Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 66



"Aku lihat, kamu sudah jarang diantar kak Adit." Jeni menoleh sahabatnya yang sedang mengetik tugas itu.


"Aku bertengkar lagi." ucap Rika.


"Perasaan, kalian bertengkar mulu. Udah kayak suami istri aja. Banyak masalahnya." ucap Jeni diiringi tawanya.


"Tidak tau lah, Jen. Kemarin kak Adit ke luar kota, Fina hanya memesan satu kamar untuk mereka berdua. Coba kamu bayangkan, Jen."


"Wah, Rik. jangan menyuruhku membayangkannya, kamu tau kan pikiranku gimana." ucap Jeni.


Rika menjitak kepala Jeni, ia sudah bisa menebak jalan pikiran sahabatnya itu. Selalu negative thinking. Jeni hanya nyengir tak jelas, ia melihat kekesalan di raut wajah Rika.


"Biarkan dia menjelaskannya, Rik. Itu semua terjadi pasti ada alasannya." Jeni mencoba memberi solusi.


Jeni kembali memecah konsentrasi Rika yang sedang mengetik tugas dari pak Ilham.


"Sudahlah, Jen. Aku pusing, dari tadi tugas kita belum selesai nih." Rika mengalihkan pembicaraan.


Rika tak benar-benar berkonsentrasi kali ini. Ia jadi kepikiran ucapan Jeni beberapa menit yang lalu. Walaupun Jeni terlalu barbar dalam bicara, tapi ada benarnya juga. Selama ini, ia selalu terbawa emosi, butuh beberapa kali Adit harus menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


Ah, tapi kali ini Adit benar-benar kelewatan. Pikir Rika. Ia tak sanggup membayangkan foto yang dikirim Fina beberapa waktu lalu. Ingin sekali ia memutuskan hubungan ini. Tapi, rasa cintanya mengalahkan logika.


***


Sabtu ini Rika ada pertemuan dengan Street Photograph, mereka akan belajar trik pengambilan foto yang bagus. Setelah itu, Rika akan pergi ke makan bersama teman kerjanya, menerima ajakan Devan waktu lalu. Harusnya Rika libur hari ini, tapi tidak enak mengabaikan undangan istimewa anak pemilik Enjoymart itu. Lagipula saat ini ia tak ingin melihat wajah Adit. Padahal, Adit hari ini memaksa untuk bertemu.


"Bu, nanti Rika pulang agak malam, ya. Bos ngajak kami makan bersama di restoran samping supermarket." ucap Rika sembari mengancing tas selempangnya.


"Jam berapa?" tanya Bu Nur.


"Tidak lama, kok. Sekitar jam delapan malam, Rika pulang."


"Hati-hati ya, Nak. Jangan bikin Ibu khawatir." ucap Bu Nur lalu mengelus pundak anak semata wayangnya itu.


Rika memegang tangan lembut Ibunya, mengangguk pelan. Menuruti apa yang diucapkan orangtua tunggalnya itu. Ia segera berangkat ke kampus.


Pukul dua siang, Rika sampai di kampus. Terlihat Ferdi sudah duduk dengan laptop ditangannya. Ia sudah mengucapkan salam pada rekan se timnya. Rika buru-buru menghampiri mereka, meminta maaf pada sang ketua. Karna ia sudah tak disiplin untuk beberapa menit. Ferdi memaklumi itu, terlambat satu atau dua menit tak masalah baginya.


Sebenarnya, Rika berniat untuk mengembalikan kamera yang ia pegang saat ini dan keluar daru klub. Karna, kamera itu selalu mengingatkannya pada Adit, seolah foto pria tampan itu tersimpan abadi dimemorinya. Tapi ambisinya yang ingin menjadi fotograferlah yang membuat ia semangat untuk mengikuti kegiatan ini.


"Kalau dipikir-pikir, selama ini kak Adit selalu baik padaku. Tapi apa aku salah cemburu padanya?" ucap Rika lalu memasukkan kamera kedalam tasnya.


***


"Silahkan dimakan, guys." ucap Devan.


"Sama-sama. Makanlah sepuasnya." ucap Devan tersenyum pada para pegawainya itu.


