
Sandi langsung disuruh Pak Anto naik ke lantai dua rumah mewah itu. Ia juga sudah diberi alat untuk memperbaiki tirai. Sandi bergegas ke atas. Pelan-pelan ia mengetuk pintu kamar Fina. Tapi tidak ada jawaban, karna Fina sedang mendengarkan musik menggunakan earphone ditelinganya.
"Permisi, Non Fina." Sekali lagi Sandi mengetuk pintu kamar.
Fina membuka pintu, ia menyuruh Sandi masuk. Alangkah terkejutnya Sandi melihat keadaan kamar nona mudanya itu. Seperti habis perang, berantakan sekali. Pecahan guci berserakan, tirai disetiap jendela runtuh.
Apa dia sudah gila? Jangan sampai aku terjebak disini. Sandi cepat-cepat memperbaiki tirai yang rusak itu.
"Sekalian beresin beling yang berserakan ini!" perintah Fina.
Sandi hanya mengangguk. Tanpa disuruhpun ia akan membereskan semua ini, ia juga tak mau kalau nantinya Fina terluka karna beling ini, entah kenapa persaan khawatir itu tiba-tiba muncul.
Bik Sana sudah membawa kunci kamar. Ia berjalan menuju kamar Fina. Teringat perintah majikannya tadi, ia langsung mengunci kamar Fina. Ia tau sekali kelakuan Fina, cewek cantik itu selalu nekat. Fina tak peduli larangan orangtuanya.
Sandi sudah selesai memperbaiki tirai. Ia mengambil sapu dan pengki yang ada disudut kamar. Membersihkan pecahan guci yang berserakan. Tiba-tiba tangannya tergores beling itu. Untung saja Fina tak melihat, karna Fina sedang asik dengan laptopnya. Sandi mengelap darah yang mengalir di telunjuknya dengan kaos abu-abu yang ia pakai.
"Sudah selesai, Non. Saya permisi pulang dulu." Sandi hendak membuka pintu, tapi ditahan oleh Fina.
"Tunggu! Kamu bisa pasang tirai yang bener gak sih? Itu renda-rendanya miring."
"Maaf, Non." Sandi membongkar semua yang ia pasang tadi.
Sepertinya aku akan dikerjai lagi oleh perempuan ini. Ia melirik jam tangannya, sebentar lagi jam tiga. Ia harus segera pergi dari sini.
"Non, tolong lihat kerjaan saya, siapa tau ada yang Non Fina mau ubah lagi." pinta Sandi agar semua cepat selesai.
"Oh, beraninya kamu menyuruhku. Aku lagi sibuk sama kerjaan." Fina semakin kesal dengan Sandi.
"Sandiiii!"
"Ada apa, Non?" Sandi terkejut mendengar Fina berteriak.
"Kamu salah pasang, harusnya tirai yang sbelah kiri untuk yang kanan. Perbaiki lagi!"
Sandi sangat pusing dengan kehendak Fina. Padahal empat tirai kuning itu sama semua. Ia segera melepas semua tirai dan memasangnya sesuai keinginan Fina.
"Sudah selesai, Non. Mohon maaf saya harus pulang cepat, karna ada urusan lain."
"Urusan apa?! Mau ketemuan sama pacar kamu?" ucap Fina sinis, seperti tidak rela.
"Bukan, Non. Ada janji sama teman saya."
"Cewek?"
Sandi jadi heran, kenapa Fina bertanya sedetail itu padanya. Raut wajah Fina seperti cewek yang sedang curiga dangan pacarnya saja.
"Cowok, Non."
"Pergilah! Gajimu hari ini sudah aku transfer."
"Terima kasih, Non." Lumayan untuk tambahan ongkos bensin, pikirnya.
Sandi membuka pintu kamar, tapi tidak bisa. Ia sudah mencobanya berkali-kali. Tapi tetap saja tidak bisa. Ia menoleh Fina.
"Non, ini kenapa pintunya tidak bisa dibuka?"
"Dasar! Buka pintu aja gak bisa." Fina berdiri lalu mencoba membuka pintu kamarnya. Tidak bisa juga. Tiba-tiba ia teringat ucapan mamanya sebelum pergi tadi. Ini pasti ulah Bik Sana, pikirnya.
"Bik Sana mengunci kita dari luar."
Alangkah terkejutnya Sandi saat mendengar ucapan Fina. Sekali lagi ia melirik jam tangannya, sudah setengah empat sore. Pasti temannya sudah dijalan menuju kafe tempat mereka bertemu.
"Gimana ini, Non? Saya buru-buru. Saya mohon sama Non Fina, tolong telpon Bik Sana atau Pak Anto." Sandi memohon.
"Males, ah." Fina mendudukkan dirinya di sofa.
