
"Dadahh..." Rika melambaikan tangannya ke layar ponsel. Ia baru saja mengakhiri video call dengan sang kekasih yang masih berada di negara dengan julukan Vietnam Rose itu.
Rika memeluk erat ponselnya, ia sungguh tak sabar menghabiskan bulan ini agar bisa bertemu dengan sang pujaan hati. Begitupun dengan Adit, ia juga tak tahan lagi menyudahi proyek besar ini. Tak sabar ingin memberikan kejutan pada Rika.
Sudah pukul tujuh pagi, Rika sudah rapih dengan kemeja biru kesukaannya. Ia juga sudah menenteng dua kantong besar berisi nasi gemuk buatan ibunya untuk dijual ke kampus, hitung-hitung untuk menambah penghasilan, pikirnya.
"Semangat ya, Nak. Terima kasih sudah mau bantu Ibu." Bu Nur mengelus pundak anak semata wayangnya itu.
"Iya, Bu." jawab Rika tersenyum.
Rika mencium punggung tangan ibunya. Ia berharap jualannya hari ini terjual habis dikampus nanti. Dengan penuh semangat ia berjalan menuju kantin untuk menitipkan nasi gemuknya.
***
Rika berhenti didepan taman kota sebentar sebelum pergi ke supermarket, ia sangat kelaparan setelah menghadapi beberapa kelas tadi. Ia sampai tak sempat makan lagi.
"Bang, bakso acinya satu."
"Saya juga." saut seseorang disamping Rika. Postur tubuh itu serasa tak asing bagi Rika. Ia seperti mengenal orang disampingnya ini. Rika mengambil baksonya dan duduk dikursi, begitupun dengan pria itu.
"Desembrika!" Pria itu menoleh Rika, ia sepertinya sangat mengenal Rika.
"Kak Sandi!" Rika tak kalah senang saat ia tau pria yang disampingnya ini adalah teman masa kecilnya dulu.
"Apa kabar? Sumpah, aku kangen banget sama kamu." ucap Sandi.
"Alhamdulillah baik, Kak. Kakak apa kabar? Terus kenapa bisa nyasar ke Jakarta juga? sekarang Kakak tinggal dimana? Sama siapa?"
Sandi menghitung pertanyaan Rika dengan jarinya. Rika memang tak pernah berubah dari dulu.
"Aku berasa kayak di wawancara."
"Aku ngekos disini, terus aku jadi supir pribadi. Yahh... Sembari mencari pekerjaan yang lebih baik." ucap Sandi.
"Oh gitu, gimana kabar uwak dikampung?"
"Yah begitulah. Sebenarnya aku pengen cerita sama kamu, tapi aku harus buru-buru jemput majikanku. Minggu besok aku kerumah kamu ya, mau ketemu sama Bibik. Udah bertahun-tahun gak pernah makan nasi gemuk buatannya lagi."
"Oke siap, aku tunggu. Awas saja kalo bohong."
"Siap bosku! Baksonya biar aku yang bayar." ucal Sandi dengan gaya sombongnya membuat Rika tergelak.
"Wahhh... Tampang-tampang baru gajian nih." ledek Rika.
"Tau aja." ucap Sandi tersenyum.
"Makasih abangku." Rika menepuk pundak Sandi.
"Minggu jangan sampai lupa ya!" teriak Rika yang sudah jauh meninggalkan Sandi. Sandi hanya membalas dengan anggukan. Merekapun sudah salin membagi nomor WA.
Sandi adalah teman masa kecil Rika. Waktu itu Rika masih duduk di bangku kelas tiga SD sedangkan sandi sudah menginjak kelas satu SMP. Kedekatan mereka berdua berawal saat Bu Ratna dan Bu Nur selalu pergi ke sawah bersama. Sebagai anak pertama dikeluarganya, Sandi selalu membantu ibunya membajak sawah. Waktu itu Rika juga selalu ikut ibunya ke sawah, setelah sekolah sorenya selesai. Karna ia takut sendirian dirumah. Pak Riyadi dulu bekerja sebagai satpam di pabrik triplek disana. Selain sekampung, mereka masih ada hubungan keluarga. Walaupun tidak terlalu dekat. Saat Bu Nur dan Bu Ratna menanam padi, Bu Nur selalu menitipkan Rika pada Sandi. Mereka selalu main bersama.
"Dari mana saja kamu?!" Fina sudah berdiri didepan kantor dengan raut wajah marah pada Sandi.
"Abis makan siang, Non."
"Kok lama?"
"Maaf, Non." Sandi menundukkan kepalanya.
"Ayo pulang!"
"Kenapa sudah pulang, Non. Bukannya jam empat sore nanti?"
"Kok kamu bawel, sih! Aku sudah izin dan kerjaan aku juga udah beres."
Padahal Fina izin karna kepalanya tiba-tiba merasa pusing sejak tadi pagi. Ia memaksakan kerja karna ia sangat malas melihat muka Pak Bima yang pulang jam empat subuh. Ia berpikir pasti Pak Bima masih ada dirumah.