Devan memang termasuk bos yang sangat royal, bukan kali ini saja ia memanjakan para kariawan tokonya. Ia juga sering memberi insentif pada kariawan yang rajin ataupun omset supermarket lagi melejit. Ia juga menganggap para pegawainya itu seperti teman biasa, tidak ada jarak. Lagipula ini adalah restoran miliknya juga, tak ada salahnya mentraktir anak buah.


Beberapa botol minuman soda sudah dipesan Devan. Semua menikmati, tak terkecuali Rika. Sepertinya dalam delapan orang itu, Rika yang paling banyak meminum minuman soda itu. Dari dulu ia memang suka sekali dengan minuman soda. Tapi ibunya selalu melarang Rika minum soda berlebihan. Karna setelah minum soda, ia mual dan memuntahkan semuanya. Itu sudah sering terjadi dulu, tapi Rika tak menghiraukan itu. Ia terus meminum soda sampai beberapa gelas.


"Rika, ayo makan. Dari tadi saya perhatikan kamu kalap minum air soda saja. Nanti sakit loh." ucap Devan yang sedari tadi memperhatikan gadis yang mirip adiknya itu.


"Iya, Mas. Soalnya saya suka sekali minum ini." Rika menuang satu gelas lagi.


"Jangan berlebihan, Rik." ucap Devan. Meli dan teman yang lainnya hanya melongo, kenapa Devan sangat perhatian sekali dengan salah satu kariawannya itu. Di samping iri, Meli juga menaruh curiga pada Rika.


Pukul tujuh malam, mereka keluar dari restoran itu, tiga orang cowok sudah pulang duluan. Lima lainnya termasuk Rika masih berdiri di parkiran. Sibuk menghias diri, walau sudah malam begini dan juga posisi hendak pulang, mereka masih perlu untuk tampil cantik.


"Mau pulangpun kalian masih ribet sama rambut." ucap Rika tersenyum.


"Iyalah, siapa tau ketemu jodoh di jalan." celetuk Sintia.


"Sepertinya, Mas Devan selalu bersikap spesial terhadapmu." ucap Meli lalu memasang helmnya.


"Tidak juga, dia kan memang baik sama semua orang." elak Rika.


"Tapi perlakuannya padamu sedikit istimewa dari kami." Sintia menambahkan.


"Dia bilang, aku mirip sekali dengan adiknya yang sudah meninggal."


Meli hanya meng O saja, memang anak yang satu itu sangat ketus jika berbiacara. Tapi hatinya baik. Dulu waktu masih trainning, Rika diajar olehnya. Awalnya Rika memang merasa tak nyaman, tapi lama-lama ia sudah terbiasa denga pertanyan tajam yang seringkali ia dapat dari Meli.


Rika mencoba mengambil motornya, kepalanya sudah mulai terasa pusing dan perutnya juga mual. Efek kebanyakan minum soda tadi sepertinya sudah muncul. Kalau ibunya tau, ia pasti sudah habis di omeli. Saat seperti ini, ia hanya bisa menahan sakit. Karna kata ibunya, tidak boleh minum obat. Itu akan berbahaya.


Rika berusaha menahan rasa sakitnya, ia mencoba menghidupkan motornya. Saat hendak melajukan motornya, ia dicegat oleh seseorang tepat didepannya, ia hapal sekali dengan postur tubuh itu meski matanya tak fokus lagi. Sudah dua kali ia dicegat seperti ini. Apa Adit sudah ganti profesi, pikirnya.


"Rika, tolong dengarkan penjelasan..." Belum sempat Adit melanjutkan ucapannya, Rika sudah menyemburkan air soda dari mulutnya hingga membasahi kemeja hitam Adit. Bukan hanya kemeja saja, wajahnyapun juga kena. Tak hanya sekali, Rika beberapakali memuntahkannya. Wajahnya kini menjadi pucat pasi.


"Aku kebanyakan minum air soda." ucapnya menggigil.


"Ya ampun, kenapa bisa?" Adit mengibaskan tangannya yang juga basah.


"Ayo kita kerumah sakit." Adit menarik tangan gadis lugunya itu.


"Tidak, aku mau pulang saja."


Tanpa bicara, Adit langsung mengambil motor Rika dan memasukkannya ke dalam parkiran Enjoymart. Motor Rika akan aman disitu. Ia menarik tangan Rika masuk kedalam mobil. Ia tak mengerti dengan jalan pikiran gadis lugunya itu, selalu menyakiti diri sendiri seperti ini.