Love In The Rain

Love In The Rain
BAB 65



Fina memang sengaja memesan satu kamar hotel dengan ranjang terpisah. Ia mudah saja memberi alasan ke Adit. Berbohong kalau sisa kamar di hotel tinggal satu.


Pukul tujuh malam, Adit masuk kedalam kamra hotel. Ia tidak tau kalau Fina juga akan tidur disana. Saat ia hendak membuka t-shirt nya Fina masuk begitu saja.


"Loh, Fin. Kenapa kamu kesini?" Adit buru -buru memasang bajunya lagi.


"Maaf, Dit. Kamar di hotel ini cuma sisa satu. Jadi, mau tidak mau aku harus tidur disini juga. Tenang aja, ranjangnya kan terpisah." ucap Fina menjelaskan.


"Kalau gitu, aku cari tempat penginapan lain saja." Adit hendak beranjak dari kamar itu. Dalam hatinya sangat kesal, kenapa ia tidak menghiraukan hal sepenting ini. Kalau Fina yang mengurus, pasti begini jadinya. Untung saja ia tak langsung menghubungi Rika. Sebelumnya, ia berniat mau video call dengan sang kekasih.


"Jangan tinggalkan aku, Dit. Diluar juga lagi hujan deras. Tetaplah disini." bujuk Fina.


Adit mengepalkan tangannya. Kenapa disituasi seperti ini, hujan malah turun. Ini semakin rumit, kepalanya sudah dipusingkan dengan pekerjaan yang akan dihadapinya besok. Malam ini ia pasti bakalan tidak bisa tidur nyenyak.


Adit memilih tidur di sofa dekat pintu. Matanya sangat berat sekali. Tugas-tugas sudah menanti besok. Sudah pukul dua belas malam, Fina terbangun dari tidurnya. Ia berjalan mendekati Adit. Fina melihat Adit yang sedang tertidur pulas. Pria itu sungguh menawan saat matanya terpejam. Fina duduk disamping Adit, ia perlahan mendekati wajah Adit. Saat ini otaknya sudah dikelabui dengan pikiran jahat.


Fina mengambil ponsel di saku piyamanya. Ia sudah mengambil beberapa foto. Ia sesekali mengelus wajah tampan itu. Seandainya saja ia bisa memiliki Adit sepenuhnya. Adit tiba-tiba memeluk Fina yang ada didekatnya. Merasa ada yang janggal, ia langsung membuka matanya.


"Fina!" Adit langsung duduk menjauhi Fina.


"Eh, Dit. Maaf, aku cuma mau selimutin kamu tadi."


"Fin, tolong menjauhlah."


"Dit..." Fina perlahan mendekati Adit. "... Aku hanya ingin bersamamu, walau hanya satu malam ini."


"Sadarlah, Fin. Ini bukan dirimu lagi." ucap Adit. Ia segera berdiri dan hendak keluar dari hotel. Ia tak peduli hujan sederas apapun diluar sana.


"Jangan pergi, Dit. Aku minta maaf." Fina memegang lengan Adit.


"Apa kamu sengaja memesan satu kamar untuk kita?" tanya Adit penuh amarah.


"Tidak, Dit." Fina menggeleng.


Suara petir sangat besar, hingga Fina refleks memeluk Adit.


"Aku mohon, Dit. Jangan pergi. Kamu tau kan, aku paling takut dengan suara petir."


Kali ini Fina tak berbohong, Adit tau itu. Karna sejak dibangku SMA saat hujan seperti ini, Adit selalu menemaninya. Adit mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar. Tapi ia menahan matanya agar tidak tidur. Takut Fina akan melakukan sesuatu lagi.


***


Rika sedang membantu ibunya di warung. Ini minggu terakhir ia libur. Besok ia sudah mulai kuliah lagi. Komunikasinya dengan Adit minggu ini terbilang jarang, karna jadwal Adit yang begitu padat.


Saat ia sedang asik memainkan ponselnya, tiba-tiba seseorang mengirim beberapa foto lewat WA. Rika membulatkan bola matanya, ia menggeleng melihat foto itu. Foto Fina dan Adit yang sedang tidur di sofa.


Malam ini adalah malam paling bahagia bagiku. Begitulah caption yang ditulis Fina.


Mereka satu kamar? Rika menggeleng tak percaya. Adit begitu tega padanya. Ia melempar ponselnya di meja. Kesal melihat foto yang tak pantas dilihat itu. Rika lalu beranjak dari kursi.


Sudah pukul dua siang, ia bergegas pergi ke supermarket. Ponselnya sengaja ia tinggal, ia tak mau kalau Adit menghubunginya. Butuh beberapa saat untuk melupakan foto yang dilihatnya tadi pagi.


"Besok lusa, mas Devan mau traktir kita makan di restoran Jepang, Rik." ucap Meli.


"Yang benar, Mel?" tanya Rika. Ia sama sekali tidak tau akan perihal ini.


"Iya, shift sebelah kan sudah. Kata mas Devan, ini hadiah untuk kita." ucap Meli.