Sandi membukakan pintu mobil untuk Fina. Ia melihat ada yang beda dari majikannya itu. Wajah Fina pucat sekali. Ia juga seperti tak ada tenaga.
"Non Fina kenapa? Sakit?" tanya Sandi pelan.
"Tumben peduli." ucap Fina ketus.
Selama ini Sandi memang tak pernah mau ikut campur urusan Fina dan keluarganya. Ia hanya fokus dengan pekerjaannya sebagai supir.
"Kita kerumah sakit, ya. Sebentar saya kabarin Bu Elvi dulu." Sandi menghentikan mobilnya, ia hendak menelpon mamanya Fina, tapi Fina melarang Sandi.
Sandi sangat terkejut, saat merasakan tangan Fina panas sekali, dengan refleks ia memegang kening Fina. Membuat si empunya tak kalah terkejut, ia merasa perhatian Sandi ini sangat istimewa.
"Badan Non Fina panas sekali. Ini gak bisa dibiarin, Non."
"Aku gak mau pulang dulu. Dirumah masih ada papa." ucap Fina.
"Jadi kita kemana? Non Fina harus cepat istirahat, biar gak tambah parah."
"Bawa aku ke kosan kamu."
Sandi seketika terdiam, ia teringat kamar kos yang sangat berantakan yang belum sempat ia bereskan tadi pagi. Bagaimana bisa ia membawa seorang perempuan ke kosannya. Tapi ia tak bisa menolak permintaan Fina.
"Aku mohon, izinkan aku istirahat di kosan kamu." ucap Fina.
"Iya, Non. Tapi kita harus ke apotek dulu." Sandi melajukan mobilnya menuju apotek.
Sesampainya dikosan, Sandi tidak memperbolehkan Fina masuk dulu. Ia meminta sedikit waktu untuk membereskan kosannya yang berantakan.
"Sandi cepat! Kepalaku sudah terasa mau pecah ini." ucap Fina yang sudah berada di depan pintu.
"Iya, Non. Ayo silahkan masuk." Sandi merangkul Fina masuk kedalam.
"Maaf, Non. Kamarnya agak berantakan."
"Tidak, kok."
Sandi hanya tersenyum mendengar ucapan Fina.
"Tapi ini berantakan banget." tambah Fina.
Sandi menghela napas, dalam kondisi seperti inipun, majikannya itu masih saja jutek.
"Berbaringlah, Non. Saya akan buatkan mie instan untuk Non Fina, biar bisa cepat minum obatnya."
Setelah memasak mie instan, Sandi membawanya ke kamar.
"Makanlah, Non."
"Ciri khas anak kosan banget." ledek Fina.
"Maaf, Non. Cuma ada ini. Tapi kalau Non Fina mau makanan lain, biar saya belikan."
Fina tersenyum geli melihat wajah Sandi yang tampak kecewa.
"Tidak, kok. Aku bercanda."
Saat tersenyum, Fina terlihat sangat manis dimata Sandi. Entah kenapa perasaan sayang tiba-tiba muncul dihatinya.
Fina sudah terlelap setelah minum obat tadi, ia sepertinya sangat kedinginan. Pelan-pelan Sandi menyelimuti wanita berambut pirang itu.
***
Malam ini Pak Arsan dan Bu Niken ada pertemuan dengan koleganya yang berada di Vietnam. Mereka bertemu di kedai kopi ternama disana. Pak Dakri juga membawa anak dan istrinya.
"Hai, Dit. How are you? Udah lama banget ya kita gak ketemu." ucap seorang gadis berambut panjang dan bertubuh langsing bak model menyalami Adit.
"Hai, Melo. Kabarku baik." ucap Adit tersenyum.
"Kebiasaan banget manggil namaku nanggung."
Melodi memang sudah mengenal Adit saat mereka ikut bimbel kelas tiga SMA dulu. Sebelum Melodi dan keluarganya pindah ke kota Hanoi.
Setelah sekitar satu jam pertemuan itu, mereka berpamitan. Melodi memberikan sesuatu pada Adit. Gelang berwarna hitam.
"Disimpan, ya. Buat kenang-kenangan."
"Makasih, ya." ucap Adit tersenyum.
Sebenarnya Melodi juga menaruh rasa pada Adit sejak awal pertemuan mereka dulu. Tapi Adit tak pernah meresponnya. Adit hanya menganggap Melodi sebagai teman biasa. Karna masa itu Adit tidak memikirkan apapun kecuali rasa bersalahnya terhadap orang yang pernah ia tabrak dulu.
Adit melihat suasana malam di ibukota Vietnam itu. Ia memegangi gelang pemberian dari Melodi. Gadis itu selalu bersikap manis padanya. Tiba-tiba ponselnya berdering.
Jangan tidur larut malam ya, Kak
Adit menghela napasnya, kenapa ia bisa melupakan Rika. Pikirannya seolah mengembalikan ingatan bersama Melodi dulu.