, mau ngerjainnya dimana, didekat kolam renang atau di balkon atas?" tanya Adit.


"Diatas saja, sekalian aku ambil laptop nya." ucap Adit.


Mereka pun menuju lantai dua rumah Adit, Rika menunggu Adit mengambil laptpop nya, lalu mereka berjalan menuju balkon rumah Adit. Rika sangat merasa nyaman dengan angin sepoi-sepoi dan melihat pemandangan indah dari atas bagus sekali untuk spot foto. Rika juga mempunyai hobi fotografi, tapi itu hanya impiannya waktu kecil dulu. Ia tau kalau impiannya akan sulit terwujud.


Adit membuka latopnya dan mulai mengerjakan tugas Rika. Rika yang duduk di samping Adit hanya diam saja.


"Sekarang, kita buat cover nya dulu." ucap Adit tak mengalihkan pandangannya. Rika hanya mengangguk menuruti apa yang di katakan Adit. Adit membaca buku-buku yang sudah dibawanya tadi dan juga menjelaskan pada Rika, tapi Rika tidak menatap laptop melainkan ia menatap wajah tampan Adit.


"Kamu mau yang bagaimana Rika?" tanya Adit lalu menoleh Rika, ia terkejut melihat Rika menatapnya lama, baru kali ini ia juga merasa gugup ditatap seperti itu.


"Ehem... Rika, kenapa melihatku seperti itu?" ucap Adit dengan nada agak berat.


"Kak Adit, hebat." ucap Rika lalu mengalihkan pandangannya ke arah laptop, ia melihat Adit yang sangat rapih dan cepat mengerjakan tugas Rika, tak lupa wajahnya yang sangat manis menjadi pendukung.


"Biasa saja Rika, tidak usah berlebihan." ucap Adit, ia mengukir senyumnya yang membuat Rika terhipnotis.


"Apa aku sedang bermimpi bisa diajarkan Kak Adit?" Rika membuat Adit tersenyum dengan pertanyaannya. Lalu Adit mencubit lengan Rika.


"Aww... Sakit, Kak Adit" ucap Rika spontan menampar pundak Adit. Lalu Adit membalas mencubit pipi Rika.


"Kenapa Kakak cubit lagi, sakit tau." ucap Rika


"Akan ku balas." ucap Rika lalu hendak mencubit pipi mulus Adit, tapi Adit mengelak dan memegang tangan Rika lalu terbaring di sofa dan ditindih oleh tubuh Rika. Suasana tiba-tiba menjadi hening, mereka saling bertatapan.


"Rika... Apa kamu mempunyai perasaan terhadapku?" tanya Adit yang masih menatap Rika. Rika yang terkejut mendengar pertanyaan Adit, ia hendak bangkit tapi Adit menahannya.


"Aku merasa nyaman didekatmu." ucap Adit lagi, Rika hanya diam tak bisa berkata-kata lagi.


"To...tolong lepaskan aku Kak Adit, nanti ada yang melihat." ucap Rika gugup.


Adit melepaskan genggamannya, lalu mereka kembali duduk di sofa.


"Kenapa Kakak bertanya seperti itu?" tanya Rika yang berpura-pura tidak tau.


"Tidak ada, lupakan." ucap Adit datar.


"Kak Adit... Jujur aku sangat mengagumi Kakak, aku juga tidak tau bagaimana perasaanku terhadap Kakak." ucap Rika lalu memegang tangan Adit. Baru kali ini dia berani berbicara dengan lembut dan menatap Adit.


"Hmm... Sudah lupakan, lebih baik kita selesaikan makalahmu." ucap Adit tersenyum.


"Jangan terlalu di pikirkan perkataanku tadi." tambah Adit.


Rika membalas senyum Adit, ia merasa sangat nyaman duduk di samping Adit.


Bu Niken membawakan cemilan dan jus jeruk untuk mereka.


"Sayang... Ayo dicicipi makanannya dan minum juga jus jeruknya." ucap Bu Niken menyuruh keduanya.


"Terima kasih, Tante. Kuenya enak." ucap Rika sembari mencicipi kue buatan Bu Niken.


"Panggil nya apa tadi?" tanya Bu Niken melirik Rika.


"Eh, iya, Mama." ucap Rika malu.


Bu Niken pamit ke bawah untuk melanjutkan pekerjaannya, Rika dan Adit pun meminum jus mereka.


"Ini makalahnya sudah selesai Rika, tinggal di print saja, mau ku antar?" tanya Adit.


"Tidak usah Kak, aku kan bawa motor lagi pula diluar mendung, nanti hujan." ucap Rika yang takut terjadi apa-apa pada Adit.


"Kamu khawatir sekali denganku." Adit meledek Rika.


"Siapa yang tidak perhatian dengan idolanya sendiri." gumam Rika.


"Apa? Aku tidak dengar." ucap Adit mencoba menggoda Rika lagi.


"Tidak ada, aku pamit dulu terima kasih banyak Kak Adit sudah membantu membuat tugas, kalau sudah di print nanti flashdisk nya aku kembalikan." ucap Rika.


Adit mengantar Rika menemui Bu Niken untuk berpamitan. Rika pulang dengan rasa senang dan juga berdebar setelah kejadian di balkon rumah Adit.