"Kenapa aku tidak tau, ya?"


"Kamu kemana saja? Jadi, ikut tidak?"


"Boleh juga." ucap Rika tersenyum tipis.


Rika sedang membawa barang-barang ke belakang. Seseorang sudah berdiri di ambang pintu gudang.


"Rika..."


"Eh, Mas Devan. Ada apa?"


"Besok lusa ikut kita ya, makan direstoran sebelah supermarket." ucap Devan.


"Iya, Mas. Kirain, Mas Devan tidak mengajak saya." ucap Rika tersenyum.


Saat bekerja seperti ini, Rika bisa melupakan semua hal tentang Adit.


***


Sudah beberapa kali Adit menghubungi Rika, tapi tak kunjung diangkat. Ia sudah cukup pusing dengan masalah kantor dan Fina. Sekarang, malah Rika yang berulah. Ia membuka jas hitamnya dan melempar ke sembarang tempat. Menghempaskan badannya ke sofa. Hari ini sungguh melelahkan. Sesekali Adit memijat kepala sendiri. Pusing dengan sikap Rika yang seringkali ngambek tak jelas padanya.


Bik Eli membawa segelas teh hangat dan menaruhnya di meja. Ia melihat majikan mudanya itu sangat kusut tak karuan.


"Silahkan diminum, Nak."


"Terima kasih, Bik."


"Apa Nak Adit sudah minum obat?" tanya Bik Eli, ia khawatir jika Adit lupa lagi. Adit memang sering kelupaan mimum obat.


"Sudah, Bik."


Adit segera beranjak dari sofa, ia mengambil kunci mobil dan pergi ke rumah Rika. Tidak ada setengah jam ia membaringkan dirinya di sofa. Pikirannya sungguh kacau saat ini. Saat sampai dirumah Rika, hanya Bu Nur yang ada di warung. Ia tidak melihat gadis lugunya disitu.


"Assalamualaikum, Bu."


"Waalaikumsalam, Nak Adit. Mari duduk, ada apa?"


"Rika mana, Bu? Sudah beberapakali Adit menghubunginya, tapi tidak diangkat." tanya Adit.


"Rika kan kerja, Nak." Saat Bu Nur mengambil piring di meja dapur, ia melihat ponsel Rika tergeletak disana.


"Wajar saja tidak diangkat, hapenya ketinggalan." Bu Nur mengambil ponsel Rika.


Adit hanya diam. Masalahnya, dari semalam Rika tak mengangkat atau membalas WA darinya.


"Ya sudah kalau gitu Adit pamit pulang dulu, Bu." Adit mencium punggung tangan perempuan berkerudung biru itu.


"Tidak mau makan dulu, Nak?" tawar Bu Nur.


"Tidak usah, Bu." ucap Adit tersenyum.


Sungguh beberapa hari ini ia sangat lelah sekali. Lelah dengan pekerjaan, lelah dengan kelaukan Fina. Dan saat ini, ia di acuhkan oleh Rika. Tak sempat ganti baju, Adit lalu pergi menjemput Rika. Ia melihat dari kejauhan, Rika sedang keluar dari area parkir Enjoymart. Hatinya agak sedikit lega sudah bisa melihat gadis lugunya.


Adit mencegat Rika dijalan. Membuat Rika ngerem mendadak. Ia sangat geram dengan pengemudi mobil berwarna hitam itu.


Adit keluar dan mengambil kunci motor Rika, jaga-jaga kalau Rika ingin kabur lagi darinya.


"Kenapa tidak menjawab telponku?"


"Apaan sih, Kak. Main cegat, kayak polisi saja." ucap Rika kesal.


"Jawab aku, Rika."


"Kembalikan kunci motorku!" Rika hendak merebutnya dari tangan Adit.


"Tolong jangan seperti ini, aku lelah Rika. Aku sudah cukup dipusingkan dengan pekerjaan. Kamu malah seperti ini padaku." Adit menghela napas, mengatur emosinya. Seemosi apapun, ia berusaha tidak membentak kekasihnya itu.


"Dipusingkan dengan pekerjaan? Kakak kan sudah liburan ke luar kota kemarin."


"Aku kerja, Rika." bantah Adit.


"Memesan satu kamar untuk berdua, dan tidur bersama disofa. Itu kerja atau honeymoon?" Rika menunjukkan beberapa foto yang dikirim Fina.


"Rika kamu salah paham, aku bisa jelaskan."


"Menjelaskan apa? Kakak tampak menikmati." ucap Rika sembarang.


"Apa maksud kamu Rika." Adit mengambil ponsel ditangan Rika. "Aku tidak melakukan apa-apa. Aku juga tidak tau kalau dia mengambil foto itu."


"Sudahlah, tak perlu dijelaskan. Kembalikan ponsel dan kunci motorku."


"Aku mohon percayalah padaku." ucap Adit.


"Aku sangat kecewa denganmu." ucap Rika yang membuat Adit terdiam.


Rika bersikeras mengambil ponsel dan kunci motornya lalu pergi dari hadapan Adit.