Sandi mencoba melihat jendela kamar, tapi sayang semua memakai teralis. Ia bersandar dipintu kamar dengan lemas.
Sandi menoleh kearah Fina, ia lalu berdiri.
"Yang benar, Non? Baiklah, Saya permisi." Sandi hendak berjalan kearah toilet kamar Fina. Sontak saja Fina berdiri dan melarang Sandi melakukannya. Ia tak akan tega melihat Sandi melompat dari lantai dua rumahnya.
"Jangan gila kamu. Kalau kamu mati, nanti aku yang masuk penjara."
"Gak akan mati kok, Non. Ini tidak tinggi kok."
"Oh kalau gitu aku juga akan lompat!" teriak Fina membuat Sandi menghentikan langkahnya. Ia kembali menyandarkan dirinya di pintu. Ia memohon pada Fina lagi supaya mau menelpon Bik Sana. Tapi tak digubris oleh Fina.
Sudah pukul empat sore, Sandi melihat ponselnya sudah banyak WA dari Toni temannya.
Dimana? Aku sudah bersama pak Yasni, nih. Kamu serius tidak sih mau masuk pabrik teh ini?
Sandi : Gimana kalau tunggu sebentar lagi? Aku akan segera kesana.
"Non, saya mohon." pinta Sandi pada Fina
"Berisik banget, orang lagi sibuk!" Sepertinya Fina memang senang melihat wajah gelisah Sandi.
Maaf, San. Aku udah deal sama pak Yasni. Kami sudah mau pulang sekarang. Kamu sepertinya tidak serius dengan kerjaan ini.
WA dari Toni membuat badan Sandi menjadi lemas. Hilang sudah kesempatannya untuk mendapat pekerjaan itu. Ia harus bertahan lagi menghadapi gadis yang bersamanya saat ini. Ia menundukkan kepalanya, melipat kedua tangannya. Fina jadi tidak tega melihat Sandi yang seperti orang putus asa. Tiba-tiba matanya tertuju pada Telunjuk Sandi yang mengeluarkan darah. Fina mendekati Sandi.
"Tangan kamu kenapa berdarah?" Fina memegang tangan Sandi, tapi Sandi buru-buru menyembunyikannya.
Sandi menghela napasnya. Menahan emosinya terhadap perempuan didepannya ini. Perempuan yang tidak ia sadari telah mencuri hatinya.
"Tidak apa-apa, Non."
"Sabantar aku telpon Bik Sana dulu, biar kamu bisa keluar dari sini."
"Terlambat." gumam Sandi.
"Apa kamu bilang?" Fina menoleh Sandi.
"Bukan apa-apa, Non." Sandi meringis menahan luka ditangannya.
Lagi-lagi, setelah puas melampiaskan kekesalannya terhadap Adit pada Sandi. Ia merasa kasihan melihat Sandi. Ia lalu membawa handsaplas dan obat merah untuk Sandi.
"Sini tanganmu." Fina menarik tangan Sandi yang terus mengeluarkan darah itu.
"Tidak usah, Non."
"Ini pasti kena beling tadi. Ini lumayan dalam, loh." Fina melihat baju Sandi yang merah, Sandi memang tak pernah mau bilang kalau dirinya terluka seperti ini.
"Kenapa kamu diam saja? Ini bahaya tau!" Dengan lembut Fina mengoles obat merah itu ke tangan Sandi.
Sandi hanya bisa termenung. Ia tak menggubris omongan Fina. Ia hanya memikirkan pekerjaannya yang melayang hanya karna tirai.
"Aww..." Sandi terkejut ketika Fina memencet bagian lukanya.
"Kamu, sih! Kenapa diam? Kamu marah ya sama aku?"
"Tidak, Non." Sandi mengibaskan tangannya.
Sebenarnya ia sangat marah pada Fina, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.
"Sini." Fina menarik tangan Sandi dan meniupnya dengan hati-hati. Seketika Sandi terdiam, ia tak mengerti dengan tingkah perempuan yang tak ia sadari telah mencuri hatinya. Sejuknya tiupan Fina ke tangannya, serasa sampai ke lubuk hati yang paling dalam.
"Sandi... Sebenarnya aku hanya butuh teman curhat. Aku cuma mau cerita sama kamu. Tapi kamu sepertinya tidak mengerti."
Sandi bingung dengan tingkah Fina. Kadang kasar sekali padanya, tapi kadang ia bisa sangat lembut dan kadang juga ia bersedih hingga Sandi tersentuh.
"Kalau Non Fina mau cerita, saya siap mendengarkan." ucap Sandi berusaha tersenyum. Mereka saling menatap disamping pintu kamar. Ada rasa yang berbeda.